Berbasis Gnome 3, saya mencoba kembali melihat Budgie Desktop pada awal tahun ini. Apalagi setelah rilis versi stabil pertama dari Solus OS, membuat rasa penasaran pada Desktop Budgie terbuka kembali. Pertama kali mencoba Budgie Dekstop, kesan saya agak ringkih, namun masih dapat digunakan.
Menggunakan Budgie, terasa hampir sama seperti menggunakan Cinnamon – hanya saja dalam versi yang lebih sederhana. Tapi masalah eye candy memang terasa belum pas, atau mungkin karena saya tidak menggunakan Solus OS – tapi Antergos yang berbasis Arch. Ikon-ikonnya belum terkesan ‘konsisten’ – itu mengapa saya juga lebih banyak menggunakan Gnome Shell dibandingkan desktop jenis lain.
Tampilan dasar Budgie Desktop pada Antergos terbaru. Gambar diambil pada 5/1/2015.
Kesan menggunakan Budgie membawa saya seperti ketika menggunakan Windows XP dulu, atau KDE versi 3. Saya sendiri belum memeriksa seberapa banyak sumber daya (CPU, RAM) yang digunakan oleh budgie, tapi saya yakin cukup ringan – karena di mesin 1 GHz saja bisa berjalan tanpa masalah dengan membuka banyak tab pada Firefox dan Opera sekaligus.
Bagi yang memang menginginkan sebuah desktop yang ringan, saya rasa Budgie adalah salah satu pilihan yang tepat. Hanya saja, ada baiknya menggunakan pada Solus OS untuk mendapatkan dukungan langsung – tanpa perlu berpikir terlalu keras menerapkannya pada distribusi yang tidak asali membawa tipe dekstop ini.
Ulin suka menghitung segalanya, termasuk untung dan rugi. Di malam bersalju, tujuh batu penunggu di pinggir jalan mengajarinya sesuatu yang tak bisa dihitung.
Kemenkes mencatat 283 ribu kasus ISPA terkait karhutla, sementara BMKG memetakan asap di 26 provinsi. Apa artinya data ini bagi kesehatan, dan apa yang belum jelas?
Video Gubernur Bali dan petugas SPBU yang kelelahan di tengah krisis BBM mengingatkan kita: dalam kearifan Bali, pemimpin memegang tedung untuk rakyat, bukan berdiri di bawahnya.
Setelah WordCraft dkk, muncul ApexDesk, BetterOffice, dan ElixirOffice, sebagian ditulis bersama agen AI, plus Microsoft 365 yang mulai jalan di Linux lewat Bottles. Apa bedanya, dan apa yang perlu diwaspadai?
Bersin berulang, hidung gatal, dan pilek bening yang kambuh tiap pagi bisa jadi tanda rinitis alergi. Kenali pemicu, cara diagnosis, dan pilihan terapi menurut pedoman terbaru.
Commenting 101: “Be kind, and respect each other” // Bersikaplah baik, dan saling menghormati (Indonesian) // Soyez gentils et respectez-vous les uns les autres (French) // Sean amables y respétense mutuamente (Spanish) // 待人友善,互相尊重 (Chinese) // كونوا لطفاء واحترموا بعضكم البعض (Arabic) // Будьте добры и уважайте друг друга (Russian) // Seid freundlich und respektiert einander (German) // 親切にし、お互いを尊重し合いましょう (Japanese) // दयालु बनें, और एक दूसरे का सम्मान करें (Hindi) // Siate gentili e rispettatevi a vicenda (Italian)
udah nyoba budgie … utk Solus OS-nya tdk rekomended soalnya masih error ketika install …. tapi pas nyoba di laptop baru saya emang ringan … pas berniat pakai laptop jadul saya eh … kok lebih berat dari manokwari-nya BlankOn (tampilannya hampir sama) … lebih rekomended BlankOn dari SolusOS …
sebenarnya bukan linux-nya sih kata saya yg bikin tidak ramah. aplikasinya yang makin lama makin besar resource-nya 😀 .. web browser yg paling makan resource LOL
menurut saya tampilannya udah mantab. di solus OS masih plain … belom saya coba oprek karena sedang bulan madu dengan elementary os setelah selingkuh beberapa bulan dengan windows 10 hahaha
Tinggalkan Balasan