A Cahya Legawa's Les pèlerins au-dessus des nuages

Ketika berada dalam ruang pendidikan, yang disebut low-cost medicine atau obat-obatan dengan harga rendah adalah sesuatu keharusan. Obat-obatan adalah salah satu andalan dunia kedokteran untuk memerangi banyak penyakit yang menghantui peradaban manusia, pun demikian obat-obatan tidaklah adijaya, sehingga bisa menyelesaikan semua masalah.

Saya sedang membaca panduan NICE melalui SAMSUNG Galaxy Note II, saya menemukan ternyata panduan yang sama tentang pengobatan murah memang tidak berubah dan tetap diberdayakan. Sehingga, bukan obat-obatan mahal yang menjadi patokan, namun kembali pada kegunaannya dan harganya yang terjangkau.

Hanya saja, dalam praktek sehari-hari, tidak sedikit yang menolak obat-obatan murah, karena beranggapan bahwa obat-obatan murah tidak memiliki khasiat penyembuhan.

Panduan NICE untuk Hipertensi
Salah satu panduan menyatakan bahwa pasien selayaknya direkomendasikan jenis obat yang harganya terjangkau.

Dokter terikat oleh etika dan kemanusiaannya untuk tidak menambahkan beban kesehatan yang tidak diperlukan pada para pasiennya. Kedengarannya memang cukup bagus, yang menjadi perhatian, kondisi lapangan tidak akan selamanya mendukung hal ini.

Obat murah dan gratis, tapi tidak tepat sasaran akan sia-sia saja. Pengalaman nyata saya menunjukkan, dengan dibatasinya anggaran kesehatan, membuat dokter kesulitan memilih obat yang tepat guna. Pusat pelayanan kesehatan bisa saja diobral sebagai pusat layananan pengobatan gratis oleh pemegang kekuasaan, masyarakat bisa diperiksa dan diobati secara gratis. Terdengar nyaman memang, bahkan menjanjikan, sayangnya janji ya tinggal janji saja.

Untungnya sebagian besar masalah kesehatan di masyarakat sebenarnya tidak memerlukan obat-obatan, sehingga meningkatkan pola hidup bersih dan sehat sudah banyak membantu. Pun hal ini masih mendapat banyak tantangan dari kebiasaan (tidak sehat) masyarakat itu sendiri. Padahal kita tidak bisa sehat jika kita tidak membiasakan diri hidup sehat, hal ini sudah menjadi hukum logis yang semestinya bisa diterima banyak orang.

Akhirnya mereka yang sakit, lebih banyak karena kurang disiplin dan sisanya kurang beruntung, datang untuk pengobatan gratis atau murah. Sewajarnya kita memberikan obat yang paling murah dan efektif, nyatanya tidak selalu tersedia.

Saya teringat pernah mendapatkan satu keluarga menderita skabies, saya resepkan permethrin – ternyata tidak ada, lalu saya tanya apakah ivermectin atau krim lindane tersedia; saya malah balik ditanya oleh petugas yang menangani obat, “itu obat apa Dok? Pakai yang ada saja” – dia menambahkan.

Inilah yang susah di Indonesia, pengobatan murah itu memang tidak sama dengan pengobatan gratis. Saya lebih lega rasanya jika dibuat sebuah sistem di mana penyediaan obatnya tersedia lengkap, bukan sekadar “apa yang ada”, tidak perlu obat paten yang mahal, namun tetap tetap guna. Pasien tidak perlu berobat gratis, namun bisa menjangkau harga pengobatan itu. Sehingga tidak ada lagi istilah rumah sakit atau puskesmas pemerintah merugi karena melayani pengobatan gratis.

Pembatasan obat juga merupakan salah satu penyebab kegagalan sebuah pengobatan. Banyak orang yang membuat aturan bagaimana manajemen pengeluaran obat di pusat layanan kesehatan tidak paham bagaimana pengobatan itu sebenarnya berjalan. Kadang resep dokter bisa dipotong separuhnya untuk menutup kerugian dari pemberian obat gratis.

Maka kembali, jika saya diminta memilih antara pengobatan gratis yang serba dibatasi dan menjadi tidak efektif, maka saya memilih pengobatan yang tidak gratis tapi terjangkau namun tetap efesien dan efektif. Jadi orang-orang tidak akan meremehkan obat yang murah hanya karena harganya rendah, namun juga menghargai kesehatan dan pengobatan itu sendiri karena dia menggunakan hasil keringatnya untuk mendapatkan semua itu.

Artikel Baru Terbit

  • Mitos Pola Makan Vegetarian dan Vegan: Fakta di Balik Tren Nabati di Indonesia
    Delapan mitos seputar diet vegetarian dan vegan—dari kecukupan protein hingga risiko kanker payudara akibat kedelai—dibedah dengan bukti ilmiah terkini. Konteks Indonesia menunjukkan pola makan masyarakat sesungguhnya sudah didominasi pangan nabati seperti tempe dan tahu, sementara tantangan gizi nyata terletak pada keberagaman dan keseimbangan, bukan kategori diet semata.
  • Mitos Kesehatan Jiwa yang Masih Dipercaya: Membedah Stigma di Balik Fakta
    Mitos seputar kesehatan jiwa—dari anggapan bahwa gangguan jiwa langka hingga stigma “gila” pada skizofrenia—masih membebani masyarakat Indonesia. Data SKI 2023 mengungkap kesenjangan akses pengobatan yang lebar dan praktik pemasungan yang bertahan. Artikel ini membedah sebelas mitos populer dengan bukti ilmiah dan konteks kebijakan kesehatan jiwa nasional.
  • Berapa Jam Sebenarnya Kita Butuh Tidur? Lima Mitos yang Perlu Diluruskan
    Kebutuhan tidur bervariasi berdasarkan usia dan individu, bukan sekadar “8 jam”. Tubuh tidak dapat dilatih untuk butuh tidur lebih sedikit. Tidur siang singkat 10–20 menit justru bermanfaat. Tidak semua hewan tidur seperti manusia. Terlalu banyak tidur juga berisiko. Dan meski kurang tidur jarang membunuh langsung, microsleep akibatnya menewaskan ribuan orang di jalan Indonesia setiap tahun.
  • Gula Darah Tinggi yang Diam-Diam Merusak: Memahami Diabetes Melitus Tipe 2
    Diabetes melitus tipe 2 menyerang diam-diam—hanya satu dari 4-5 penyandang di Indonesia yang menyadari kondisinya. Artikel ini membahas patofisiologi resistansi insulin, kriteria diagnosis PERKENI, peran SGLT2 inhibitor dan GLP-1 receptor agonist dalam terapi terkini, serta kesenjangan akses pembiayaan JKN/BPJS terhadap golongan obat baru tersebut.
  • Empat Pembaruan Kunci Pedoman Malaria WHO 2026: Apa yang Berubah dan Apa Artinya bagi Indonesia
    WHO mengeluarkan pembaruan pedoman malaria pada September 2026, mencakup empat perubahan penting: pencegahan malaria pada ibu hamil dengan HIV, batas penggunaan primakuin dosis tunggal, formulasi baru artemether-lumefantrine untuk bayi <5 kg, serta peninjauan jadwal vaksin. Pembaruan ini relevan untuk Indonesia, khususnya Papua sebagai daerah berisiko tinggi.

Commenting 101: “Be kind, and respect each other” // Bersikaplah baik, dan saling menghormati (Indonesian) // Soyez gentils et respectez-vous les uns les autres (French) // Sean amables y respétense mutuamente (Spanish) // 待人友善,互相尊重 (Chinese) // كونوا لطفاء واحترموا بعضكم البعض (Arabic) // Будьте добры и уважайте друг друга (Russian) // Seid freundlich und respektiert einander (German) // 親切にし、お互いを尊重し合いましょう (Japanese) // दयालु बनें, और एक दूसरे का सम्मान करें (Hindi) // Siate gentili e rispettatevi a vicenda (Italian)

Tinggalkan Balasan

Eksplorasi konten lain dari Bhyllabus l'énigme

Langganan sekarang agar bisa terus membaca dan mendapatkan akses ke semua arsip.

Lanjutkan membaca