Lega rasanya jika punya akses internet cepat jika banyak memiliki aktivitas di dunia maya yang lumayan bikin lompat ke berbagai halaman. Sayangnya, sebagaimana telah dikeluhkan sejak zaman dulu di negeri ini, maka infrakstruktur internetnya dapat dibilang ketinggalan – dan terserah masing-masing orang mau berargumentasi apapun tentang masalah ini.
Saya hanya tidak ingin terganggu dengan kecepatan akses yang tidak mumpuni ini. Dan memang saya juga tidak memiliki keinginan untuk mengganti ke kecepatan akses yang lebih tangguh – karena setangguh apapun layanan dari ISP saat ini, ya, masing-masing akan menemukan kelemahannya. Sehingga saya mengambil jalan tengah.
Saya lebih sering berselancar di dunia maya dengan menggunakan “mata tertutup” – alias mode “disable images”, salah satu cara untuk mempercepat akses ke sebuah website atau halaman di internet – termasuk blog. Jadi semua unsur gambar akan dipangkas dan dimatikan di peramban, sehingga yang tampak hanya unsur teks saja – alias tulisan saja.
Jadi mohon maaf, bagi teman-teman yang sudah cantik-cantik mendesain blognya, saya tidak bisa melihat desain itu, karena pada akhirnya saya juga hanya membaca teks saja. Bagi yang memasukkan banyak foto ke dalam tulisannya saya juga tidak bisa melihatnya, namun jika Anda menempatkan teks alternatif untuk gambar, mungkin saya masih tidak begitu kehilangan informsi tentang gambar atau foto yang dipajang di blog. Bagi yang meletakkan CAPTCHA sebagai sistem pengaman, ya mungkin saya belum berjodoh untuk ikut memberikan masukkan pada tulisan teman-teman.
Ah…, beginilah kehidupan fakir bandwidth, tapi saya bisa mengakses banyak halaman dengan lebih mudah. Walau pada akhirnya, saya juga tidak bisa membaca terlalu sering.
Bunga segar, tanaman pot, bingkai, dan relief dinding mempercantik suasana ruang rawat, tetapi dapat menjadi reservoir mikroba, terutama bagi pasien dengan imunitas sangat rendah. Artikel ini menimbang bukti ilmiah terbaru, pedoman CDC, dan konteks Indonesia, lalu menawarkan kerangka zonasi yang praktis agar keindahan ruang dan keselamatan pasien dapat berjalan beriringan.
Seorang virolog Kroasia menyuntikkan virus campak dan virus stomatitis vesikular ke tumor payudaranya sendiri, lalu tumor menyusut dan dapat dioperasi. Kisah ini memicu perdebatan etika dan harapan baru bagi terapi virus onkolitik. Artikel ini menimbang bukti, keterbatasan, dan pelajarannya bagi Indonesia. Ini bukan anjuran mencoba sendiri, melainkan bahan refleksi klinis.
DSD adalah kondisi kongenital ketika kromosom, gonad, dan anatomi seks seseorang tidak berkembang selaras—bukan gangguan orientasi seksual. Artikel ini mengulas klasifikasi, diagnosis, tata laksana multidisiplin, serta konteks Indonesia: keterbatasan data epidemiologi, stigma sosial, dan jalur hukum penetapan status kelamin lewat pengadilan sesuai UU Adminduk.
Retinopati diabetik adalah komplikasi mikrovaskular diabetes yang dapat merusak penglihatan tanpa gejala awal. Prevalensinya di Indonesia berkisar 10–32%, dengan satu dari empat pasien berisiko mengalami kondisi mengancam penglihatan. Skrining fundus rutin, kontrol glikemik ketat, serta terapi laser atau anti-VEGF menjadi kunci mencegah kebutaan akibat diabetes.
Ketoasidosis diabetik adalah kegawatdaruratan metabolik diabetes melitus berupa trias hiperglikemia, ketonemia, dan asidosis, dipicu terutama oleh infeksi atau penghentian insulin. Tata laksana berpusat pada terapi cairan, insulin intravena kontinu, dan koreksi kalium, dengan pemantauan ketat untuk mencegah hipoglikemia, hipokalemia, dan komplikasi mengancam nyawa lainnya.
Commenting 101: “Be kind, and respect each other” // Bersikaplah baik, dan saling menghormati (Indonesian) // Soyez gentils et respectez-vous les uns les autres (French) // Sean amables y respétense mutuamente (Spanish) // 待人友善,互相尊重 (Chinese) // كونوا لطفاء واحترموا بعضكم البعض (Arabic) // Будьте добры и уважайте друг друга (Russian) // Seid freundlich und respektiert einander (German) // 親切にし、お互いを尊重し合いましょう (Japanese) // दयालु बनें, और एक दूसरे का सम्मान करें (Hindi) // Siate gentili e rispettatevi a vicenda (Italian)
Mas Cahya,
[OOT]
saya punya pengalaman tidak baik ketika pergi ke mall, STNK motor di bawa temen pulang, jadi marah2 via telephone sambil nungguin dia kembali 🙁
@Mas Rismaka,
Saya memang menggunakan Opera sebagai standar di PC saya – karena fitur disable image-nya bagus, dan bisa membuka dan mematikan gambar tertentu saja pada sebuah situs.
Sayangnya dengan mode “gambar tersimpan” di Opera, ruang diperlukan untuk menjalan Opera sendiri jadi lebih besar di memori (cache memerlukan RAM lebih besar – CMIIW) di satu sisi menghemat bandwidth tapi di sisi lain memberatkan sistem kita. Jadi saya cenderung masih memilih “disable images” 🙂
Mematikan “script” sebagaimana fitur ekstensi “noscript” di Firefox saya pilihan yang bagus, tapi Opera tidak memiliki fitur tersebut rasanya 🙁
@Lea Ramdhani,
Kayanya sengsara itu rasanya tetap sengsara deh 😀
Gravatar tidak ada dalam kuasa saya, masa ilang? (He he, maaf saya juga ndak pernah lihat gambarnya) – monggo dicek di en.gravatar.com jika bermasalah 😉
@Mas Agung,
Setiap orang memiliki pilihannya sendiri dalam melindungi blog/situs mereka dari spam – IMHO. Dan CAPTCHA yang ampuh saya kira salah satu solusi yang masih cukup baik saat ini ditengah semakin canggihnya teknologi OCR dan “bot attack”. Ada kalanya sistem antispam biasa gagal dengan serangan spam dari komputer, dan CAPTCHA bisa membantu mencegah bencana yang mungkin timbul.
Pun saya setuju bahwa CAPTCHA terasa sedikit merepotkan – seperti menyerahkan STNK pada petugas parkir saat kita sudah memegang karcis kendaraan kita sendiri. Tapi beberapa orang menemukannya sebagai perlindungan yang efektif. Saya pun jika ada serangan spam terlalu banyak, akan mengaktifkan kembali CAPTCHA, walau hanya dalam hitungan jam hingga serangan mereda.
@Matahari,
Tidak semua orang berselancar dengan mematikan fitur gambar, kalau akses baik, biasanya cukup dengan ekstensi adblock di masing-masing peramban sudah cukup 🙂
@Mbak Vicky,
Saya menemukan CAPTCHA bermasalah dengan pengguna peramban mobile, atau mereka yang mengakses blog/situs dari ponsel cerdas mereka. Standar seperti reCAPTHCA seringkali memberikan kata kunci yang lebih panjang daripada lebar layar ponsel (dan sayangnya dibisa digeser samping), sehingga orang tidak bisa membaca seluruh susunan CAPTHCA.
Jadi benturannya mungkin pada aksesibilitas sebuah situs web pada perangkat bergerak seperti ponsel cerdas. Kalau dengan peramban di PC saya rasa tidak banyak bermasalah 🙂
@Bli Wira,
Tapi kadang teks saja bisa membuat bosan lho Bli, itulah mengapa komik lebih disukai anak-anak hingga dewasa daripada buku teks pelajaran tanpa gambar 😀
@Pak Aldy,
Kalau suatu saat nanti saya bisa mendapatkan akses yang bagus, saya rasa bisa lebih baik lagi. Tapi kalau melihat negeri ini masih harus mengembangkan lebih banyak hal untuk menjadikan teknologi informasi lebih terjangkau bagi masyarakat luas, maka sementara ini saya jadi fakir saja dulu 🙂
oh gitu caranya 😀 maaf saya kuang tau banyak tentang masalah ini. Tapi lumayan, akhir-akhir ini saya juga hampir gak pernah masukin gambar ke tulisan di blog 😆
@Mas Cahya,
CAPTCHA kayaknya ndak enak menurut saya pribadi lho 🙂
Mendingan kalau bisa pasang fitur pratayang saja, mengurangi salah ketik saat berkomentar, seperti di Textpattern-nya mas ardianzz
@Mas Rismaka,
Ya niat ndak niat sih, sebenarnya jika saya ingin sekali berkomentar ya terpaksa nyalain fitur gambar sebentar 🙂
Kalau alasannya adalah hemat badwidth, kenapa tidak mematikan javascript saja mas? Karena kebanyakan javascript (jquery) yang diunduh (misal dari google library) itu jauh lebih besar dibanding hanya gambar di blog.
Kalau buka blog saya makin hemat donk mas? jadi ga perlu disable image lagi 😀
Kalau selancar sambil nutup mata, enaknya pake peramban opera, karena ada fitur cache image, jadi hanya perlu membuka blog satu kali dengan gambar dihidupkan, setelah itu gambar boleh dibunuh 😀
@Mas agung,
Niat banget mas, kalau saya begitu nemu yang ada captcha-nya langsung saya tutup tuh, ga akan buka lagi, sampe yg empunya blog lepas tuh captcha 😆
Tinggalkan Balasan