Malam yang Berat

Bukan karena sakit tapi itu juga salah satu yang membebani, malam kemarin adalah malam yang berat bagi saya. Jadi pagi ini ingin dituangkan sedikit, semoga menjadi lebih lapang dalam perasaan ini. Saya akan mengilustrasikan, karena jujur saja, sampai saat ini sebenarnya saya tidak begitu paham duduk perkaranya dari permasalahan yang sudah berlalu berbulan-bulan atau mungkinLanjutkan membaca “Malam yang Berat”

Tiada Tuhan Di Sana

Seorang guru yang merasa perlu memberikan pendidikan lebih lanjut kepada para muridnya, sehingga suatu ketika guru tersebut mengirim para muridnya keluar dari ashram untuk belajar di salah satu kuil Siwa. Para murid mungkin tidak begitu paham maksud sang guru, mereka merasa telah belajar dari guru terbaik yang bisa ditemukan dari segala penjuru, mengapa mereka harusLanjutkan membaca “Tiada Tuhan Di Sana”

Mau Tajen di-PERDA-kan?

Hujan belum mereda sore itu, Nang Lecir tampak tergopoh-gopoh menuju pondokan Nang Olog bersama seorang anak muda – jika tidak salah ia adalah salah satu kemenakan Nang Lecir yang jadi semacam ajudan di kantor wakil rakyat di provinsi. Nang Olog yang sedang memperbaiki atap ambengan (alang-alang) pada tempat penyimpanan jijih (buah padi), menyambut mereka alaLanjutkan membaca “Mau Tajen di-PERDA-kan?”

Mengenal Mengalah

Negeri ini sedang kacau balau dengan pelbagai konflik horizontal maupun vertikal. Saya rasa sebagian besar konflik tersebut bisa dihindari dengan satu kata sederhana, yaitu “mengalah”. Tapi rasanya kata ini sudah makin terlupakan ke dalam belantara persaingan masa kini yang semakin ketat. Manusia berlomba mencapai segala sesuatu yang terbaik (menurutnya), kadang tanpa peduli mesti saling senggolLanjutkan membaca “Mengenal Mengalah”

Mencintai atau Dicintai Tuhan

Abu ben Adhem melihat sesuatu yang bercahaya gilang gemilang di kamarnya ketika ia pulang. Dilihatnya ada sosok malaikat yang tampak sedang asyik mencatat sesuatu. Ia memberanikan diri dan bertanya dengan amat sopan, apakah yang sedang ditulisnya dengan amat asyik. Malaikat itu menjawab, ia mencatat nama orang-orang yang mencintai Tuhan. Abu adalah orang baik yang sukaLanjutkan membaca “Mencintai atau Dicintai Tuhan”

Berkah untuk Bukit Gowardhana

Yang menyukai kisah Mahabharata dan Krishna di masa kecilnya pasti mengenal Bukit Gowardhana. Sebuah bukit yang terletak di dekat kota Vrindavan di India – terutama oleh golongan Waisnawa. Ada kisah yang unik di balik bukit tersebut dan dimulai pada Ithiasa sebelumnya, yaitu Ramayana. Saat itu Rama, Laksamana, dan balatentara Kiskenda hendak membuat jembatan guna menyeberangLanjutkan membaca “Berkah untuk Bukit Gowardhana”

Kopi untuk Ikan

Rasa belas kasih adalah sesuatu yang berharga yang dimiliki setiap bentuk kehidupan, termasuk manusia di dalam lingkarannya. Beberapa orang berkata bahwa kita harus bisa mengekspresikannya dalam kebebasan yang tidak terikat. Namun kadang tanpa sebuah kebijaksanaan yang meletup kuat dan mencerahkan dalam diri seseorang, rasanya welas asih hanya bisa menjadi pajangan di etalase ego semata. Ah,Lanjutkan membaca “Kopi untuk Ikan”

Narablog Nasionalis?

Menjelang 17 Agustus banyak narablog yang menunjukkan semangat nasionalisnya, Dani Iswara misalnya memulai dengan memantapkan kembali menulis dalam bahasa Indonesia yang baik & benar, di sisi lain Wira Utama menggunakan papan kepala merah putih pada blog, demikian juga dengan narablog Budiastawa menggunakan logo merah putih untuk kesempatan kali ini. Lalu bagaimana dengan pemilik blog iniLanjutkan membaca “Narablog Nasionalis?”

Lebih Merdu dari Tansen

Anda mungkin mengenal kisah-kisah Tansen, nama lengkapnya adalah Miyan Tansen atau Ramtanu Pandey (1439/1506 – 1586/1589), ia adalah salah satu dari komposer musik terhebat di era musik klasik Hindustan. Ia juga seorang vokalis dengan bakat luar biasa, dan merupakan bagian kebanggaan dari Navaratnas (sembilan mutiara) oleh Kaisar Akbar dari Kekaisaran Mughal. Sebagai ahli musik istanaLanjutkan membaca “Lebih Merdu dari Tansen”

Cinta Tak Pernah Menyesuaikan

Anda mungkin memperlakukan berbincangan yang telah berlangsung di antara kita sebagai sebuah pertukaran ide-ide, sebagai suatu proses penerimaan ide-ide baru dan melepaskan ide-ide yang lama, atau sebagai proses menolak ide-ide baru dan tetap mempertahankan ide-ide yang lama. Kita tidaklah berurusan dengan ide-ide sama sekali. Kita berhadapan dengan fakta-fakta. Dan ketika seseorang memperhatikan fakta, maka diLanjutkan membaca “Cinta Tak Pernah Menyesuaikan”