A Cahya Legawa's Les pèlerins au-dessus des nuages

Obrolan ringan kita kali ini, karena saya tidak sengaja tadi pagi menatap layar televisi yang berisi hiburan gosip seputar kasus Eyang Subur dan santetnya. Salah satu narasumber – di luar apa yang dinyatakannya benar atau tidak – menyatakan bahwa salah satu keluarganya menjadi korban santet, sehingga dalam kista yang diambil ditemukan ada rambut dan gigi, hal ini tidak lain pastilah santet.

Saya sendiri sering mendengarkan hal-hal yang serupa, dan dengan malas saya mungkin menjawab, “yes, they are medically santet” – ya, mereka menderita santet secara medis. Menjelaskan logika medis pada mereka yang terlanjur percaya dengan hal-hal mistis adalah hal yang sering kali sia-sia, ketika tingkat edukasi tidak memungkinkan, selama dirasa aman dan tidak membahayakan, maka biarlah orang hidup dalam kepercayaannya.

Sama seperti kasus di atas, jika kista terdampat rambut dan gigi di dalamnya, maka serta merta masyarakat yang melekat pada kepercayaan mistis dan santet berpikir bahwa itu disebabkan oleh santet. Dan saya sendiri kadang bingung bagaimana menjelaskan suatu kista dermoid ataupun teratoma tanpa harus menjelaskan kembali prinsip-prinsip embriologi dan organogenesis pada masyarakat awam.

Kista Dermoid ataupun Teratoma bisa terdiri dari komponen apapun dalam tubuh manusia, bisa berisi gigi, tulang, mata, rambut, kulit, bahkan otak. Tapi sebagian masyarakat akan lebih suka menyebutnya sebagai hasil santet. (Sumber gambar: Tumblr)

Seperti bagaimana menjelaskan antara serangan gastritis akut atau diracun secara gaib. Seringkali kita tidak bisa mengubah kepercayaan yang sudah melekat pada seseorang tanpa meningkatkan pendidikannya, tanpa menjelaskan panjang lebar, tanpa membuang waktu yang lebih banyak percuma.

Tapi dunia tidak akan berubah jika kita tidak mengubahnya, jadi adalah bagian dari suka cita yang lebih besar jika bisa membuat orang lain memahami setidaknya sudut pandang yang lainnya. Saya tidak akan menyalahkan sudut pandang tentang kepercayaan masyarakat, tapi sering kali saya tidak bisa bekerja sama dengan klien ketika mereka menetap dengan sudut pandang tersebut.

Ya, dunia memiliki banyak sisi yang berbeda. Kita bisa memilih di mana kita akan berdiri dan membahwa pemahaman apa.

Artikel Baru Terbit

  • Gula Darah Tinggi yang Diam-Diam Merusak: Memahami Diabetes Melitus Tipe 2
    Diabetes melitus tipe 2 menyerang diam-diam—hanya satu dari 4-5 penyandang di Indonesia yang menyadari kondisinya. Artikel ini membahas patofisiologi resistansi insulin, kriteria diagnosis PERKENI, peran SGLT2 inhibitor dan GLP-1 receptor agonist dalam terapi terkini, serta kesenjangan akses pembiayaan JKN/BPJS terhadap golongan obat baru tersebut.
  • Empat Pembaruan Kunci Pedoman Malaria WHO 2026: Apa yang Berubah dan Apa Artinya bagi Indonesia
    WHO mengeluarkan pembaruan pedoman malaria pada September 2026, mencakup empat perubahan penting: pencegahan malaria pada ibu hamil dengan HIV, batas penggunaan primakuin dosis tunggal, formulasi baru artemether-lumefantrine untuk bayi <5 kg, serta peninjauan jadwal vaksin. Pembaruan ini relevan untuk Indonesia, khususnya Papua sebagai daerah berisiko tinggi.
  • Vaksin RSV untuk Ibu Hamil: Ketika Antibodi Ibu Jadi Perisai Pertama Bayi
    Vaksin RSV maternal (Abrysvo) terbukti menurunkan risiko penyakit saluran napas bawah berat pada bayi hingga 90% dalam 90 hari pertama bila diberikan pada minggu ke-28–36 kehamilan. WHO baru mengesahkan vial multidosisnya untuk memperluas akses global. Di Indonesia, vaksin ini sudah terdaftar BPOM namun belum masuk program nasional.
  • Guru di Garis Depan: Panduan Baru UNESCO, UNICEF, dan WHO untuk Menjaga Kesehatan Jiwa di Ruang Kelas
    Panduan baru UNESCO-UNICEF-WHO (2026) menegaskan peran guru dalam kesehatan jiwa sekolah: mempromosikan kesejahteraan, menyadari tanda distres, dan menghubungkan murid ke dukungan — tanpa mendiagnosis atau memberi terapi. Dengan I-NAMHS mencatat 15,5 juta remaja Indonesia mengalami masalah kesehatan mental, panduan ini relevan bagi UKS, PPKSP, dan sistem sekolah Indonesia.
  • Ketika Si Kecil Tiba-Tiba Sering Haus dan Berat Badannya Turun: Mengenal Diabetes Melitus Tipe 1
    Diabetes melitus tipe 1 pada anak Indonesia meningkat tajam dalam dua dekade terakhir, namun tujuh dari sepuluh kasus baru terdiagnosis setelah jatuh ke ketoasidosis diabetikum. Artikel ini membahas patofisiologi, kriteria diagnosis, lima pilar pengelolaan, teknologi CGM, imunoterapi teplizumab, serta konteks jaminan BPJS Kesehatan bagi penyandang DMT1.

Commenting 101: “Be kind, and respect each other” // Bersikaplah baik, dan saling menghormati (Indonesian) // Soyez gentils et respectez-vous les uns les autres (French) // Sean amables y respétense mutuamente (Spanish) // 待人友善,互相尊重 (Chinese) // كونوا لطفاء واحترموا بعضكم البعض (Arabic) // Будьте добры и уважайте друг друга (Russian) // Seid freundlich und respektiert einander (German) // 親切にし、お互いを尊重し合いましょう (Japanese) // दयालु बनें, और एक दूसरे का सम्मान करें (Hindi) // Siate gentili e rispettatevi a vicenda (Italian)

7 tanggapan

  1. Avatar Deddy Andaka

    Kadang tingkat pendidikan yang tinggi juga tidak menjamin “ketidakpercayaan” akan santet. Banyak yang mudah percaya dengan apa yang dilihat dan didengar. Sebagai dokter tugas kita memberi pemahaman ini, bukan untuk kontra, tapi berjalan “harmoni” untuk tujuan yang sama.

    1. Avatar Cahya

      DokterDeddy Andaka, kadang yang berada di luar kemampuan kita adalah memberikan pemahaman akan sesuatu yang berada di luar pemahaman kita.

      Saya sering kali harus minta maaf, bahwa hal-hal yang hendak diketahui oleh masyarakat di luar sudut pandang ilmiah dan medis, saya harus angkat tangan dalam penjelasannya.

      Harmoni itu sering kali bermakna, biarlah masing-masing berjalan pada ranahnya.

  2. Avatar alief

    kal;au saya sendiri antara percaya dan tidak bli.

    dan yang saya yakini sepenuhnya, ada dunia yang tidak dapat kita tangkap melalui panca indra ini, bahkan dengan peralatan modern sekarang.

  3. Avatar Fad
    Fad

    Tapi bli, g bisa juga kita g percaya, pada kenyataannya memang ada hal-hal seperti itu.
    Apalagi di daerah saya, Kalimantan, masih ada praktek2 seperti itu. Sebenarnya sayapun tidak mau mempercayainya. Tetapi pada kenyataan yang dilihat terkadang terlihat sangat nyata. Jadi percaya nggak percaya lah jadinya.. hehe

    1. Avatar Cahya

      Nah Mas Fad, itu kembali pada masing-masing individu :).

  4. Avatar Applausr
    Applausr

    jadi ada toh dok ya penjelasannya medisnya atas semua kejadian aneh aneh di dunia ini ya…

    1. Avatar Cahya

      Tidak semua tentunya :).

Tinggalkan Balasan

Eksplorasi konten lain dari Bhyllabus l'énigme

Langganan sekarang agar bisa terus membaca dan mendapatkan akses ke semua arsip.

Lanjutkan membaca