A Cahya Legawa's Les pèlerins au-dessus des nuages

Ketika saya mendengar bahwa ada pernyataan yang mengatakan ‘membakar hutan tidaklah merusak lingkungan hidup, karena masih bisa ditanam lagi’ – saya tidak tahu apakah harus menangis atau tertawa. Menangis karena sepertinya ada bagian yang luntur di negeri ini, yaitu kepedulian sejumlah orang akan fakta rusaknya alam negeri ini oleh bagian dari masyarakatnya sendiri. Tertawa mungkin karena saya yang begitu bodoh, masih bisa melihat orang bodoh lainnya yang tidak bisa melihat kenyataan jelas alam kita sedang rusak.

Kebakaran hutan kita di Indonesia, kita semua sudah tahu seperti apa. Data-data dan infografik mengenai ‘bencana’ ini bisa didapatkan dari mana saja. Jika tidak, bagaimana mungkin dinyatakan sebagai ‘bencana’.

Kita memiliki banyak aturan yang sudah menegaskan bahwa pembakaran hutan bukanlah tindakan yang tidak dapat dipidanakan. Saya bukan ahli hukum, tapi coba nanti jika sempat kita lihat kembali UU no. 41 tahun 1999 tentang Kehutanan pada pasal 50 (3), 78 (3, 4); UU no. 32 tahun 2009 tentang Perlindungan dan Pengelolaan Lingkungan Hidup pada pasal 69 (1-2), pasal 108; UU no. 39 tahun 2014 tentang Perkebunan pada pasal 56, pasal 108; KUHP pada pasal 187, dan 189.

Pembakaran hutan membawa kerusakan yang nyata bagi lingkungan, termasuk hancurnya kekayaan hayati yang terkadung di dalamnya. Tapi sebagai praktisi kesehatan, tentu saja yang menjadi perhatian saya adalah dampak kabut asap dari pembakaran hutan yang timbul bagi kita sendiri.

Permasalahan-permasalahan yang dengan iritasi pada permukaan tubuh, seperti pada kulit dan mata menjadi hal yang tidak dapat dielakkan ketika musibah kabut asap terjadi. Demikian juga dengan yang paling vital, yaitu masalah pada saluran napas, mulai dari peradangan akut pada saluran napas, hingga komplikasi yang lebih berat pada mereka yang memiliki daya tahan tubuh yang (sedang) lemah.

Jika kita sakit akibat perubahan lingkungan, maka bisa dikatakan lingkungan tersebut tidak lagi layak huni. Jika lingkungan tidak layak huni akibat ulah manusia, maka bisa dikatakan lingkungan tersebut telah rusak oleh ulah manusia.

Premis sederhana ini bagi saya adalah logika kita melihat bagaimana mungkin pembakaran/kebakaran hutan tidak merusak lingkungan hidup – ketika lingkungan yang kemudian muncul sebagai dampaknya, tidak layak digunakan sebagai tempat hidup yang sehat.

Artikel Baru Terbit

  • Siklotimia: Ketika “Naik-Turun Suasana Hati” Bukan Sekadar Karakter
    Siklotimia adalah gangguan mood kronis yang ditandai ayunan hipomania dan depresi ringan selama minimal dua tahun, sering disalahartikan sebagai kepribadian labil. Artikel ini membahas kriteria diagnostik DSM-5-TR, risiko berkembang menjadi bipolar, serta tata laksana yang menempatkan psikoterapi sebagai lini pertama sebelum farmakoterapi.
  • Buah Delima dan Jantung yang Kaku: Mengenal Urolithin A, Harapan Baru untuk Gagal Jantung HFpEF
    Urolithin A, senyawa yang dihasilkan dari konsumsi buah delima, menunjukkan potensi dalam mengobati gagal jantung HFpEF dengan memperbaiki relaksasi otot jantung melalui aktivasi protein PKGIα. Meskipun hasil uji pada hewan dan jaringan manusia menjanjikan, uji klinis pada pasien masih diperlukan sebelum penerapan terapi ini.
  • Cyclospora: Parasit Mikroskopis yang Mengintai di Balik Sayuran dan Buah Segar
    Wabah cyclosporiasis melanda ratusan warga Amerika Serikat pada musim panas 2026, disebabkan parasit mikroskopis Cyclospora cayetanensis yang mencemari sayur dan buah segar. Artikel ini mengulas biologi parasit, gejala diare “meledak-ledak”, tantangan diagnosis laboratorium, terapi TMP-SMX, hingga relevansinya bagi keamanan pangan dan kewaspadaan klinis di Indonesia.
  • Ngopi Pagi di Sragen, Otot Lebih Padat: Apa Kata Riset Terbaru soal Kopi dan Komposisi Tubuh?
    Studi kohort Finlandia menemukan bahwa peminum kopi rutin memiliki lemak viseral lebih rendah dan massa otot lebih tinggi meskipun indeks massa tubuh serupa dibanding peminum kopi jarang. Pada pria, konsumsi kopi juga terkait dengan profil testosteron dan SHBG yang lebih baik, namun studi ini bersifat observasional dan tidak membuktikan hubungan sebab-akibat.
  • Faktor Kesuburan Pria: Sisi yang Sering Terlewat dalam Pencarian Momongan
    Faktor pria berkontribusi pada sekitar separuh kasus infertilitas pasangan, namun sering luput dari pemeriksaan awal. Artikel ini mengulas standar analisis sperma terbaru WHO edisi keenam serta bukti terkini mengenai pengaruh rokok, alkohol, berat badan, paparan panas, dan konsumsi gula terhadap kualitas dan integritas DNA sperma.

Commenting 101: “Be kind, and respect each other” // Bersikaplah baik, dan saling menghormati (Indonesian) // Soyez gentils et respectez-vous les uns les autres (French) // Sean amables y respétense mutuamente (Spanish) // 待人友善,互相尊重 (Chinese) // كونوا لطفاء واحترموا بعضكم البعض (Arabic) // Будьте добры и уважайте друг друга (Russian) // Seid freundlich und respektiert einander (German) // 親切にし、お互いを尊重し合いましょう (Japanese) // दयालु बनें, और एक दूसरे का सम्मान करें (Hindi) // Siate gentili e rispettatevi a vicenda (Italian)

Tinggalkan Balasan

Eksplorasi konten lain dari Bhyllabus l'énigme

Langganan sekarang agar bisa terus membaca dan mendapatkan akses ke semua arsip.

Lanjutkan membaca