A Cahya Legawa's Les pèlerins au-dessus des nuages

Dunia internet memiliki jebakan mereka sendiri, salah satunya adalah trik konfidensi, menyasar pada mereka yang membutuhkan namun tidak terlalu memerlukan, sebuah perangkap yang disiapkan si penjebak sesuai dengan situasi latar korban. Dan kadang, jika tidak teliti, jebakan bisa memakan korban, tidak hanya pribadi, namun juga bisa jadi instansi atau badan usaha.

Tadi pagi saya kembali menerima jebakan macam ini, dan bagi saya mungkin sesuatu yang lucu – “memangnya gue bakal kejebak gitu?“, tapi mungkin akan menjadi pelajaran yang bermakna bagi orang lain. Biasanya belajar membuat kita bisa membedakan mana yang merupakan trik konfidensi atau dalam bahasa kerennya scam, dan tindak penipuan dengan trik ini atau scamming, serta pelakunya atau scammer.

Scam BKN
Sebuah trik konfidensi berupa surat elektronik yang masuk ke dalam kotak surat saya pagi ini.

Ketika saya melihat surat elektronik tersebut, secara sepintas saya bisa mengetahui bahwa itu adalah email penipuan. Bagaimana?

Pertama, coba lihat dari pengirim. Pengirimnya seolah-olah ingin memperlihatkan bahwa surat tersebut datang dari sebuah instansi resmi. Namun kesalahannya adalah tidak menggunakan domain instansi. Ayolah, instansi pemerintah memiliki domain resmi yang digunakan dalam transaksi elektronik, mengapa menggunakan domain gratisan? Ini hanya dilakukan oleh penipu yang kurang modal. Jangan lihat nama pengirimnya, mungkin saja pemilik nama itu ada, bahkan tidak jarang digunakan nama dari sosok yang memiliki kredibilitas, tapi kan belum tentu nama itu adalah nama pengirim yang sesungguhnya. Nama itu kemungkinan besar nama orang lain yang digunakan oleh penipu. Don’t trust the sender name, but trust the domain name more!

Lembaga resmi selalu menggunakan bahasa resmi, karena mereka memiliki aturan tata naskah dalam bersurat baik secara tercetak maupun elektronik. Mereka tidak diperkenankan mengirim surat hanya kosongan seperti itu dengan pernyataan yang tidak jelas. Ini adalah kesalahan kedua.

Kesalahan ketiga adalah ketika dalam pratampil lampiran, kop surat yang dihadirkan kembali tidak standar dan tidak sesuai dengan tata naskah. Tidak ada instansi manapun menggunakan kop seperti itu.

Salah satu dari tiga hal yang nyata dan sederhana itu saja sudah cukup membuat saya yakin, ini adalah penipuan. Dan ketiga-tiganya ada sekaligus, siapa yang akan tertipu coba? Saya bahkan tidak perlu melihat isi lampirannya.

Namun, agar tidak ada yang penasaran, saya akan cuplikan sedikit saja.

Anotasi 2019-10-16 190721
Cuplikan Lampiran Scam

Bagaimana isi lampirannya, tampak cukup meyakinkan bukan? Tapi jika kita kita perhatikan lebih detail lagi, yang sekilas cukup meyakinkan, banyak sekali celah yang menimbulkan keraguan? Saya tidak berbicara tentang tata bahasa Indonesia yang cukup ngawur digunakan di sebuah surat resmi, tapi beberapa detail tertentu yang menyatakan bahwa ini bukan surat asli.

Saya tidak akan membahasnya, lagi pula tidak perlu sampai sejauh itu, jika pengantar di depannya saja sudah bisa dipastikan palsu.

Tapi kenapa surat seperti ini bisa ada?

Ya, pastinya karena ada yang bisa tertipu bukan? Ibaratnya sama seperti kasus SMS “Mama atau Papa minta pulsa.” Ini juga sama saja, hanya bentuk dan sasarannya berbeda.

Penipuan penawaran pelatihan seperti ini tidak main-main, biaya yang raib bisa hingga jutaan rupiah jika terjebak. Dan jika rumah sakit sampai terjebak dalam mode trik konfidensial seperti ini, maka itu merupakan kerugian yang luar biasa.

Oleh karena itu, jika Anda berada di organisasi yang rawan menjadi sasaran trik konfidensial, maka Anda perlu selalu waspada, apalagi jika menempati posisi strategis. Jika Anda memiliki asisten yang membantu Anda berurusan dengan administrasi surat menyurat, pastikan dia memiliki kemampuan dalam menapis setiap bentuk penipuan semacam ini, jika surat seperti masuk ke organisasi dan sampai ke tangan Anda, bukannya itu hanya membuang waktu percuma untuk membacanya?

Jika menerima surat elektronik seperti yang berupa trik konfidensial, segera masukkan atau laporkan sebagai spam. Itu akan membantu membuat masa depan lebih nyaman.

Artikel Baru Terbit

  • Ketika Diabetes Mengancam Penglihatan: Mengenal Retinopati Diabetik
    Retinopati diabetik adalah komplikasi mikrovaskular diabetes yang dapat merusak penglihatan tanpa gejala awal. Prevalensinya di Indonesia berkisar 10–32%, dengan satu dari empat pasien berisiko mengalami kondisi mengancam penglihatan. Skrining fundus rutin, kontrol glikemik ketat, serta terapi laser atau anti-VEGF menjadi kunci mencegah kebutaan akibat diabetes.
  • Ketika Diabetes Menjadi Kegawatdaruratan: Mengenal Ketoasidosis Diabetik
    Ketoasidosis diabetik adalah kegawatdaruratan metabolik diabetes melitus berupa trias hiperglikemia, ketonemia, dan asidosis, dipicu terutama oleh infeksi atau penghentian insulin. Tata laksana berpusat pada terapi cairan, insulin intravena kontinu, dan koreksi kalium, dengan pemantauan ketat untuk mencegah hipoglikemia, hipokalemia, dan komplikasi mengancam nyawa lainnya.
  • Bukan Sekadar Pikun: Menyimak Pedoman Nasional Tata Laksana Demensia 2026
    Pedoman Nasional Pelayanan Klinis (PNPK) Tata Laksana Demensia 2026 memberikan panduan untuk penanganan demensia di Indonesia. Dengan jumlah penderita yang diproyeksi meningkat, pedoman ini mencakup diagnosis, penanganan, dan strategi pencegahan. Kaya akan rekomendasi medis, hal ini penting untuk memastikan perawatan yang efektif bagi pasien demensia.
  • Satu Kali Kejang, Lalu Apa? Membaca Pedoman Nasional Tata Laksana Epilepsi Dewasa 2026
    Kejang pertama pada orang dewasa tidak otomatis berarti epilepsi, tetapi tidak boleh diabaikan. Artikel ini merangkum Pedoman Nasional Pelayanan Klinis epilepsi dewasa 2026: cara membedakan kejang dari pingsan, pertolongan pertama yang benar, peran pemeriksaan penunjang, prinsip terapi, hingga tantangan stigma dan akses obat di Indonesia. Untuk awam dan tenaga kesehatan.
  • Sang Peniru Ulung yang Bisa Diobati: Membaca Pedoman Nasional Tata Laksana Sifilis
    Indonesia kini memiliki Pedoman Nasional Pelayanan Klinis Tata Laksana Sifilis (KMK 291/2026). Artikel ini merangkum stadium penyakit, alur tes serologi, terapi penisilin, tindak lanjut, penanganan pasangan, serta perlindungan ibu hamil dan bayi, disertai catatan kritis agar fasilitas kesehatan, dari Puskesmas hingga rumah sakit rujukan, siap menerapkannya dengan aman dan konsisten.

Commenting 101: “Be kind, and respect each other” // Bersikaplah baik, dan saling menghormati (Indonesian) // Soyez gentils et respectez-vous les uns les autres (French) // Sean amables y respétense mutuamente (Spanish) // 待人友善,互相尊重 (Chinese) // كونوا لطفاء واحترموا بعضكم البعض (Arabic) // Будьте добры и уважайте друг друга (Russian) // Seid freundlich und respektiert einander (German) // 親切にし、お互いを尊重し合いましょう (Japanese) // दयालु बनें, और एक दूसरे का सम्मान करें (Hindi) // Siate gentili e rispettatevi a vicenda (Italian)

Tinggalkan Balasan

Eksplorasi konten lain dari Bhyllabus l'énigme

Langganan sekarang agar bisa terus membaca dan mendapatkan akses ke semua arsip.

Lanjutkan membaca