A Cahya Legawa's Les pèlerins au-dessus des nuages

Jika dulu saya ditanya, mengapa saya suka menulis. Mungkin jawabannya karena suka. Tapi mengapa suka? Karena bisa menghilangkan stres. Bagaimana menulis bisa menghilangkan stres? Mungkin sama seperti menari, menyanyi, melukis, atau apapun yang kita suka – sesuatu yang kita suka akan menghilangkan tekanan dalam batin kita.

Seperti kabar gembira yang datang bertalu-talu, demikian-lah kekuatan setiap kata yang tertuang dalam dalam sanubari ketika kita menulis. Seakan memiliki saya yang tak kasat mata yang mampu membawa kita ke dunia yang baru dan sepenuhnya berbeda.

Malam dingin mungkin tidak berganti siang yang cerah ketika kita menulis. Tapi setidaknya membuat hati terasa hangat bukan? Seperti secangkir kopi yang diseruput nikmat di depan perapian musim dingin, maka seperti itu juga jiwa kita disirami oleh keajaiban-keajaiban yang tak lekang oleh waktu. Dan inilah kekuatan kata-kata yang tertuang dalam tulisan.

Mungkin setelah kita menjadi budak dari rutinitas, kita telah berada dalam sebuah siklus di mana kita lupa untuk ‘hidup’. Kita lupa bahwa kita melakukan rutinitas untuk hidup, dan bukan hidup untuk melakukan rutinitas.

Melupakan sesuatu hal yang begitu esensial membuat kita sakit merindu, namun rindu ini tak kunjung sembuh, sehingga memberikan kita beban. Sebuah tekanan khayal, yang semakin kita cari, kita semakin lupa. Dan kita kembali lari ke dalam rutinitas.

Menulis bagi saya adalah lepas dari belenggu rutinitas ini.

Saya tidak sedang menciptakan keajaiban melalui tulisan, namun saya menyukai tulisan sebagaimana saya menyukai kehidupan.

Dan karena itu, menulis adalah membahagiakan bagi saya. Menulis adalah membebaskan bagi batin saya.

Artikel Baru Terbit

  • Indah di Mata, Perlu Ditimbang di Ruang Rawat: Bunga, Tanaman, dan Hiasan Dinding dalam Kacamata Pencegahan Infeksi
    Bunga segar, tanaman pot, bingkai, dan relief dinding mempercantik suasana ruang rawat, tetapi dapat menjadi reservoir mikroba, terutama bagi pasien dengan imunitas sangat rendah. Artikel ini menimbang bukti ilmiah terbaru, pedoman CDC, dan konteks Indonesia, lalu menawarkan kerangka zonasi yang praktis agar keindahan ruang dan keselamatan pasien dapat berjalan beriringan.
  • Virus untuk Melawan Kanker: Menimbang Kisah Virolog yang Menjadi Pasien Sekaligus Peneliti
    Seorang virolog Kroasia menyuntikkan virus campak dan virus stomatitis vesikular ke tumor payudaranya sendiri, lalu tumor menyusut dan dapat dioperasi. Kisah ini memicu perdebatan etika dan harapan baru bagi terapi virus onkolitik. Artikel ini menimbang bukti, keterbatasan, dan pelajarannya bagi Indonesia. Ini bukan anjuran mencoba sendiri, melainkan bahan refleksi klinis.
  • Ketika Kelamin Bayi Tak Sesuai “Buku Panduan”: Mengenal Differences in Sex Development
    DSD adalah kondisi kongenital ketika kromosom, gonad, dan anatomi seks seseorang tidak berkembang selaras—bukan gangguan orientasi seksual. Artikel ini mengulas klasifikasi, diagnosis, tata laksana multidisiplin, serta konteks Indonesia: keterbatasan data epidemiologi, stigma sosial, dan jalur hukum penetapan status kelamin lewat pengadilan sesuai UU Adminduk.
  • Ketika Diabetes Mengancam Penglihatan: Mengenal Retinopati Diabetik
    Retinopati diabetik adalah komplikasi mikrovaskular diabetes yang dapat merusak penglihatan tanpa gejala awal. Prevalensinya di Indonesia berkisar 10–32%, dengan satu dari empat pasien berisiko mengalami kondisi mengancam penglihatan. Skrining fundus rutin, kontrol glikemik ketat, serta terapi laser atau anti-VEGF menjadi kunci mencegah kebutaan akibat diabetes.
  • Ketika Diabetes Menjadi Kegawatdaruratan: Mengenal Ketoasidosis Diabetik
    Ketoasidosis diabetik adalah kegawatdaruratan metabolik diabetes melitus berupa trias hiperglikemia, ketonemia, dan asidosis, dipicu terutama oleh infeksi atau penghentian insulin. Tata laksana berpusat pada terapi cairan, insulin intravena kontinu, dan koreksi kalium, dengan pemantauan ketat untuk mencegah hipoglikemia, hipokalemia, dan komplikasi mengancam nyawa lainnya.

Commenting 101: “Be kind, and respect each other” // Bersikaplah baik, dan saling menghormati (Indonesian) // Soyez gentils et respectez-vous les uns les autres (French) // Sean amables y respétense mutuamente (Spanish) // 待人友善,互相尊重 (Chinese) // كونوا لطفاء واحترموا بعضكم البعض (Arabic) // Будьте добры и уважайте друг друга (Russian) // Seid freundlich und respektiert einander (German) // 親切にし、お互いを尊重し合いましょう (Japanese) // दयालु बनें, और एक दूसरे का सम्मान करें (Hindi) // Siate gentili e rispettatevi a vicenda (Italian)

Tinggalkan Balasan

Eksplorasi konten lain dari Bhyllabus l'énigme

Langganan sekarang agar bisa terus membaca dan mendapatkan akses ke semua arsip.

Lanjutkan membaca