Belakangan ini saya menemukan lebih banyak kasus demam dengue yang kemudian berakhir sebagai renjatan (syok) dan berdampak kematian. Demam berdarah dengue (DBD) cukup umum di Indonesia, terutama saat musim hujan. Kabar baiknya, sebagian besar kematian dapat dicegah bila tanda bahayanya dikenali tepat waktu.
Ringkasan
- Dengue disebabkan virus yang ditularkan nyamuk Aedes aegypti. Gejala awalnya mirip penyakit demam lain, sehingga sering terlambat dikenali.
- Fase paling berbahaya biasanya muncul saat demam mulai turun, sekitar hari sakit ke-3 sampai ke-7. Pasien tampak membaik, padahal kebocoran plasma bisa sedang terjadi.
- Segera ke IGD bila ada nyeri perut hebat, muntah terus-menerus, perdarahan, lemas berat atau gelisah, urin sangat sedikit, atau sesak napas.
- Di rumah: minum yang banyak, parasetamol untuk demam, hindari ibuprofen dan aspirin, dan periksa ulang sesuai anjuran dokter.
Satu ilustrasi: demam turun, tetapi anak justru memburuk
Ilustrasi fiktif untuk memudahkan pemahaman. Dimas (7 tahun) di Makassar demam tinggi sejak Senin. Rabu pagi demamnya turun dan ia mau bermain lagi, sehingga orang tuanya lega. Rabu sore ia mengeluh sakit perut dan muntah berulang, lalu tampak lemas. Inilah saat yang tepat untuk membawanya ke IGD, bukan menunggu esok hari. Penurunan demam yang disertai keluhan baru adalah sinyal bahaya, bukan tanda sembuh.

Tiga fase dengue
| Fase | Kapan | Yang terjadi | Yang perlu dilakukan |
|---|---|---|---|
| Demam | Hari 1–2 sampai sekitar hari 7 | Demam tinggi mendadak, sakit kepala, nyeri otot dan sendi, mual, kadang ruam | Periksa ke dokter, minum banyak, parasetamol |
| Kritis | Saat demam turun, sekitar hari 3–7, berlangsung 1–2 hari | Pasien tampak membaik, tetapi trombosit turun dan plasma dapat bocor; bisa muncul syok, perdarahan, atau gangguan organ | Waspadai tanda bahaya; segera ke IGD bila muncul |
| Pemulihan | Setelah fase kritis | Cairan yang bocor diserap kembali, nafsu makan dan tenaga membaik | Istirahat, tetap ikuti kontrol dokter |
Gejala awal
- Demam tinggi mendadak (sekitar 38–40 °C) selama 2–7 hari
- Sakit kepala, kadang nyeri di belakang mata
- Nyeri otot, tulang, dan sendi
- Mual dan muntah
- Ruam kulit
- Perdarahan ringan, misalnya mimisan atau gusi berdarah
Gejala ini tidak khas. Pemeriksaan darah (hemoglobin, hematokrit, leukosit, trombosit, dan bila perlu NS1) membantu dokter memastikan dugaan dan memantau perjalanannya.
Tanda bahaya: kapan harus segera ke IGD
Istilah lama “DBD berat” kini lebih tepat disebut dengue dengan tanda bahaya dan dengue berat. Tanda bahaya (warning signs) yang perlu diwaspadai keluarga:
- Nyeri perut hebat atau muntah terus-menerus
- Perdarahan: mimisan yang sulit berhenti, gusi berdarah, muntah darah, atau BAB hitam
- Lemas berat, gelisah, atau sangat mengantuk
- Buang air kecil sangat jarang (kurang dari tiap 6 jam pada anak)
- Sesak napas, atau perut dan tubuh tampak membengkak
- Syok: kulit pucat, tangan dan kaki dingin, berkeringat dingin, nadi lemah, kesadaran menurun
Alur sederhana untuk keluarga
Siapa yang lebih berisiko memburuk?
Bayi di bawah 2 tahun, ibu hamil, lansia, orang dengan obesitas, serta penderita penyakit kronik (diabetes, penyakit jantung, ginjal, hati, atau paru, kelainan darah, tukak lambung) memerlukan ambang yang lebih rendah untuk dibawa ke fasilitas kesehatan. Orang yang tinggal sendiri, jauh dari fasilitas kesehatan, atau tidak ada yang dapat memantau setiap hari juga sering dianjurkan dirawat. Penjelasan kriteria rawat inap menurut PNPK ada di tulisan berikut.
Bila dokter mengizinkan rawat di rumah
- Minum cukup. Air putih dan oralit baik; hindari minuman bersoda dan sangat manis. Penderita diabetes perlu berhati-hati dengan larutan bergula.
- Parasetamol untuk menurunkan demam. Hindari ibuprofen, aspirin, dan obat antiinflamasi sejenis karena dapat memperburuk perdarahan.
- Datang kontrol dan periksa darah sesuai jadwal yang diberikan, terutama saat demam turun.
- Catat jam minum dan buang air kecil, terutama pada anak.
- Segera kembali ke fasilitas kesehatan bila muncul tanda bahaya di atas, tanpa menunggu jadwal kontrol.
Jangan menilai kesembuhan hanya dari suhu tubuh. Perhatikan juga seberapa mampu pasien minum, seberapa sering buang air kecil, dan apakah tampak lebih lemas.
Pencegahan
- 3M Plus: menguras, menutup, dan memanfaatkan atau mendaur ulang barang bekas penampung air; plus kelambu, larvasida, dan memelihara ikan pemakan jentik.
- Perlindungan diri: obat antinyamuk atau lotion antinyamuk, serta pakaian yang menutupi kulit saat beraktivitas di luar ruangan.
- Vaksinasi dengue: vaksin Qdenga telah mendapat izin edar BPOM sejak Agustus 2022 untuk usia 6–45 tahun, dua dosis dengan jarak 3 bulan. Vaksin membantu, tetapi tidak menggantikan 3M Plus dan kewaspadaan terhadap gejala. Tanyakan kelayakan kepada dokter, terutama bagi yang tinggal di wilayah risiko tinggi.
- Teknologi Wolbachia: nyamuk Aedes aegypti yang membawa bakteri Wolbachia menurunkan kemampuannya menularkan dengue.
Bukti Wolbachia cukup kuat. Uji acak di Yogyakarta (Utarini dkk., 2021) melaporkan penurunan kasus dengue bergejala sekitar 77% dan rawat inap sekitar 86% di wilayah yang menerima nyamuk Wolbachia. Penelitian di Niterói, Brasil (Pinto dkk., 2021) melaporkan penurunan insiden dengue sekitar 69%. Temuan ini mendukung Wolbachia sebagai pelengkap, bukan pengganti, upaya pengendalian vektor lain.
Kesimpulan
Dengue bukan hanya soal demam tinggi di awal, melainkan soal apa yang terjadi saat demam turun. Kenali tanda bahaya, jangan tunda ke IGD bila muncul, minum yang cukup, hindari obat yang memperburuk perdarahan, dan lakukan 3M Plus secara rutin di lingkungan rumah.
Informasi ini bersifat edukasi dan tidak menggantikan nasihat medis profesional. Konsultasikan dengan dokter bila Anda atau keluarga mengalami gejala dengue.
Catatan transparansi
- Tulisan ini diperbarui pada 20 Oktober 2026 dari versi Maret 2024. Kutipan model matematika Wolbachia lama (Tahir, Ndii, Dorigatti) diganti dengan uji lapangan yang lebih langsung relevan.
- Kasus Dimas fiktif. Infografis tiga fase berasal dari Republika.co.id (Antara) dan dicantumkan sumbernya.
- Berkas PNPK anak dan remaja yang dirujuk berjudul “Rancangan”; pedoman dapat direvisi, rujuk versi terbaru.
- Kelayakan vaksin dapat berubah mengikuti rekomendasi terbaru Kemenkes dan IDAI.
Baca juga
- Kapan Demam Dengue Memerlukan Rawat Inap? Kriteria PNPK dan Alur Keputusannya
- Pemeriksaan laboratorium demam berdarah dengue
- Obat dan injeksi yang perlu dihindari pada pasien demam dengue
Referensi
- Kemenkes RI. PNPK Tata Laksana Infeksi Dengue pada Dewasa (KMK HK.01.07/MENKES/9845/2020).
- Kemenkes RI. PNPK Infeksi Dengue pada Anak dan Remaja (KMK HK.01.07/MENKES/4636/2021).
- Ditjen P2 Kemenkes RI. Surat Edaran HK.02.02/C/861/2026.
- WHO. Dengue and severe dengue (fact sheet).
- BPOM RI. Persetujuan izin edar vaksin dengue (Qdenga) untuk usia 6–45 tahun.
- Utarini A, dkk. Efficacy of Wolbachia-infected mosquito deployments for the control of dengue. N Engl J Med. 2021.
- Pinto SB, dkk. Effectiveness of Wolbachia-infected mosquito deployments in reducing the incidence of dengue. PLoS Negl Trop Dis. 2021.





Tinggalkan Balasan