Ada banyak metode untuk melakukan pencatatan dengan baik, termasuk dalam buku catatan kita. Baik pelajar maupun pekerja, sering kali akan memerlukan catatan. Catatan manual sering kali penuh, rusak atau hilang, sehingga tidak nyaman untuk digunakan. Sedemikian hingga, pilihan saat ini adalah untuk memindahkan catatan ke bentuk digital, tapi aplikasi mana yang akan digunakan?
Ada banyak sekali pilihan, misalnya Evernote, Google Keep, Dropbox Paper, SimpleNote, Joplin dan sebagainya. Tapi setelah mencoba beberapa di antaranya, saya memutuskan menggunakan OneNote.
OneNote pada Windows 10
Saya memilih OneNote karena beberapa alasan. Pertama, OneNote adalah aplikasi pencatat asli yang dikembangkan oleh Microsoft untuk Windows. Dulu OneNote tersedia bersama dengan Office 2016, namun pada Office 365 saat ini, OneNote sudah tidak disertakan, tapi bisa diunduh secara cuma-cuma sebagai UWP di Microsoft Store. Sehingga aplikasi ini gratis untuk digunakan.
Kedua, bisa diakses melalui ponsel cerdas dengan konten catatan yang tersinkronisasi melalui akses pencadangan awan. Pada sistem operasi lain, seperti Linux, aksesnya dapat melalui peramban.
Pengguna dapat menggunakan OneNote dengan tertata baik, seakan-akan saya sedang mengakses sejumlah catatan pada rak buku yang tertata rapi. Tentu saja ini bermakna, pengguna terlebih dahulu harus belajar menata catatan mereka secara rapi.
Tulisan ini menggambarkan bagaimana sejarah dipengaruhi oleh kekuasaan, membentuk narasi pahlawan dan penjahat. Ia menyoroti kompleksitas moral, bahwa individu bisa berperan dalam kejahatan atau pahlawan berdasarkan konteks. Penting untuk mengakui berbagai perspektif dan menahan diri dari menyederhanakan narasi demi pemahaman yang lebih mendalam tentang kemanusiaan.
Hari Keselamatan Pasien Sedunia 2026 fokus pada penyakit tidak menular dengan tema “Safe care for life!”. Penyandang penyakit kronis berisiko tinggi mengalami cedera akibat interaksi berulang dengan sistem kesehatan. Artikel ini menjelaskan pentingnya keterlibatan pasien dalam keselamatan layanan serta implementasi pesan WHO dalam konteks kesehatan Indonesia.
Diabetes melitus gestasional adalah gangguan toleransi glukosa yang muncul saat hamil, memengaruhi hingga 14% kehamilan secara global. Di Indonesia, kondisi ini sering luput terdeteksi karena keterbatasan data nasional. Skrining rutin usia 24–28 minggu, tata laksana nutrisi, dan pemantauan pascasalin jangka panjang menjadi kunci mencegah komplikasi ibu dan bayi.
WHO menerbitkan agenda riset global untuk pengobatan tradisional, komplementer, dan integratif (TCIM) dari 2025 hingga 2034, menyoroti kesenjangan antara tingkat penggunaan yang tinggi dan pendanaan riset yang rendah. Indonesia memiliki pengguna TCIM yang besar, namun belum menyusun komitmen riset formal seperti negara lain, membuka peluang baru untuk pengembangan.
Bayi baru lahir kerap menampakkan tanda yang mengkhawatirkan namun jinak — ruam berpindah, bersin, napas tak teratur — sementara tanda paling berbahaya justru nyaris tak terlihat: hipotermia, menyusu buruk, dan terlalu anteng. Artikel ini memetakan keduanya dalam tiga jalur keputusan, agar orang tua tahu kapan menunggu dan kapan berangkat.
Commenting 101: “Be kind, and respect each other” // Bersikaplah baik, dan saling menghormati (Indonesian) // Soyez gentils et respectez-vous les uns les autres (French) // Sean amables y respétense mutuamente (Spanish) // 待人友善,互相尊重 (Chinese) // كونوا لطفاء واحترموا بعضكم البعض (Arabic) // Будьте добры и уважайте друг друга (Russian) // Seid freundlich und respektiert einander (German) // 親切にし、お互いを尊重し合いましょう (Japanese) // दयालु बनें, और एक दूसरे का सम्मान करें (Hindi) // Siate gentili e rispettatevi a vicenda (Italian)
Tinggalkan Balasan