A Cahya Legawa's Les pèlerins au-dessus des nuages

Penelitian menunjukkan kreatin berpotensi memperkuat respons imun melawan tumor dengan meningkatkan fungsi sel T CD8 dan sel dendritik pada model hewan. Namun, studi lain mengungkapkan bahwa kreatin juga dapat mendukung pertumbuhan dan metastasis kanker tertentu, terutama melalui jalur metabolisme yang sama.

Bukti klinis pada manusia masih terbatas, dan uji coba yang ada lebih berfokus pada manfaat kreatin untuk mengatasi kaheksia atau fungsi kognitif, bukan efek antitumor langsung. Pasien kanker disarankan berkonsultasi dengan dokter sebelum mengonsumsi kreatin, mengingat risiko dan manfaatnya yang belum sepenuhnya dipahami.

Seorang pasien kanker payudara yang sedang menjalani kemoterapi bertanya kepada dokternya: “Dok, anak saya rutin minum kreatin untuk latihan beban. Apakah suplemen itu berbahaya buat saya, atau justru bisa membantu?” Pertanyaan semacam ini semakin sering terdengar di ruang praktik, seiring viralnya berita bahwa creatine — bubuk putih yang selama puluhan tahun identik dengan atlet angkat besi — ternyata tengah diteliti serius sebagai kandidat pendamping terapi kanker. Namun, benarkah kreatin bisa menjadi senjata baru melawan kanker, atau justru berisiko memberi “makan” tambahan bagi sel yang sedang tumbuh liar itu?

Kreatin: Lebih dari Sekadar Suplemen Otot

Kreatin adalah senyawa nitrogen alami yang diproduksi tubuh dari asam amino dan tersimpan sebagai fosfokreatin di otot serta jaringan saraf. Fungsinya sebagai “cadangan energi cepat saji”: ketika sel butuh adenosine triphosphate (ATP) secara mendadak, fosfokreatin dapat langsung menyumbangkan gugus fosfatnya untuk meregenerasi ATP (Zhang & Bu, 2022). Selama ini kreatin dikenal luas sebagai suplemen olahraga yang aman dan efektif meningkatkan performa latihan intensitas tinggi. Namun sejak akhir dekade lalu, para peneliti mulai menyadari bahwa sistem energi ini tidak hanya bekerja di otot — ia juga aktif di dalam sel-sel kekebalan tubuh yang bertugas melawan tumor.

Ketika Sel Imun “Kehabisan Bensin” di Medan Tumor

Titik balik penelitian ini datang dari laboratorium Lili Yang di University of California, Los Angeles (UCLA). Pada 2019, tim Di Biase dan kolega menemukan bahwa sel T CD8, prajurit utama sistem imun yang membunuh sel kanker secara langsung, mengalami peningkatan ekspresi gen pengangkut kreatin bernama CrT (Slc6a8) ketika berada di dalam tumor (Di Biase et al., 2019). Ini mengindikasikan sel T yang sedang “bertempur” membutuhkan pasokan kreatin ekstra.

Ketika para peneliti menghapus gen CrT pada tikus percobaan, sel T CD8 mereka gagal mengendalikan pertumbuhan tumor — produksi molekul efektor seperti interferon-gamma dan granzyme B menurun, dan sel tersebut lebih cepat “kelelahan” (exhausted). Sebaliknya, ketika tikus diberi suplementasi kreatin — baik lewat suntikan maupun campuran pakan setara dosis pemuatan yang lazim dipakai atlet — pertumbuhan tumor melambat secara nyata. Efek ini semakin kuat saat kreatin dikombinasikan dengan checkpoint inhibitor anti-PD-1, salah satu andalan imunoterapi kanker modern (Di Biase et al., 2019).

Babak Baru: Sel Dendritik Ikut Terlibat

Riset tidak berhenti di situ. Pada Maret 2026, tim yang sama menerbitkan temuan baru di jurnal iScience, kali ini berfokus pada sel dendritik — sel imun yang bertugas “mengenali” sel kanker dan mengaktifkan pasukan sel T untuk menyerangnya. Sel dendritik di dalam tumor ternyata juga meningkatkan ekspresi pengangkut kreatin, dan tanpa kemampuan menyerap kreatin, kemampuan mereka mengaktifkan sel T CD8 spesifik antigen menurun drastis. Sebaliknya, suplementasi kreatin meningkatkan kadar ATP intraseluler sel dendritik, memperkuat jalur sinyal peradangan yang dibutuhkan untuk aktivasi, dan menekan pertumbuhan tumor pada model melanoma tikus. Efek serupa juga teramati pada sel dendritik manusia yang diturunkan dari monosit (Kang et al., 2026).

Menurut Lili Yang, penulis senior studi ini, temuan tersebut penting karena imunoterapi kanker selama ini hanya efektif pada sekitar 20–40% pasien — dan menguatkan sel dendritik bisa menjadi jalan untuk memperluas manfaat itu ke lebih banyak orang (Kang et al., 2026).

Sisi Lain Kreatin: Pedang Bermata Dua

Namun, gambaran ini tidak sesederhana “kreatin baik, kanker kalah”. Sejumlah studi lain justru menunjukkan bahwa metabolisme kreatin dapat dibajak oleh sel kanker itu sendiri untuk keuntungannya. Tinjauan komprehensif oleh Zhang dan Bu (2022) di jurnal Trends in Cell Biology — berjudul cukup gamblang, “Dua Sisi Kreatin dalam Kanker” — merangkum bahwa pada beberapa model tikus, kreatin justru mempercepat invasi dan metastasis kanker pankreas, kolorektal, dan payudara. Sistem fosfokreatin pada kanker pankreas bahkan terbukti bersifat mechanoresponsive, ikut mendorong sel kanker menyusup ke jaringan sekitar (Papalazarou et al., 2020).

Enzim creatine kinase, yang mengatur pertukaran fosfat antara ATP dan kreatin, juga ditemukan meningkat pada berbagai jenis kanker dan berkorelasi dengan prognosis buruk. Studi terbaru pada kanker paru non-sel kecil menunjukkan bahwa isoenzim creatine kinase B (CKB) mendukung kelangsungan hidup sel kanker dan mempercepat metastasis ke paru serta hati, sebagian melalui peningkatan resistensi terhadap anoikis — kematian sel akibat lepas dari perlekatannya (Song et al., 2025). Dengan kata lain, jalur energi yang sama yang memberdayakan sel imun untuk membunuh kanker, pada konteks berbeda justru bisa memberdayakan sel kanker untuk bertahan dan menyebar.

Bagaimana Faktanya di Klinik Sungguhan?

Ketegangan antara data praklinis “kreatin melawan tumor” dan “kreatin mendukung tumor” ini membuat penerapannya pada manusia jauh lebih rumit ketimbang narasi berita populer. Sejauh ini, uji klinis pada pasien kanker sebagian besar berfokus pada manfaat kreatin untuk mengatasi kaheksia — sindrom penyusutan otot yang menyertai hingga 80% pasien kanker stadium lanjut — bukan untuk efek antitumor langsung. Hasilnya beragam dan cenderung mengecewakan: uji acak terkendali pada pasien kanker kolorektal tidak menemukan perbaikan bermakna pada massa otot maupun fungsi fisik (Norman et al., 2006), dan penambahan kreatin pada program latihan resistensi juga gagal memberi manfaat tambahan bagi pasien kanker prostat yang menjalani terapi deprivasi androgen (Fairman et al., 2024).

Di sisi lain, profil keamanan kreatin monohidrat pada populasi umum, termasuk lansia, terbilang baik, dan kenaikan kreatinin serum yang kerap dikhawatirkan umumnya merupakan artefak farmakokinetik, bukan tanda kerusakan ginjal (Kreider & Stout, 2021). Saat ini, uji klinis fase III bertajuk IARA tengah menguji apakah suplementasi kreatin 5 gram per hari dapat mengurangi penurunan fungsi kognitif akibat kemoterapi pada pasien kanker payudara stadium awal — namun hasil dan keamanannya masih perlu ditunggu (ClinicalTrials.gov, 2026).

Relevansi bagi Indonesia

Bagi konteks Indonesia, temuan ini layak dicermati secara proporsional. Data GLOBOCAN 2022 mencatat lebih dari 408.661 kasus kanker baru dan sekitar 242.099 kematian akibat kanker di Indonesia setiap tahunnya (Kemenkes RI, 2024). Imunoterapi berbasis checkpoint inhibitor memang sudah tersedia untuk sejumlah indikasi di Indonesia, namun aksesnya masih timpang antarwilayah dan biayanya relatif tinggi bagi sebagian besar pasien JKN. Bila di masa depan kreatin — suplemen yang jauh lebih murah dan mudah diakses dibanding obat imunoterapi biologis — terbukti dapat memperkuat respons imunoterapi pada manusia, potensi dampaknya terhadap pemerataan layanan kanker di Indonesia bisa cukup berarti. Namun ini masih spekulasi yang harus dibuktikan lewat uji klinis pada manusia, bukan rekomendasi praktik saat ini.

Jadi, Amankah Kreatin bagi Pasien atau Penyintas Kanker?

Berdasarkan bukti yang ada saat ini, jawaban paling jujur adalah: belum ada cukup bukti pada manusia untuk merekomendasikan kreatin sebagai terapi kanker, baik untuk menekan tumor maupun untuk sekadar berjaga-jaga menghindarinya. Data yang mendukung efek antitumor kreatin masih berasal dari model tikus, sementara pada manusia justru ada kekhawatiran teoretis terkait potensi mendukung invasi kanker tertentu. Pasien kanker yang sedang atau berencana mengonsumsi kreatin — misalnya untuk tujuan kebugaran atau mencegah kaheksia — sebaiknya mendiskusikannya lebih dulu dengan dokter yang menangani, terutama karena interaksi dengan jenis kanker, stadium, dan regimen terapi yang sedang dijalani sangat bervariasi antar-individu.


Catatan transparansi: Sebagian besar bukti mengenai efek antitumor kreatin dalam artikel ini berasal dari penelitian model hewan (tikus) dan sel manusia di laboratorium (in vitro), bukan dari uji klinis skala besar pada pasien kanker. Data mengenai efek kreatin yang justru mendukung metastasis juga berasal dari model praklinis. Uji klinis pada manusia mengenai efek kreatin terhadap hasil terapi kanker (seperti IARA) masih berlangsung dan belum ada hasil final. Data epidemiologi kanker dan konteks layanan imunoterapi di Indonesia merupakan interpretasi analitis penulis berdasarkan data resmi Kemenkes RI dan GLOBOCAN, bukan kesimpulan langsung dari studi kreatin yang dibahas. Belum ditemukan data spesifik Indonesia mengenai pola konsumsi kreatin pada populasi pasien kanker.

Ringkasan: Penelitian terbaru menunjukkan kreatin dapat memperkuat sel T CD8 dan sel dendritik dalam melawan tumor pada model tikus, bahkan menyinergikan imunoterapi. Namun, studi lain menunjukkan kreatin dan enzimnya bisa mendukung invasi serta metastasis kanker tertentu. Bukti klinis pada manusia masih terbatas—pasien kanker sebaiknya berkonsultasi dengan dokter sebelum mengonsumsi kreatin sebagai suplemen pendamping terapi.

Daftar Pustaka

Di Biase, S., Ma, X., Wang, X., Yu, J., Wang, Y.-C., Smith, D. J., Zhou, Y., Li, Z., Kim, Y. J., Clarke, N., To, A., & Yang, L. (2019). Creatine uptake regulates CD8 T cell antitumor immunity. Journal of Experimental Medicine, 216(12), 2869–2882. https://doi.org/10.1084/jem.20182044

Fairman, C. M., Kendall, K. L., Newton, R. U., Hart, N. H., Taaffe, D. R., & Galvão, D. A. (2024). Creatine supplementation combined with resistance training in men with prostate cancer undergoing androgen deprivation therapy: A randomised controlled trial. Supportive Care in Cancer.

Kang, E., Elsten-Brown, J., Wang, Y.-C., Lam, A., Sanchez, E., Wen, R., Wang, T., Chiang, J., Scarborough, Q., Li, Y.-R., Zhu, Y., Huang, J., Williams, M., Eckl, S., Li, B., & Yang, L. (2026). Creatine uptake promotes dendritic cell activation and enhances antitumor immunity. iScience, 29(4), 115436. https://doi.org/10.1016/j.isci.2026.115436

Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. (2024). Kerangka kerja pencegahan dan pengendalian kanker. https://www.kemkes.go.id/id/layanan/kerangka-kerja-pencegahan-dan-pengendalian-kanker

Kreider, R. B., & Stout, J. R. (2021). Creatine in health and disease. Nutrients, 13(2), 447. https://doi.org/10.3390/nu13020447

Norman, K., Stübler, D., Baier, P., Schütz, T., Ocran, K., Holm, E., Lochs, H., & Pirlich, M. (2006). Effects of creatine supplementation on nutritional status, muscle function and quality of life in patients with colorectal cancer—A double blind randomised controlled trial. Clinical Nutrition, 25(4), 596–605. https://doi.org/10.1016/j.clnu.2006.01.014

Papalazarou, V., Zhang, T., Paul, N. R., Juin, A., Cantini, M., Maddocks, O. D. K., Insall, R. H., & Machesky, L. M. (2020). The creatine-phosphagen system is mechanoresponsive in pancreatic adenocarcinoma and fuels invasion and metastasis. Nature Metabolism, 2, 62–80. https://doi.org/10.1038/s42255-019-0159-z

Tlili, M., Samborska, B., Girondel, C., Abu-Thuraia, A., Zhang, Q., Bunk, J., Hussain, M. F., Siegel, P. M., & Kazak, L. (2025). Creatine kinase B promotes non–small cell lung cancer survival and metastasis. Journal of Biological Chemistry, 301(11), 110805. https://doi.org/10.1016/j.jbc.2025.110805

U.S. National Library of Medicine. (2026). Creatine and cognitive health in patients with early-stage breast cancer during and after chemotherapy treatment (IARA trial, NCT07372144). ClinicalTrials.gov. https://clinicaltrials.gov/study/NCT07372144

Zhang, L., & Bu, P. (2022). The two sides of creatine in cancer. Trends in Cell Biology, 32(5), 380–390. https://doi.org/10.1016/j.tcb.2021.11.004

← Kembali

Terima kasih atas tanggapan Anda. ✨

Rating(wajib)

Artikel Baru Terbit

  • Nabati Belum Tentu Sehat: Mengenal Jebakan “Junk Veggie Food” dalam Pola Makan Berbasis Tumbuhan
    Artikel ini membahas fenomena “junk veggie food” dalam pola makan berbasis tumbuhan, di mana makanan olahan seperti sosis nabati dan minuman manis dapat mengandung kalori tinggi dan rendah nutrisi. Meskipun popularitas pola makan nabati meningkat, penting untuk memilih makanan utuh agar manfaat kesehatan tercapai. Edukasi gizi sangat dibutuhkan untuk masyarakat.
  • Lipfendra: Ketika Pil Kolesterol Baru Bertemu Sang Veteran Statin
    Lipfendra (enlicitide) adalah inhibitor PCSK9 oral pertama yang disetujui FDA pada Juli 2026, menawarkan penurunan LDL-C hingga 56-60% sebagai terapi tambahan bagi pasien yang sudah menjalani statin maksimal. Meskipun efektif, harganya jauh lebih tinggi dan belum terdaftar di Indonesia. Statin tetap menjadi pilihan utama untuk terapi kolesterol.
  • Multivitamin Harian dan Penuaan Sehat: Apa Kata Bukti Awal dari Studi COSMOS?
    Studi COSMOS menunjukkan bahwa multivitamin harian bisa memperbaiki kesehatan fungsional lansia, dengan penurunan gejala seperti kelelahan dan sesak napas setelah tiga tahun. Meski hasil ini menjanjikan, temuan ini belum melalui tinjauan sejawat dan tidak menggantikan pentingnya pola makan seimbang serta olahraga bagi lansia.
  • Ketika Piring Makan Ikut Menjaga Jantung: Apa Kata Bukti Terbaru tentang Planetary Health Diet
    Diet Kesehatan Planet (Planetary Health Diet) terbukti berpotensi menurunkan risiko penyakit kardiovaskular, stroke, dan kematian dini berdasarkan berbagai studi besar. Pola makan ini didominasi oleh sayur, buah, dan biji-bijian, serta membatasi konsumsi produk hewani. Penerapan di Indonesia masih terbatas dan perlu disesuaikan dengan konteks lokal.
  • Melatih Sistem Imun Mengenali Kanker Sebelum Ia Lahir: Menyingkap Vaksin KRAS untuk Pencegahan Kanker Pankreas
    Vaksin eksperimental mKRAS-VAX menunjukkan hasil awal menjanjikan pada uji fase 1: memicu respons sel-T terhadap KRAS bermutasi pada 90% partisipan berisiko tinggi kanker pankreas, bertahan hingga dua tahun. Studi belum membuktikan pencegahan kanker, namun membuka jalan intersepsi kanker berbasis imunoterapi bagi kelompok predisposisi genetik.

Commenting 101: “Be kind, and respect each other” // Bersikaplah baik, dan saling menghormati (Indonesian) // Soyez gentils et respectez-vous les uns les autres (French) // Sean amables y respétense mutuamente (Spanish) // 待人友善,互相尊重 (Chinese) // كونوا لطفاء واحترموا بعضكم البعض (Arabic) // Будьте добры и уважайте друг друга (Russian) // Seid freundlich und respektiert einander (German) // 親切にし、お互いを尊重し合いましょう (Japanese) // दयालु बनें, और एक दूसरे का सम्मान करें (Hindi) // Siate gentili e rispettatevi a vicenda (Italian)

Tinggalkan Balasan

Eksplorasi konten lain dari Bhyllabus l'énigme

Langganan sekarang agar bisa terus membaca dan mendapatkan akses ke semua arsip.

Lanjutkan membaca