A Cahya Legawa's Les pèlerins au-dessus des nuages

Mohon maaf karena belakangan ini belum sempat memperbaharui isi weblog
ini, dikarenakan beberapa rangkaian keadaan yang sulit untuk terhindari.
Pediatri menyita banyak waktu dan tenaga, lebih dari apa yang dapat
kuprediksi. Sebulan yang lalu kami berangkat ke RSU Banyumas untuk tugas
belajar selama 4 minggu, pertama-tama pun sudah dihadang oleh
permasalahan dengan pihak rumah sakit yang sedang mengejar target
sertifikasi ISO 9000:2001, mereka menolak diadakannya sistem
pembelajaran berbasis BST (Bed Side Teaching) alias pola pembelajaran
langsung di sisi pasien. Tentu kami dapat menalarkan apa yang dimaksud
pihak rumah sakit, namun BST adalah tulang punggung pendidikan dunia
kedokteran sejak dahulu kala, dimana keahlian dan keterampilan serta
pengetahuan diturunkan langsung oleh para pengajar kepada para terdidik
melalui sebuah kondisi yang realistis. Bukan tutorial atau diskusi atau
perkuliahan yang akan mengenalkan para pelajar kedokteran dengan dunia
medis yang sesungguhnya, namun inilah pembelajaran langsung dengan
mereka yang mengeluh sakit dan memerlukan bantuan. Aku ingat betul salah
satu guru besar kami dari Kanada pernah berkata bahwa penguasaan seni
kedokteran tidak didapatkan dari buku teks pelajaran, namun dari melihat
langsung ke dalam kondisi klinis atau penyakit atau keluhan atau apapun
yang kita suka sebut untuk hal itu.

Ah…, berselang seminggu aku pun kembali ke Yogyakarta untuk sebuah
urusan yang tak dapat ditunda lagi, tentunya setelah mengurus izin dan
berbagai aturan administratif yang lumayan panjang dan lebar…, akan
kuceritakan lain kesempatan untuk hal ini. Aku pun sudah berusaha
beberapa kali memperbaharui blog ini via email, namun tampaknya terdapat
kesulitan sehingga email yang kukirimkan tidak bisa terposting dengan
sempurna (kuharap yang ini dapat ditampilkan, sekaligus sebagai uji
coba). Entah apakah Blogger sedang mengalami masalah atau tidak, namun
aku tak sempat memikirkan itu, seperti terburu waktu, aku menghadapi
kesibukan yang luar biasa. Aku pun sempat membawa notebook-ku ke service
center ECS di dekat pasar Kranggan, untuk memperbaiki catu daya-nya yang
agak longgar, eh… malah yang rusak nambah jadi kartu grafisnya. Ah…
lelah-deh jadinya, kemudian di luar kota aku menjadi sebulan tanpa
notebook dan tidak bisa mengerjakan tugas-tugasku dengan optimal.
Yah…, inilah sebuah perjalanan bisikku. Beberapa cerita yang lain akan
segera kutambahkan, karena beberapa pun rasanya menarik tuk dituturkan.

Artikel Baru Terbit

  • Ketika Diabetes Menjadi Kegawatdaruratan: Mengenal Ketoasidosis Diabetik
    Ketoasidosis diabetik adalah kegawatdaruratan metabolik diabetes melitus berupa trias hiperglikemia, ketonemia, dan asidosis, dipicu terutama oleh infeksi atau penghentian insulin. Tata laksana berpusat pada terapi cairan, insulin intravena kontinu, dan koreksi kalium, dengan pemantauan ketat untuk mencegah hipoglikemia, hipokalemia, dan komplikasi mengancam nyawa lainnya.
  • Bukan Sekadar Pikun: Menyimak Pedoman Nasional Tata Laksana Demensia 2026
    Pedoman Nasional Pelayanan Klinis (PNPK) Tata Laksana Demensia 2026 memberikan panduan untuk penanganan demensia di Indonesia. Dengan jumlah penderita yang diproyeksi meningkat, pedoman ini mencakup diagnosis, penanganan, dan strategi pencegahan. Kaya akan rekomendasi medis, hal ini penting untuk memastikan perawatan yang efektif bagi pasien demensia.
  • Satu Kali Kejang, Lalu Apa? Membaca Pedoman Nasional Tata Laksana Epilepsi Dewasa 2026
    Kejang pertama pada orang dewasa tidak otomatis berarti epilepsi, tetapi tidak boleh diabaikan. Artikel ini merangkum Pedoman Nasional Pelayanan Klinis epilepsi dewasa 2026: cara membedakan kejang dari pingsan, pertolongan pertama yang benar, peran pemeriksaan penunjang, prinsip terapi, hingga tantangan stigma dan akses obat di Indonesia. Untuk awam dan tenaga kesehatan.
  • Sang Peniru Ulung yang Bisa Diobati: Membaca Pedoman Nasional Tata Laksana Sifilis
    Indonesia kini memiliki Pedoman Nasional Pelayanan Klinis Tata Laksana Sifilis (KMK 291/2026). Artikel ini merangkum stadium penyakit, alur tes serologi, terapi penisilin, tindak lanjut, penanganan pasangan, serta perlindungan ibu hamil dan bayi, disertai catatan kritis agar fasilitas kesehatan, dari Puskesmas hingga rumah sakit rujukan, siap menerapkannya dengan aman dan konsisten.
  • Sebelum Kelas Pertama Dibuka: Cara Kemenkes Menimbang Program Studi Kesehatan Baru
    Keputusan Menteri Kesehatan 294/2026 mengatur syarat rekomendasi untuk membuka program studi kesehatan baru, mencakup kajian kesesuaian dengan kebutuhan tenaga kesehatan, kerja sama dengan fasilitas terakreditasi, dan penjaminan mutu. Tujuan utama adalah menyeimbangkan jumlah lulusan dengan kebutuhan layanan kesehatan di Indonesia, terutama yang berkaitan dengan pemerataan tenaga medis.

Commenting 101: “Be kind, and respect each other” // Bersikaplah baik, dan saling menghormati (Indonesian) // Soyez gentils et respectez-vous les uns les autres (French) // Sean amables y respétense mutuamente (Spanish) // 待人友善,互相尊重 (Chinese) // كونوا لطفاء واحترموا بعضكم البعض (Arabic) // Будьте добры и уважайте друг друга (Russian) // Seid freundlich und respektiert einander (German) // 親切にし、お互いを尊重し合いましょう (Japanese) // दयालु बनें, और एक दूसरे का सम्मान करें (Hindi) // Siate gentili e rispettatevi a vicenda (Italian)

Tinggalkan Balasan

Eksplorasi konten lain dari Bhyllabus l'énigme

Langganan sekarang agar bisa terus membaca dan mendapatkan akses ke semua arsip.

Lanjutkan membaca