A Cahya Legawa's Les pèlerins au-dessus des nuages

Aksara, 34 tahun, seorang staf administrasi di sebuah kantor pemerintahan di Sragen, sudah terbiasa menjadi bahan candaan rekan kerjanya karena kerap menumpahkan kopi, kesulitan memarkir mobil dengan rapi, dan tulisan tangannya yang “seperti cakar ayam” meski sudah bekerja bertahun-tahun. Ia juga sering kebingungan menyusun langkah kerja yang berurutan, meski memahami instruksinya dengan baik. Selama ini ia menganggap dirinya hanya “pelupa dan ceroboh”. Baru ketika anaknya didiagnosis dyspraxia oleh dokter anak, Aksara menyadari bahwa gejala serupa telah ia alami sejak kecil—dan mungkin belum pernah benar-benar hilang.

Kisah semacam ini jauh lebih umum daripada yang diperkirakan. Developmental coordination disorder (DCD), yang lebih populer disebut dyspraxia, adalah gangguan neurologis seumur hidup yang memengaruhi cara otak merencanakan dan mengeksekusi gerakan yang mempengaruhi bagaimana otak merencanakan dan menjalankan gerakan. Kondisi ini umumnya dikenal sebagai gangguan masa kanak-kanak, namun kenyataannya banyak orang dewasa hidup dengan gejala ini tanpa pernah terdiagnosis, terutama jika kesulitan mereka dahulu dicap sebagai kecerobohan, ketidaktertataan, atau kecemasan.

Apa Itu Dyspraxia pada Orang Dewasa?

Menurut definisi klinis, DCD adalah kegagalan memperoleh kemampuan motorik kompleks sesuai usia yang tidak dapat dijelaskan oleh kurangnya latihan atau instruksi DCD didefinisikan sebagai kegagalan memperoleh kemampuan untuk melakukan aktivitas motorik kompleks sesuai usia yang tidak dapat dijelaskan oleh latihan atau instruksi yang tidak memadai. Kemenkes RI sendiri mendeskripsikan dispraksia sebagai gangguan umum yang memengaruhi gerakan dan koordinasi, yang memengaruhi keterampilan koordinasi seperti keseimbangan (misalnya olahraga, mengemudi) maupun keterampilan motorik halus seperti menulis atau menggerakkan benda kecil.

Yang penting dipahami: dyspraxia tidak memengaruhi kecerdasan. Kesulitan yang dialami berasal dari perbedaan cara otak mengirim dan mengorganisasi sinyal ke tubuh, bukan dari keterbatasan kognitif tantangan ini tidak berkaitan dengan kecerdasan, melainkan berasal dari perbedaan cara otak mengirim dan mengorganisasi pesan ke tubuh. Banyak orang dewasa dengan dyspraxia sesungguhnya sangat mampu, tetapi harus bekerja jauh lebih keras di balik layar untuk mengejar ketertinggalan yang bagi orang lain terasa otomatis banyak orang dewasa dengan dyspraxia sangat mampu secara kognitif, tetapi bekerja jauh lebih keras di balik layar untuk mengikuti orang lain.

Meski istilah dyspraxia umum dipakai secara bergantian dengan DCD, secara teknis dyspraxia juga mencakup gangguan perencanaan gerak (ideational atau ideomotor apraxia) yang kadang muncul kemudian akibat cedera otak, bukan hanya bawaan perkembangan.

Seberapa Sering Terjadi?

DCD termasuk kondisi dengan prevalensi cukup tinggi meski jarang dibicarakan. Secara global, insidensinya diperkirakan mencapai 6-10% dengan rasio laki-laki berbanding perempuan sekitar 4:1 Gangguan ini memiliki insidensi 6–10% secara global, dengan rasio laki-laki dan perempuan 4:1. Faktor risiko yang umum dikenali antara lain kelahiran prematur dan berat badan lahir sangat rendah Faktor risiko yang umum antara lain kelahiran prematur dan berat badan lahir sangat rendah.

Ironisnya, meski prevalensinya melebihi gangguan spektrum autisme, kesadaran mengenai DCD masih sangat rendah baik di kalangan awam maupun tenaga kesehatan DCD memiliki tingkat prevalensi yang lebih tinggi dibandingkan, misalnya, gangguan spektrum autisme, namun kesadaran mengenai DCD tetap rendah. Sebuah studi cross-sectional terhadap tenaga kesehatan primer di Arab Saudi menemukan skor pengetahuan rata-rata hanya 17%, dengan mayoritas responden bahkan tidak yakin mengenai distribusi jenis kelamin pada kondisi ini Skor pengetahuan rata-rata keseluruhan hanya 17%, dan 65,15% responden tidak yakin mengenai distribusi jenis kelamin dyspraxia. Sementara pada populasi dewasa, penelitian mengenai prevalensi DCD justru jauh lebih sedikit dibandingkan pada anak Prevalensi DCD pada populasi dewasa relatif belum banyak dieksplorasi, meskipun diketahui bahwa gejalanya sebagian tetap berlanjut hingga dewasa gejala tersebut sebagian berlanjut hingga dewasa.

Bagaimana Gejalanya Bertahan hingga Dewasa?

DCD bersifat kronis: gejalanya biasanya mulai tampak sejak usia sekolah dasar dan berlanjut hingga masa remaja atau bahkan dewasa DCD biasanya muncul pada tahun-tahun awal sekolah dan menetap hingga masa remaja atau dewasa. Pada usia dewasa, gejala yang sering ditemui meliputi kesulitan koordinasi, gangguan mengorganisasi kegiatan, kesulitan mengikuti instruksi bertahap, hingga hambatan komunikasi sosial Gejala dyspraxia pada orang dewasa dapat mencakup kesulitan koordinasi serta masalah organisasi, mengikuti instruksi multi-langkah, dan komunikasi sosial atau bicara. Selain motorik kasar dan halus, kondisi ini juga dapat memengaruhi persepsi, memori, dan pemrosesan informasi dyspraxia dapat memengaruhi kemampuan motorik halus dan kasar, tetapi juga bisa memengaruhi bicara, koordinasi, persepsi, memori, dan pemrosesan informasi.

Dari sisi psikososial, riset kualitatif terbaru terhadap mahasiswa dengan DCD di pendidikan tinggi mengungkap bahwa kondisi ini kerap disalahpahami dan kurang dikenali dalam lingkungan akademik DCD/dyspraxia adalah kesulitan belajar spesifik yang sering disalahpahami dan kurang dikenali di lingkungan pendidikan, sehingga menambah beban tersembunyi bagi penyandangnya di luar tantangan motorik semata. Studi lain bahkan menemukan bahwa gangguan pengenalan wajah (prosopagnosia) memiliki komorbiditas tinggi pada individu dengan kemungkinan DCD, menunjukkan bahwa dampak kondisi ini bisa meluas melampaui ranah motorik.

Diagnosis yang Sering Terlewat

Salah satu tantangan terbesar dalam penanganan DCD dewasa adalah minimnya kesadaran untuk mencari diagnosis di usia matang. Banyak orang dewasa baru terdiagnosis di kemudian hari, bahkan tanpa pernah memiliki catatan diagnosis di masa kanak-kanak, dan asesmen tetap dapat dilakukan meski gejalanya baru disadari saat dewasa Banyak orang dewasa didiagnosis di usia lanjut. Seorang dewasa dapat dites untuk dyspraxia bahkan tanpa diagnosis masa kanak-kanak sebelumnya.

Secara internasional, pedoman praktik klinis dari European Academy of Childhood Disability (EACD) menjadi acuan utama untuk definisi, diagnosis, asesmen, intervensi, dan aspek psikososial DCD European Academy of Childhood Disability (EACD) telah menyusun rekomendasi praktik klinis internasional mengenai definisi, diagnosis, asesmen, intervensi, dan aspek psikososial developmental coordination disorder. Instrumen skrining berbasis laporan mandiri juga telah dikembangkan khusus untuk populasi dewasa, salah satunya Adult Developmental Coordination Disorders/Dyspraxia Checklist (ADC), yang telah diadaptasi lintas bahasa dan budaya untuk memperluas akses skrining Adult Developmental Coordination Disorders/Dyspraxia Checklist adalah instrumen pertama yang digunakan untuk menyaring orang dewasa dengan kemungkinan DCD.

Di Indonesia sendiri, alat skrining khusus dewasa semacam ini belum tersedia secara luas maupun tervalidasi, sehingga diagnosis DCD dewasa umumnya masih mengandalkan penilaian klinis holistik oleh dokter, disertai rujukan ke psikolog klinis atau okupasi terapis bila diperlukan.

DCD

Penanganan dan Dukungan yang Tersedia

Meski dyspraxia bersifat seumur hidup dan tidak “disembuhkan” dalam arti dihilangkan sepenuhnya, terapi yang tepat—terutama terapi okupasi—dapat membantu penyandangnya membangun keterampilan untuk bekerja, menjalin relasi, dan menjalani aktivitas sehari-hari dengan lebih mandiri Perawatan termasuk terapi wicara dapat membantu orang dewasa dengan dyspraxia membangun keterampilan untuk bekerja, berelasi, dan menjalani kehidupan sehari-hari.

Dalam konteks layanan kesehatan di Indonesia, terapi okupasi merupakan bagian dari layanan rehabilitasi medik yang dijamin oleh Jaminan Kesehatan Nasional (JKN) BPJS Kesehatan, dengan syarat adanya indikasi medis yang jelas dan rujukan berjenjang dari Fasilitas Kesehatan Tingkat Pertama (FKTP). Terapi okupasi sendiri diatur dalam Keputusan Menteri Kesehatan Nomor 571 Tahun 2008 sebagai layanan yang membantu pasien meningkatkan kemandirian melalui modifikasi alat, cara, maupun lingkungan aktivitasnya. Sayangnya, kanal pembiayaan tersebut selama ini lebih banyak diakses untuk kondisi seperti pascastroke atau keterlambatan tumbuh kembang anak, sementara DCD dewasa jarang menjadi indikasi rujukan eksplisit—salah satu celah yang perlu mendapat perhatian dalam praktik pelayanan primer.

Bagi penyandang yang kondisinya cukup berat hingga memenuhi kriteria disabilitas fisik, Undang-Undang Nomor 8 Tahun 2016 tentang Penyandang Disabilitas memberikan kerangka perlindungan hak, termasuk hak atas kesamaan kesempatan dan akomodasi yang layak di tempat kerja maupun pendidikan.

Mengapa Kesadaran soal DCD Dewasa Penting bagi Klinisi Primer

Bagi dokter layanan primer dan Puskesmas, mengenali kemungkinan DCD pada pasien dewasa yang datang dengan keluhan “sering ceroboh”, kesulitan mengorganisasi tugas, atau riwayat kesulitan motorik sejak kecil, bisa membuka jalan bagi rujukan dan dukungan yang selama ini terlewat. Sebagaimana ditegaskan oleh basis bukti internasional, DCD adalah kondisi yang sering tidak dikenali oleh tenaga kesehatan dan pendidikan developmental coordination disorder, juga dikenal sebagai dyspraxia atau DCD, adalah kondisi yang umum namun sering tidak dikenali oleh profesional kesehatan dan pendidikan, dan langkah kecil berupa kesadaran klinis dapat menjadi pembeda besar bagi kualitas hidup pasien seperti Aksara.


Catatan transparansi: Artikel ini disusun menggunakan sumber internasional (StatPearls, UpToDate, jurnal terindeks seperti Developmental Medicine & Child Neurology, dan publikasi PMC) sebagai rujukan utama karena data epidemiologis dan klinis DCD dewasa berskala nasional Indonesia (mis. dari SKI 2023 atau Riskesdas) belum tersedia. Sebagian sumber populer daring (misalnya laman Kemenkes RI dan situs kesehatan komersial) digunakan hanya untuk konteks definisi lokal, bukan sebagai basis data epidemiologis. Prevalensi DCD dewasa secara umum masih tergolong data yang kurang diteliti secara global, sehingga angka yang dikutip berasal dari studi populasi anak dan sebagian dewasa di luar Indonesia; perbandingan lintas populasi perlu dilakukan dengan hati-hati.

Ringkasan: Dyspraxia atau developmental coordination disorder bukan sekadar “ceroboh”—ini kondisi neurologis seumur hidup yang sering luput dari diagnosis hingga dewasa. Artikel ini membahas gejala, prevalensi, tantangan diagnosis, serta opsi terapi okupasi dan payung hukum disabilitas yang relevan bagi penyandang dewasa di Indonesia.


Referensi

Blank, R., Barnett, A. L., Cairney, J., et al. (2019). International clinical practice recommendations on the definition, diagnosis, assessment, intervention, and psychosocial aspects of developmental coordination disorder. Developmental Medicine & Child Neurology, 61(3), 242–285.

Castellucci, G., & Singla, R. (2024). Developmental coordination disorder (dyspraxia). StatPearls Publishing.

Direktorat Jenderal Kesehatan Lanjutan, Kementerian Kesehatan RI. (2023). Dispraksia. https://keslan.kemkes.go.id/view_artikel/1904/dispraksia

Expressable. (2026). Dyspraxia in adults: Signs, diagnosis, and treatment. https://www.expressable.com/learning-center/adults/dyspraxia-in-adults-signs-diagnosis-and-treatment

Gentle, J., Ivanova, M., Martel, M., Glover, S., & Hosein, A. (2024). A qualitative investigation into the experiences of students with developmental coordination disorder (DCD/Dyspraxia) in higher education. European Journal of Investigation in Health, Psychology and Education, 14(12), 3099–3122.

Al-Dajani, A. A., et al. (2024). Awareness and knowledge of developmental coordination disorder among healthcare professionals in the Eastern Province of Saudi Arabia: A cross-sectional study. PMC.

Republik Indonesia. (2016). Undang-Undang Nomor 8 Tahun 2016 tentang Penyandang Disabilitas.

Republik Indonesia. (2008). Keputusan Menteri Kesehatan Nomor 571 Tahun 2008.

Sutton Hamilton, S. (2024). Developmental coordination disorder: Management and outcome. UpToDate.

UpToDate. (2024). Developmental coordination disorder: Clinical features and diagnosis.

Orifjon, S., Jammatov, J., Sousa, C., Barros, R., Vasconcelos, O., & Rodrigues, P. (2023). Translation and adaptation of the Adult Developmental Coordination Disorder/Dyspraxia checklist (ADC) into Asian Uzbekistan. Sports, 11(7), 135.

(Studi terkait prevalensi DCD dewasa di populasi Korea). (2023). PMC.

Artikel Baru Terbit

  • Bukan Sekadar Ceroboh: Ketika Dyspraxia Menetap hingga Dewasa
    Dyspraxia atau developmental coordination disorder bukan sekadar “ceroboh”—ini kondisi neurologis seumur hidup yang sering luput dari diagnosis hingga dewasa. Artikel ini membahas gejala, prevalensi, tantangan diagnosis, serta opsi terapi okupasi dan payung hukum disabilitas yang relevan bagi penyandang dewasa di Indonesia.
  • Ketika Rasa Takut Mengalahkan Data: Vaksin, Thiomersal, dan Autisme dalam Terang Bukti 2010–2025
    Tinjauan sistematis WHO 2010–2025 mengonfirmasi bahwa tidak ada hubungan sebab-akibat antara vaksin, baik yang mengandung thiomersal maupun tidak, dengan autisme. Bukti kuat berasal dari studi besar dan meta-analisis. Sebaliknya, klaim yang sebaliknya hanya didasarkan pada studi berkualitas sangat rendah. Keamanan imunisasi anak dan ibu hamil ditegaskan.
  • Menunda Pikun Sejak Muda: Peta Jalan Baru WHO untuk Menjaga Otak Tetap Tajam
    Pedoman WHO 2026 menekankan bahwa risiko demensia dapat diturunkan melalui aktivitas fisik, kognitif, sosial, serta pengelolaan kondisi medis seperti hipertensi dan diabetes. Intervensi yang mengurangi konsumsi alkohol, tembakau, dan polusi udara juga direkomendasikan. Pendekatan multidomain terpadu dinilai paling efektif dalam pencegahan.
  • Masih Perlukah Antivirus Premium di 2026? Pertanyaan yang Ternyata Salah Arah
    Di era modern, pertanyaan tentang perlunya antivirus pihak ketiga bagi pengguna Windows dan macOS terus berkembang. Meskipun proteksi bawaan seperti Microsoft Defender dan macOS menawarkan solusi yang cukup, kewaspadaan pengguna tetap penting. Ancaman keamanan kini lebih berfokus pada perilaku manusia dan serangan phishing, yang menuntut disiplin dalam berinternet.
  • Ketika Antibiotik Tak Sampai ke Semua Orang: Sisi Kesetaraan dalam Perang Melawan Resistensi Antimikroba
    Resistensi antimikroba (AMR) mencerminkan ketimpangan sosial yang signifikan. WHO (2026) menekankan tiga area kritis: sanitasi, akses layanan kesehatan, dan data surveilans. Dua puluh rekomendasi dicanangkan untuk meningkatkan rencana aksi nasional AMR, menjamin respons yang lebih adil dan efektif terhadap isu kesehatan ini di seluruh masyarakat.

Commenting 101: “Be kind, and respect each other” // Bersikaplah baik, dan saling menghormati (Indonesian) // Soyez gentils et respectez-vous les uns les autres (French) // Sean amables y respétense mutuamente (Spanish) // 待人友善,互相尊重 (Chinese) // كونوا لطفاء واحترموا بعضكم البعض (Arabic) // Будьте добры и уважайте друг друга (Russian) // Seid freundlich und respektiert einander (German) // 親切にし、お互いを尊重し合いましょう (Japanese) // दयालु बनें, और एक दूसरे का सम्मान करें (Hindi) // Siate gentili e rispettatevi a vicenda (Italian)

Tinggalkan Balasan

Eksplorasi konten lain dari Bhyllabus l'énigme

Langganan sekarang agar bisa terus membaca dan mendapatkan akses ke semua arsip.

Lanjutkan membaca