A Cahya Legawa's Les pèlerins au-dessus des nuages

Fasilitas layanan kesehatan baik rumah sakit maupun puskesmas semakin dituntut dalam mengembangkan layanan yang bermutu. Untuk mencapai layanan yang bermutu, maka penyedia layanan harus tahu mutu saat ini ada di mana, dan berapa targetnya.

Apakah ada risiko dalam pelayanan yang dapat menganggu pencapaian mutu, maka risiko harus dihilangkan, dikecilkan, atau dimitigasi melalui program manajemen risiko. Termasuk risiko-risiko dalam keselamatan pasien.

Dundee Coronary Risk-Disk, Dundee, Scotland 1993 (diagnosis kit; cardiovascular) by Hugh Tunstall-Pedoe is licensed under CC-BY-NC-SA 4.0

Berikut adalah sejumlah materi diklat terkait manajemen risiko, keselamatan pasien, dan peningkatan mutu di Puskesmas.

  1. Program Manajemen Risiko di Fasilitas Layanan Kesehatan (lihat dan unduh)
  2. Melakukan Analisis Akar Masalah / Root Cause Analysis (lihat dan unduh)
  3. Mengerjakan FMEA (lihat dan unduh)
  4. Metode PDSA/PDCA (lihat dan unduh)
  5. Keselamatan Pasien secara Umum (lihat dan unduh)
  6. SKP – Melakukan Identifikasi Pasien dengan Benar (lihat dan unduh)
  7. SKP – Meningkatkan Komunikasi Efektif (lihat dan unduh)
  8. SKP – Pembedahan yang Mengutamakan Keselamatan Pasien (lihat dan unduh)
  9. SKP – Mengurangi Risiko Cedera Pasien Akibat Jatuh (lihat dan unduh)
  10. SKP – Meningkatkan Keamanan Obat Kewaspadaan Tinggi (lihat dan unduh)
  11. Pelaporan dan Investigasi Insiden Keselamatan Pasien (lihat dan unduh)

Dan berikut adalah sejumlah materi diklat yang terkait dengan program PPI (Pencegahan dan Pengendalian Infeksi):

  1. Pengantar PPI (lihat dan unduh)
  2. Kebersihan Tangan (lihat dan unduh)
  3. Kerangka Acuan Kerja PPI (lihat dan unduh)
  4. Kewaspadaan Isolasi (lihat dan unduh)
  5. Resistensi Antibiotik (lihat dan unduh)
  6. Surveilans PPI (lihat dan unduh)

Materi-materi di atas dapat diunduh, disunting, dan digunakan sesuai dengan keperluan pemateri diklat di fasyankes masing-masing (tidak perlu izin pembuat materi).

Catatan: jika tautan tidak dapat diakses, coba gunakan peramban Microsoft Edge baik di ponsel, tablet, maupun PC untuk mengakses.

← Kembali

Terima kasih atas tanggapan Anda. ✨

Rating(wajib)

Artikel Baru Terbit

  • Nutri‑Level: Ketika Segelas Boba Mulai Punya “Rapor” Kesehatan
    Kementerian Kesehatan Indonesia menerbitkan KMK Nomor HK.01.07/MENKES/301/2026 untuk mengatur label gizi pada minuman siap saji, dikenal sebagai Nutri-Level. Sistem ini bertujuan mengurangi konsumsi gula, garam, dan lemak berlebih, yang dapat menyebabkan penyakit tidak menular. Kebijakan ini diharapkan meningkatkan kesadaran konsumen dan mendorong reformulasi produk.
  • Ketika Angka Kasus HIV Tidak Menceritakan Seluruh Kisah: Menata Ulang Surveilans di Era Penyakit Lanjut
    Panduan konsolidasi WHO 2026 memperbarui definisi kasus HIV dan menambahkan indikator pemantauan penyakit HIV lanjut. Ini penting bagi Indonesia, yang memiliki 564.000 ODHIV, untuk mengevaluasi kesiapan SIHA 2.1 dalam mendukung pencapaian target eliminasi HIV pada tahun 2030, dengan data diharapkan lebih akurat dan terintegrasi.
  • Permenkes Perbekalan Kesehatan 2026: Antara Visi Kemandirian dan Realitas Akses Obat di Lapangan
    Pada 17 April 2026, Menteri Kesehatan mengeluarkan Permenkes Nomor 5 Tahun 2026 yang mengatur perbekalan kesehatan. Regulasi ini mencakup produksi dalam negeri, pengendalian harga, dan transparansi, namun masih menghadapi tantangan implementasi. Kemandirian farmasi masih rendah, dengan ketergantungan pada impor dan ketersediaan obat yang tidak memadai.
  • Permenkes Penanggulangan Penyakit 2026: Satu Payung Hukum, Berlapis Konsekuensi bagi Fasilitas Kesehatan
    Menteri Kesehatan menerbitkan Permenkes Nomor 3 Tahun 2026 untuk konsolidasi pengaturan penanggulangan penyakit di Indonesia. Regulasi ini mencakup penanggulangan penyakit menular, tidak menular, kesehatan lingkungan, dan kesehatan matra, serta menyusun kewajiban baru bagi fasilitas kesehatan. Tantangan implementasi masih ada, terutama terkait ambang batas GGL yang belum ditetapkan.
  • The Dream That Keeps Breathing
    What if the size of a dream was never the point? Through a Javanese kite-maker’s parable and voices from Rumi to Marcus Aurelius, the Gita to the Dhammapada, this essay asks whether dreaming is less a destination than a form of breathing — one we must keep doing, gently, for as long as we wish to call what we’re living a life.

Commenting 101: “Be kind, and respect each other” // Bersikaplah baik, dan saling menghormati (Indonesian) // Soyez gentils et respectez-vous les uns les autres (French) // Sean amables y respétense mutuamente (Spanish) // 待人友善,互相尊重 (Chinese) // كونوا لطفاء واحترموا بعضكم البعض (Arabic) // Будьте добры и уважайте друг друга (Russian) // Seid freundlich und respektiert einander (German) // 親切にし、お互いを尊重し合いましょう (Japanese) // दयालु बनें, और एक दूसरे का सम्मान करें (Hindi) // Siate gentili e rispettatevi a vicenda (Italian)

Tinggalkan Balasan

Eksplorasi konten lain dari Bhyllabus l'énigme

Langganan sekarang agar bisa terus membaca dan mendapatkan akses ke semua arsip.

Lanjutkan membaca