Jika dulu saya ditanya, mengapa saya suka menulis. Mungkin jawabannya karena suka. Tapi mengapa suka? Karena bisa menghilangkan stres. Bagaimana menulis bisa menghilangkan stres? Mungkin sama seperti menari, menyanyi, melukis, atau apapun yang kita suka – sesuatu yang kita suka akan menghilangkan tekanan dalam batin kita.
Seperti kabar gembira yang datang bertalu-talu, demikian-lah kekuatan setiap kata yang tertuang dalam dalam sanubari ketika kita menulis. Seakan memiliki saya yang tak kasat mata yang mampu membawa kita ke dunia yang baru dan sepenuhnya berbeda.
Malam dingin mungkin tidak berganti siang yang cerah ketika kita menulis. Tapi setidaknya membuat hati terasa hangat bukan? Seperti secangkir kopi yang diseruput nikmat di depan perapian musim dingin, maka seperti itu juga jiwa kita disirami oleh keajaiban-keajaiban yang tak lekang oleh waktu. Dan inilah kekuatan kata-kata yang tertuang dalam tulisan.
Mungkin setelah kita menjadi budak dari rutinitas, kita telah berada dalam sebuah siklus di mana kita lupa untuk ‘hidup’. Kita lupa bahwa kita melakukan rutinitas untuk hidup, dan bukan hidup untuk melakukan rutinitas.
Melupakan sesuatu hal yang begitu esensial membuat kita sakit merindu, namun rindu ini tak kunjung sembuh, sehingga memberikan kita beban. Sebuah tekanan khayal, yang semakin kita cari, kita semakin lupa. Dan kita kembali lari ke dalam rutinitas.
Menulis bagi saya adalah lepas dari belenggu rutinitas ini.
Saya tidak sedang menciptakan keajaiban melalui tulisan, namun saya menyukai tulisan sebagaimana saya menyukai kehidupan.
Dan karena itu, menulis adalah membahagiakan bagi saya. Menulis adalah membebaskan bagi batin saya.
Pada 17 April 2026, Menteri Kesehatan mengeluarkan Permenkes Nomor 5 Tahun 2026 yang mengatur perbekalan kesehatan. Regulasi ini mencakup produksi dalam negeri, pengendalian harga, dan transparansi, namun masih menghadapi tantangan implementasi. Kemandirian farmasi masih rendah, dengan ketergantungan pada impor dan ketersediaan obat yang tidak memadai.
Menteri Kesehatan menerbitkan Permenkes Nomor 3 Tahun 2026 untuk konsolidasi pengaturan penanggulangan penyakit di Indonesia. Regulasi ini mencakup penanggulangan penyakit menular, tidak menular, kesehatan lingkungan, dan kesehatan matra, serta menyusun kewajiban baru bagi fasilitas kesehatan. Tantangan implementasi masih ada, terutama terkait ambang batas GGL yang belum ditetapkan.
What if the size of a dream was never the point? Through a Javanese kite-maker’s parable and voices from Rumi to Marcus Aurelius, the Gita to the Dhammapada, this essay asks whether dreaming is less a destination than a form of breathing — one we must keep doing, gently, for as long as we wish to call what we’re living a life.
WHO merilis tinjauan tentang 18 senyawa PFAS prioritas yang mencemari makanan dan air minum, serta enam kategori efek kesehatan seperti kanker dan gangguan metabolik. Makanan menjadi jalur pajanan utama. Temuan ini menunjukkan perlunya Indonesia memperkuat pemantauan PFAS untuk meningkatkan keamanan pangan dan air minum.
Evaluasi terbaru oleh JECFA (2026) menunjukkan risiko arsenik dalam makanan tidak hanya terkait kanker, tetapi juga penyakit jantung pada dosis lebih rendah. Beras menjadi sumber utama paparan, termasuk di Indonesia, di mana data dari Sulawesi Utara menunjukkan melampaui ambang aman. Perlu ada langkah kehati-hatian dan pembaruan regulasi keamanan pangan.
Commenting 101: “Be kind, and respect each other” // Bersikaplah baik, dan saling menghormati (Indonesian) // Soyez gentils et respectez-vous les uns les autres (French) // Sean amables y respétense mutuamente (Spanish) // 待人友善,互相尊重 (Chinese) // كونوا لطفاء واحترموا بعضكم البعض (Arabic) // Будьте добры и уважайте друг друга (Russian) // Seid freundlich und respektiert einander (German) // 親切にし、お互いを尊重し合いましょう (Japanese) // दयालु बनें, और एक दूसरे का सम्मान करें (Hindi) // Siate gentili e rispettatevi a vicenda (Italian)
Tinggalkan Balasan