A Cahya Legawa's Les pèlerins au-dessus des nuages

Film Assassin’s Creed adalah film yang saya tonton saat tahun baru kemarin di sinema. Awalnya hendak menonton Rogue One (Star Wars), namun yang ada ternyata hanya pada jam di mana kami tidak menonton bersama. Akhirnya, jadilah film yang dibintangi oleh Michael Fassbender yang kami tonton.

Saya tahu film bertema fiksi ilmiah dan fiksi sejarah ini diangkat dari permainan video dengan judul senama, namun karena saya tidak pernah memainkan video game-nya, jadi saya tidak memiliki harapan tertentu akan film yang satu ini.

Di sini dikisahkan tentang seorang keturunan dari ‘creed’ yang bernama Cal Lynch dan merupakan garis keturunan satu-satunya dari Aguilar yang merupakan anggota terakhir dari ‘creed’ yang mengetahui keberadaan sesuatu yang diinginkan oleh para Templar sejak dahulu kala. Dengan teknologi terbaru yang dimiliki Templar, mereka berusaha melacak ingatan Aguilar dari kode genetik Cal. Ini membawa Cal mengamati masa lalu di era Aguilar menjadi Assassin dan melewati pelbagai perang dan petualangan di era abad pertengahan.

Film ini menyuguhkan detail grafis yang menarik, mungkin sensasi menjadi nyata seperti ketika saya menyaksikan cuplikan ‘play teaser’ dari video game-nya. Mengingatkan saya ketika menonton Prince of Persia.

Sayang, jalan cerita agak sedikit monoton. Mungkin karena memang kebanyakan adaptasi dari video game demikian (kecuali yang seperti Final Fantasy). Jalan ceritanya juga terkesan tidak tuntas, namun ragu apakah kualitas jika ada lanjutan akan lebih baik? Sedemikian hingga, Anda mungkin akan mempertimbangkan untuk menonton di bioskop atau membeli Blue-Ray-nya. It is good, but it could be better – itu kesan saya.

Tapi setidaknya, ini tidak seburuk Suicide Squad, jadi Anda masih bisa mempertimbangkan untuk menontonnya ketika waktu luang.

Artikel Baru Terbit

  • Gula Darah Tinggi yang Diam-Diam Merusak: Memahami Diabetes Melitus Tipe 2
    Diabetes melitus tipe 2 menyerang diam-diam—hanya satu dari 4-5 penyandang di Indonesia yang menyadari kondisinya. Artikel ini membahas patofisiologi resistansi insulin, kriteria diagnosis PERKENI, peran SGLT2 inhibitor dan GLP-1 receptor agonist dalam terapi terkini, serta kesenjangan akses pembiayaan JKN/BPJS terhadap golongan obat baru tersebut.
  • Empat Pembaruan Kunci Pedoman Malaria WHO 2026: Apa yang Berubah dan Apa Artinya bagi Indonesia
    WHO mengeluarkan pembaruan pedoman malaria pada September 2026, mencakup empat perubahan penting: pencegahan malaria pada ibu hamil dengan HIV, batas penggunaan primakuin dosis tunggal, formulasi baru artemether-lumefantrine untuk bayi <5 kg, serta peninjauan jadwal vaksin. Pembaruan ini relevan untuk Indonesia, khususnya Papua sebagai daerah berisiko tinggi.
  • Vaksin RSV untuk Ibu Hamil: Ketika Antibodi Ibu Jadi Perisai Pertama Bayi
    Vaksin RSV maternal (Abrysvo) terbukti menurunkan risiko penyakit saluran napas bawah berat pada bayi hingga 90% dalam 90 hari pertama bila diberikan pada minggu ke-28–36 kehamilan. WHO baru mengesahkan vial multidosisnya untuk memperluas akses global. Di Indonesia, vaksin ini sudah terdaftar BPOM namun belum masuk program nasional.
  • Guru di Garis Depan: Panduan Baru UNESCO, UNICEF, dan WHO untuk Menjaga Kesehatan Jiwa di Ruang Kelas
    Panduan baru UNESCO-UNICEF-WHO (2026) menegaskan peran guru dalam kesehatan jiwa sekolah: mempromosikan kesejahteraan, menyadari tanda distres, dan menghubungkan murid ke dukungan — tanpa mendiagnosis atau memberi terapi. Dengan I-NAMHS mencatat 15,5 juta remaja Indonesia mengalami masalah kesehatan mental, panduan ini relevan bagi UKS, PPKSP, dan sistem sekolah Indonesia.
  • Ketika Si Kecil Tiba-Tiba Sering Haus dan Berat Badannya Turun: Mengenal Diabetes Melitus Tipe 1
    Diabetes melitus tipe 1 pada anak Indonesia meningkat tajam dalam dua dekade terakhir, namun tujuh dari sepuluh kasus baru terdiagnosis setelah jatuh ke ketoasidosis diabetikum. Artikel ini membahas patofisiologi, kriteria diagnosis, lima pilar pengelolaan, teknologi CGM, imunoterapi teplizumab, serta konteks jaminan BPJS Kesehatan bagi penyandang DMT1.

Commenting 101: “Be kind, and respect each other” // Bersikaplah baik, dan saling menghormati (Indonesian) // Soyez gentils et respectez-vous les uns les autres (French) // Sean amables y respétense mutuamente (Spanish) // 待人友善,互相尊重 (Chinese) // كونوا لطفاء واحترموا بعضكم البعض (Arabic) // Будьте добры и уважайте друг друга (Russian) // Seid freundlich und respektiert einander (German) // 親切にし、お互いを尊重し合いましょう (Japanese) // दयालु बनें, और एक दूसरे का सम्मान करें (Hindi) // Siate gentili e rispettatevi a vicenda (Italian)

Tinggalkan Balasan

Eksplorasi konten lain dari Bhyllabus l'énigme

Langganan sekarang agar bisa terus membaca dan mendapatkan akses ke semua arsip.

Lanjutkan membaca