A Cahya Legawa's Les pèlerins au-dessus des nuages

Stunting adalah salah satu masalah kesehatan yang serius di Indonesia. Menurut data Riskesdas 2018, prevalensi stunting pada anak usia 0-59 bulan mencapai 30,8%. Stunting berarti tinggi badan anak rendah menurut usia dan jenis kelamin, yang disebabkan oleh kekurangan gizi kronis dan faktor-faktor lain yang memengaruhi pertumbuhan dan perkembangan anak.

Stunting tidak hanya berdampak pada fisik anak, tetapi juga pada kognitif, emosional, dan sosial. Anak yang mengalami stunting berisiko mengalami gangguan belajar, penurunan produktivitas, dan peningkatan risiko penyakit degeneratif dan gangguan reproduksi di masa depan. Oleh karena itu, stunting harus dicegah dan ditangani sejak dini.

Untuk membantu tenaga kesehatan dalam menangani stunting, Kementerian Kesehatan Republik Indonesia telah menerbitkan Pedoman Nasional Pelayanan Kedokteran Tata Laksana Stunting pada tahun 2022. Pedoman ini berisi tentang definisi, permasalahan, tujuan, sasaran, metodologi, hasil dan pembahasan, rekomendasi, dan kesimpulan terkait dengan tata laksana stunting pada bayi dan balita.

Pedoman ini juga menyajikan algoritme penentuan derajat rekomendasi berdasarkan bukti ilmiah, serta algoritme diagnosis dan tata laksana stunting berdasarkan tingkat pelayanan kesehatan. Algoritme ini dapat membantu tenaga kesehatan dalam mengidentifikasi, mengklasifikasikan, dan menentukan intervensi yang sesuai untuk anak yang mengalami stunting.

Beberapa intervensi yang dapat dilakukan oleh tenaga kesehatan untuk menangani stunting antara lain adalah:

  • Memberikan konseling gizi dan pemberian makan yang adekuat kepada ibu hamil, menyusui, dan anak.
  • Memberikan suplementasi zat besi, asam folat, vitamin A, dan zink kepada ibu hamil, menyusui, dan anak.
  • Memberikan imunisasi lengkap kepada anak.
  • Memberikan stimulasi psikososial kepada anak.
  • Memberikan terapi gizi medis kepada anak yang mengalami malnutrisi akut.
  • Memberikan rujukan dan tindak lanjut kepada anak yang membutuhkan pelayanan kesehatan spesialis.

Tenaga kesehatan juga harus melakukan pemantauan dan evaluasi secara berkala terhadap perkembangan anak yang mengalami stunting. Hal ini penting untuk mengetahui efektivitas intervensi yang telah dilakukan, serta untuk mengidentifikasi masalah dan hambatan yang mungkin terjadi.

Stunting adalah masalah kesehatan yang kompleks dan multidimensi. Oleh karena itu, penanganannya memerlukan kerjasama dan koordinasi antara berbagai sektor, seperti kesehatan, pendidikan, sosial, pertanian, dan lain-lain. Selain itu, peran serta keluarga dan masyarakat juga sangat dibutuhkan untuk mendukung upaya pencegahan dan penanganan stunting.

Mari kita bersama-sama berkomitmen untuk menangani stunting di Indonesia. Dengan demikian, kita dapat memberikan kesempatan yang lebih baik bagi anak-anak kita untuk tumbuh dan berkembang secara optimal.

Artikel Baru Terbit

  • Mitos Kesehatan Jiwa yang Masih Dipercaya: Membedah Stigma di Balik Fakta
    Mitos seputar kesehatan jiwa—dari anggapan bahwa gangguan jiwa langka hingga stigma “gila” pada skizofrenia—masih membebani masyarakat Indonesia. Data SKI 2023 mengungkap kesenjangan akses pengobatan yang lebar dan praktik pemasungan yang bertahan. Artikel ini membedah sebelas mitos populer dengan bukti ilmiah dan konteks kebijakan kesehatan jiwa nasional.
  • Berapa Jam Sebenarnya Kita Butuh Tidur? Lima Mitos yang Perlu Diluruskan
    Kebutuhan tidur bervariasi berdasarkan usia dan individu, bukan sekadar “8 jam”. Tubuh tidak dapat dilatih untuk butuh tidur lebih sedikit. Tidur siang singkat 10–20 menit justru bermanfaat. Tidak semua hewan tidur seperti manusia. Terlalu banyak tidur juga berisiko. Dan meski kurang tidur jarang membunuh langsung, microsleep akibatnya menewaskan ribuan orang di jalan Indonesia setiap tahun.
  • Gula Darah Tinggi yang Diam-Diam Merusak: Memahami Diabetes Melitus Tipe 2
    Diabetes melitus tipe 2 menyerang diam-diam—hanya satu dari 4-5 penyandang di Indonesia yang menyadari kondisinya. Artikel ini membahas patofisiologi resistansi insulin, kriteria diagnosis PERKENI, peran SGLT2 inhibitor dan GLP-1 receptor agonist dalam terapi terkini, serta kesenjangan akses pembiayaan JKN/BPJS terhadap golongan obat baru tersebut.
  • Empat Pembaruan Kunci Pedoman Malaria WHO 2026: Apa yang Berubah dan Apa Artinya bagi Indonesia
    WHO mengeluarkan pembaruan pedoman malaria pada September 2026, mencakup empat perubahan penting: pencegahan malaria pada ibu hamil dengan HIV, batas penggunaan primakuin dosis tunggal, formulasi baru artemether-lumefantrine untuk bayi <5 kg, serta peninjauan jadwal vaksin. Pembaruan ini relevan untuk Indonesia, khususnya Papua sebagai daerah berisiko tinggi.
  • Vaksin RSV untuk Ibu Hamil: Ketika Antibodi Ibu Jadi Perisai Pertama Bayi
    Vaksin RSV maternal (Abrysvo) terbukti menurunkan risiko penyakit saluran napas bawah berat pada bayi hingga 90% dalam 90 hari pertama bila diberikan pada minggu ke-28–36 kehamilan. WHO baru mengesahkan vial multidosisnya untuk memperluas akses global. Di Indonesia, vaksin ini sudah terdaftar BPOM namun belum masuk program nasional.

Commenting 101: “Be kind, and respect each other” // Bersikaplah baik, dan saling menghormati (Indonesian) // Soyez gentils et respectez-vous les uns les autres (French) // Sean amables y respétense mutuamente (Spanish) // 待人友善,互相尊重 (Chinese) // كونوا لطفاء واحترموا بعضكم البعض (Arabic) // Будьте добры и уважайте друг друга (Russian) // Seid freundlich und respektiert einander (German) // 親切にし、お互いを尊重し合いましょう (Japanese) // दयालु बनें, और एक दूसरे का सम्मान करें (Hindi) // Siate gentili e rispettatevi a vicenda (Italian)

Tinggalkan Balasan

Eksplorasi konten lain dari Bhyllabus l'énigme

Langganan sekarang agar bisa terus membaca dan mendapatkan akses ke semua arsip.

Lanjutkan membaca