A Cahya Legawa's Les pèlerins au-dessus des nuages

ChatGPT ada fenomena AI yang meledak di akhir tahun yang lalu, membuat banyak orang melihat perubahan besar cara kita berinteraksi dengan mesin dan kecerdasan buatan (AI). Dilanjutkan hadirnya Bing Chat di peramban Microsoft Edge serta di aplikasi papan ketik SwiftKey di Android, yang membawa teknologi GPT4.

Harus diakui bahwa Google tertinggal jauh pada permulaan tren baru ini. Dan kini Bard hadir sebagai LLM dari Google untuk menantang ChatGPT (yang dibeking oleh Microsoft). Tapi seberapa bagus Bard?

Tidak seperti Bing Chat, Google Bard masih menyebut dirinya sebagai sebuah (proyek) eksperimen.

Perkenalan dengan Bard sederhana, kita bisa tahu bahwa dia adalah LLM yang bisa menghasilkan teks (tulisan) seperti puisi, kode, skrip, surat, dan lain sebagainya. Berbeda dengan Bing Chat yang tidak hanya bisa menghasilkan teks, namun juga citra.

Oke, itu tidak masalah. Seberapa baik luaran yang diberikan dari teks yang diproduksi oleh Bard?

Saya memberikan sebuah contoh kasus dalam manajerial kesehatan tentang insiden keselamatan pasien. Jawabannya bagus, standar textbook kalau bisa dibilang demikian. Saya tidak menemukan kekeliruan dalam jawaban singkat yang diberikan.

Saya juga memeriksa kemampuan lainnya berdasarkan contoh kasus yang masih sama. Yaitu menulis surat.

Saya meminta Bard menulis surat permintaan maaf kepada pasien dari pemilik apotek atas kejadian tersebut. Bard menulis surat dengan baik, singkat – padat – jelas. Yang cukup unggul di sini adalah Bard menyediakan tiga draf yang bisa kita pilih, yang mana yang lebih sesuai. Bing Chat tidak bisa melakukan ini pada konten teks (tapi bisa pada luaran konten gambar), sehingga Bard lebih unggul dalam hal ini.

Apakah Bing Chat memberikan hasil yang lebih baik? Itu harus dibandingkan kembali.

Bonus:

Skrip yang dihasilkan (draf ke-2):

<html>
<head>
<title>Safety Incident Reporting Flowchart</title>
</head>
<body>
<h1>Safety Incident Reporting Flowchart</h1>

<ol>
<li>Identify the incident.</li>
<li>Assess the severity of the incident.</li>
<li>Report the incident to your supervisor.</li>
<li>Complete an incident report form.</li>
<li>Investigate the incident.</li>
<li>Take corrective action to prevent the incident from happening again.</li>
</ol>

<h2>Identify the Incident</h2>

The first step in reporting a safety incident is to identify the incident. This includes determining what happened, when it happened, where it happened, and who was involved.

<h2>Assess the Severity of the Incident</h2>

Once you have identified the incident, you need to assess its severity. This will help you determine the next steps in the reporting process.

<h2>Report the Incident to Your Supervisor</h2>

If the incident is minor, you may be able to report it to your supervisor verbally. However, if the incident is more serious, you should report it in writing.

<h2>Complete an Incident Report Form</h2>

If you are required to complete an incident report form, be sure to include all of the relevant information. This includes the date, time, and location of the incident, as well as a description of what happened.

<h2>Investigate the Incident</h2>

Once you have reported the incident, it is important to investigate what happened. This will help you to identify the root cause of the incident and take corrective action to prevent it from happening again.

<h2>Take Corrective Action</h2>

Once you have identified the root cause of the incident, you need to take corrective action to prevent it from happening again. This may involve changing procedures, providing training, or implementing new safety measures.

</body>
</html>

Bard tidak membuatnya menjadi flowchart. Tapi kita bisa menyusunnya sebagai flowchart kemudian.

← Kembali

Terima kasih atas tanggapan Anda. ✨

Rating(wajib)

Artikel Baru Terbit

  • Ketika Angka Kasus HIV Tidak Menceritakan Seluruh Kisah: Menata Ulang Surveilans di Era Penyakit Lanjut
    Panduan konsolidasi WHO 2026 memperbarui definisi kasus HIV dan menambahkan indikator pemantauan penyakit HIV lanjut. Ini penting bagi Indonesia, yang memiliki 564.000 ODHIV, untuk mengevaluasi kesiapan SIHA 2.1 dalam mendukung pencapaian target eliminasi HIV pada tahun 2030, dengan data diharapkan lebih akurat dan terintegrasi.
  • Permenkes Perbekalan Kesehatan 2026: Antara Visi Kemandirian dan Realitas Akses Obat di Lapangan
    Pada 17 April 2026, Menteri Kesehatan mengeluarkan Permenkes Nomor 5 Tahun 2026 yang mengatur perbekalan kesehatan. Regulasi ini mencakup produksi dalam negeri, pengendalian harga, dan transparansi, namun masih menghadapi tantangan implementasi. Kemandirian farmasi masih rendah, dengan ketergantungan pada impor dan ketersediaan obat yang tidak memadai.
  • Permenkes Penanggulangan Penyakit 2026: Satu Payung Hukum, Berlapis Konsekuensi bagi Fasilitas Kesehatan
    Menteri Kesehatan menerbitkan Permenkes Nomor 3 Tahun 2026 untuk konsolidasi pengaturan penanggulangan penyakit di Indonesia. Regulasi ini mencakup penanggulangan penyakit menular, tidak menular, kesehatan lingkungan, dan kesehatan matra, serta menyusun kewajiban baru bagi fasilitas kesehatan. Tantangan implementasi masih ada, terutama terkait ambang batas GGL yang belum ditetapkan.
  • The Dream That Keeps Breathing
    What if the size of a dream was never the point? Through a Javanese kite-maker’s parable and voices from Rumi to Marcus Aurelius, the Gita to the Dhammapada, this essay asks whether dreaming is less a destination than a form of breathing — one we must keep doing, gently, for as long as we wish to call what we’re living a life.
  • PFAS di Meja Makan: Apa yang Diungkap Tinjauan Lanskap WHO tentang “Bahan Kimia Abadi” yang Kita Telan
    WHO merilis tinjauan tentang 18 senyawa PFAS prioritas yang mencemari makanan dan air minum, serta enam kategori efek kesehatan seperti kanker dan gangguan metabolik. Makanan menjadi jalur pajanan utama. Temuan ini menunjukkan perlunya Indonesia memperkuat pemantauan PFAS untuk meningkatkan keamanan pangan dan air minum.

Commenting 101: “Be kind, and respect each other” // Bersikaplah baik, dan saling menghormati (Indonesian) // Soyez gentils et respectez-vous les uns les autres (French) // Sean amables y respétense mutuamente (Spanish) // 待人友善,互相尊重 (Chinese) // كونوا لطفاء واحترموا بعضكم البعض (Arabic) // Будьте добры и уважайте друг друга (Russian) // Seid freundlich und respektiert einander (German) // 親切にし、お互いを尊重し合いましょう (Japanese) // दयालु बनें, और एक दूसरे का सम्मान करें (Hindi) // Siate gentili e rispettatevi a vicenda (Italian)

Tinggalkan Balasan

Eksplorasi konten lain dari Bhyllabus l'énigme

Langganan sekarang agar bisa terus membaca dan mendapatkan akses ke semua arsip.

Lanjutkan membaca