A Cahya Legawa's Les pèlerins au-dessus des nuages

Bait yang tak pernah ada dasar asa terliar sekali pun
Berjingkrak riang bak cahaya tajam di kelebatan sukma
Turun senja menguak muram sirna semua
7 untai awan serentak bisu dalam kosong
Suka, duka, tawa, sedih, yang hendak menyongsong
Remuk redam bersama ruang waktu menyisakan hampa
Baru cinta dapat tumbuh dan mengisi dalam nada napas kebebasan

Diberikan sebagai hadiah akhir bulan pada “Puisi Cinta Satu Bait” dan tanda terima kasih karena telah menguak kembali keinginan menulis dalam bahasa puisi, bahasa indah yang menyimpan sejuta makna dan pemaknaan yang berbeda bagi setiap insan yang membacanya dengan seksama.

Semoga dunia sastra dapat kembali menemukan kreativitasnya bak gairah ufuk Timur yang merah merona. Semoga kejelian dan kepedulian dapat tertuang dalam bahasa yang apik dan kuat. Dan kita belajar lagi dari salah satu harta tak terkira negeri ini – tanah puisi.

Tulisan ini tidak berada dalam lisensi creative commons di blog ini sebagaimana yang tertera dalam pembatasan. Silakan merujuk pada halaman “puisi cinta satu bait” untuk mengonfirmasi lisensi atas puisi ini.

  Copyright secured by Digiprove © 2010 Cahya Legawa

← Kembali

Terima kasih atas tanggapan Anda. ✨

Rating(wajib)

Artikel Baru Terbit

  • Permenkes Perbekalan Kesehatan 2026: Antara Visi Kemandirian dan Realitas Akses Obat di Lapangan
    Pada 17 April 2026, Menteri Kesehatan mengeluarkan Permenkes Nomor 5 Tahun 2026 yang mengatur perbekalan kesehatan. Regulasi ini mencakup produksi dalam negeri, pengendalian harga, dan transparansi, namun masih menghadapi tantangan implementasi. Kemandirian farmasi masih rendah, dengan ketergantungan pada impor dan ketersediaan obat yang tidak memadai.
  • Permenkes Penanggulangan Penyakit 2026: Satu Payung Hukum, Berlapis Konsekuensi bagi Fasilitas Kesehatan
    Menteri Kesehatan menerbitkan Permenkes Nomor 3 Tahun 2026 untuk konsolidasi pengaturan penanggulangan penyakit di Indonesia. Regulasi ini mencakup penanggulangan penyakit menular, tidak menular, kesehatan lingkungan, dan kesehatan matra, serta menyusun kewajiban baru bagi fasilitas kesehatan. Tantangan implementasi masih ada, terutama terkait ambang batas GGL yang belum ditetapkan.
  • The Dream That Keeps Breathing
    What if the size of a dream was never the point? Through a Javanese kite-maker’s parable and voices from Rumi to Marcus Aurelius, the Gita to the Dhammapada, this essay asks whether dreaming is less a destination than a form of breathing — one we must keep doing, gently, for as long as we wish to call what we’re living a life.
  • PFAS di Meja Makan: Apa yang Diungkap Tinjauan Lanskap WHO tentang “Bahan Kimia Abadi” yang Kita Telan
    WHO merilis tinjauan tentang 18 senyawa PFAS prioritas yang mencemari makanan dan air minum, serta enam kategori efek kesehatan seperti kanker dan gangguan metabolik. Makanan menjadi jalur pajanan utama. Temuan ini menunjukkan perlunya Indonesia memperkuat pemantauan PFAS untuk meningkatkan keamanan pangan dan air minum.
  • Nasi di Piring, Racun yang Tak Terlihat: Apa Kata Evaluasi Terbaru WHO/FAO tentang Arsenik dalam Makanan
    Evaluasi terbaru oleh JECFA (2026) menunjukkan risiko arsenik dalam makanan tidak hanya terkait kanker, tetapi juga penyakit jantung pada dosis lebih rendah. Beras menjadi sumber utama paparan, termasuk di Indonesia, di mana data dari Sulawesi Utara menunjukkan melampaui ambang aman. Perlu ada langkah kehati-hatian dan pembaruan regulasi keamanan pangan.

Commenting 101: “Be kind, and respect each other” // Bersikaplah baik, dan saling menghormati (Indonesian) // Soyez gentils et respectez-vous les uns les autres (French) // Sean amables y respétense mutuamente (Spanish) // 待人友善,互相尊重 (Chinese) // كونوا لطفاء واحترموا بعضكم البعض (Arabic) // Будьте добры и уважайте друг друга (Russian) // Seid freundlich und respektiert einander (German) // 親切にし、お互いを尊重し合いましょう (Japanese) // दयालु बनें, और एक दूसरे का सम्मान करें (Hindi) // Siate gentili e rispettatevi a vicenda (Italian)

37 tanggapan

  1. Avatar aliaz
    aliaz

    Terima kasih sudah turut memeriahkan “Ekspresi Puisi Cinta Satu Bait”
    Just info: puisi sudah masuk keranjang

    1. Avatar Cahya

      aliaz,

      Wah Mbak yang satu ini jadi sibuk banget ya…, sepertinya sudah lebih dari 60 karya yang mesti disortir, padahal masih lebih dari seminggu lagi batas waktunya. Selamat Mbak 🙂

  2. Avatar kikakirana
    kikakirana

    hmmm bagus maz… 😀
    makasih sudah berkunjung di blog saya 😉

    HIDUP!!! ^_^

    1. Avatar Cahya

      kikakirana,

      Makasih untuk apresiasinya 🙂

  3. Avatar PanDe Baik

    Aduh… saya ndak ngerti nih. Taunya cuman sibaju merah yang ditengah sawah itu aja…

    1. Avatar Cahya

      Bli Pande,

      Rupanya dari dulu belum ganti baju ya Bli? Masih merah sampai sekarang 😀

  4. Avatar Aldy
    Aldy

    Puisi yang belum punya pasangan tetap memang lebih mengambang, untaian kalimatnya bersayap dan multi tafsir.
    Tetapi memang disitulah kunci kekuatan sebuah puisi (*haalllaaahh, kayak guru sastra aja..*) pis mas.

    1. Avatar Cahya

      Pak Aldy,

      Boleh-lah kalau nanti bareng Pak Aldy buka bengkel sastra untuk para blogger, siapa tahu ada yang berminat untuk menjadi pemberi materi 😀

  5. Avatar wigati
    wigati

    merasa bebas dalam hampa ?…cinta, gak pernah bosan ditunggu ya mas 🙂

    1. Avatar Cahya

      Wigati,

      Mungkin tidak seperti menanti, jika kita menanti – kehidupan menjadi penuh akan penantian, jika segalanya penuh – ruang hidup akan menjadi sesak, kita tidak dapat bergerak – bahkan untuk bergerak mengikuti sungai kehidupan.

      Namun jika ada ruang bebas yang luar biasa, sebuah kekosongan yang alami, kita dapat bergerak bebas, bukan gerak yang dipaksakan, bukan gerakan di balik topeng motif, mungkin gerak tak akan pernah kita tahu atau pahami, namun hanya ini yang bisa membuat orang bergerak alami bersama seluruh hatinya dan kehidupan dengan harmonis – banyak orang menyebutnya cinta.

      Tidak salah menunggu cinta, namun alangkah baiknya itu bukan sesuatu yang dinanti, namun lahir dari dalam diri kita 🙂

  6. Avatar sugeng
    sugeng

    bahasa satra paling gag bisa aku cerna namun diatara kata di puisi cinta satu bait cuman 7 untai awam serentak bisu dalam kosong …. 😕 aku gag tahu artinya babar blas dasar katrok :mrgreen:
    salam hangat serta jabat erat selalu dari Tabanan

    1. Avatar Cahya

      Pak Sugeng,

      Terima kasih sudah memperhatikan 🙂 – kadang terlalu terburu-buru …

  7. Avatar richo

    sastra tuh memang indah yah… termasuk puisi ini

    1. Avatar Cahya

      Richo,

      Mungkin sekarang sastra jarang disinggung lagi ya 🙂

  8. Avatar menjadikosong
    menjadikosong

    kata Sapardi Djoko Damono dalam puisinya “….Mencintaimu,harus menjelma aku…”

    1. Avatar Cahya

      menjadikosong,

      Seperti sajak-sajak kecil tentang cinta walau saya lebih melekat pada aku ingin yang lebih sederhana 🙂

      Terima kasih.

  9. Avatar Hary4n4
    Hary4n4

    Cinta abadi…tak lahir begitu saja
    Dia hadir lewat perjalanan panjang dan melelahkan
    Cinta hadir..tak semudah kata yg diucapkan

    semoga keindahan kata, akan selalu hadir
    menemani hidup yg telah lama kering dan hampa

    salam hangat mas, salam damai selalu…

    1. Avatar Cahya

      Hary4n4,

      Jika cinta bisa mengalir dengan bebas, maka tiada tanah yang akan tersisa kering dalam balut kesejukannya.

      Terima kasih 🙂

  10. Avatar santidiwyarthi
    santidiwyarthi

    Hmmm…

    Jika ada judul… Mendadak dangdut…
    Yg ini pantes pula dapet judul…..
    Mendadak puisi tercipta kembali….

    1. Avatar Cahya

      Mbak Santi,

      He he, tidak mendadak juga, soalnya yang ini saya tulis pelan-pelan dalam 3 – 4 hari 🙂

Tinggalkan Balasan

Eksplorasi konten lain dari Bhyllabus l'énigme

Langganan sekarang agar bisa terus membaca dan mendapatkan akses ke semua arsip.

Lanjutkan membaca