A Cahya Legawa's Les pèlerins au-dessus des nuages

Setelah sukses memasang Fedora 15 namun gagal menikmati Gnome Shell-nya, karena Gnome Shell sebagai Desktop 3D lainnya tidak bisa dijalankan di VirtualBox, maka saya memilih mencoba memasang Kubuntu. Karena Kubuntu hanyalah versi spins-off dari Ubuntu dengan desktop KDE, jadinya saya tidak perlu memasangnya dari awal. Meski saya memiliki DVD instalasinya, namun cukup memasang melalui Ubuntu Software Center saja.

Tinggal membuka Ubuntu Software Center dan temukan paket resmi Kubuntu dengan setelah mencarinya dengan kata kunci Kubuntu. Paket resmi adalah paket yang didukung oleh Canonical.

Memilih Paket Kubuntu Plasma Desktop/Netbook System
Paket resmi berisi informasi dukungan dari Canonical

Jika memilih memasang paket resmi, maka akan ada sekitar 100 MB berkas yang akan diunduh, dan memerlukan ruang kosong lebih dari 300 MB untuk pemasangan Kubuntu. Tinggal memasang saja, dan sistem akan mengerjakan sisanya.

Setelah pemasangan selesai, mulai ulang sistem. Saat melakukan ini, saya menemukan ada sesuatu yang tidak wajar, boot-screen dan boot-logo, semuanya menjadi bertema Kubuntu. Dan boot-time jauh lebih lebih lama daripada saat terpasang Ubuntu saja, mungkin sekitar 1,5-3 kali waktu boot normal.

Pada login-screen tidak tampak ada perubahan, hanya saja terdapat opsi untuk memilih masuk ke dalam KDE Plasma Desktop. Seperti saat menggunakan openSUSE, jika kita memasang Gnome dan KDE bersamaan, maka kita bisa memilih menggunakan desktop yang mana ketika akan memulai menggunakannya.

Tampilan Kubuntu 11.04 Plasma Desktop + Amarok

Muncul beberapa pop-up saat pertama kali masuk ke dekstop ini, pertama munculan yang menyatakan bahwa sound card dialihkan dari yang onboard ke PCI sound card karena dinilai lebih baik. Saya rasa fitur ini menarik, karena pengguna sudah akan tahu bahwa periferal yang digunakannya telah dikelola dengan baik oleh sistem. Namun sayangnya, pop-up seperti ini muncul setiap kali masuk ke dekstop, tentu saja lama-lama akan terasa mengganggu, karena saya rasa pengguna tidak memerlukan informasi yang sama berulang-ulang.

Kemudian, ada munculan yang menyarankan saya menyetel modem yang terdeteksi, lalu saya menyetel Modem CDMA yang sudah dideteksi oleh sistem. Tapi sepertinya penyakit KDE lama masih belum sembuh juga, dengan KNetwork Manager, modem Pantech PX-500 saya tetap tidak bisa diputar. Karena modem saya tidak menggunakan username dan password, sepertinya KDE ogah melayaninya, tidak seperti Gnome yang langsung memutar modem saya tanpa banyak basa-basi. Jadi untuk hal yang satu ini, KDE masih no action talk only! mengingat informasi yang jauh lebih banyak daripada Gnome namun tidak memberi solusi.

KDE adalah dekstop yang kaya dan cantik, karena plasma dekstop mengusung aspek artistik di dalamnya. Jika Anda mencari keindahan, maka dalam ranah Linux, saya rasa desktop KDE tidak ada yang menyaingi. Jendela yang sangat halus di sisi-nya, termasuk pergerakan jendela dan menu, semuanya luar biasa bercita rasa. Apalagi dengan perang dingin antara Gnome dan KDE, maka KDE selalu berupaya meningkatkan kualitas desktop-nya sehingga jauh melampaui Gnome yang bertahan dengan konsep GNU dan kesederhanaannya. Jika Anda menyukai kualitas dekstop 3D yang unik dan menarik, saya yakin Anda akan memilih KDE sebagai desktop.

Bandingkan saja peranti lunak untuk membuka gambar seperti Gwenview pada Kubuntu dan Eye of Gnome pada Ubuntu, maka terasa sekali mana yang lebih cantik dan kaya fitur. Karena itulah tidak heran jika KDE memiliki banyak penggemar fanatik, seperti selebritis dan para penggemarnya.

Namun sudah jadi sebuah stigma umum bahwa KDE selalu akan memerlukan resource lebih tinggi daripada Gnome, meski batas itu tampaknya semakin menipis saat ini. Apalagi setelah diluncurkannya Gnome 3 dan juga menanti datangnya KDE 4.7 nanti. Keduanya akan bersaing ketat dalam evolusi usabilitas dan keindahan dekstop. Tapi saya rasa keduanya akan tetap memiliki peminat masing-masing.

Namun sepertinya Kubuntu tetap memerlukan resolusi yang cukup tinggi, karena entah mengapa pada Kubuntu yang saya gunakan, tampilan fonta-nya memburuk, dan ini bahkan juga mempengaruhi dekstop Ubuntu. Seandainya resolusi layar rendah, bisa jadi saya kesulitan membaca tulisan pada desktop Kubuntu. Dan sampai saat ini saya belum menemukan solusi untuk mengembalikannya.

Akhir kata, setelah 30 menit mencoba Kubuntu 11.04, saya pun menghapusnya dari sistem. Dan kembali mendapatkan dekstop Gnome yang lebih ringan dan sederhana, atau tepatnya, dekstop Unity milik Ubuntu.

← Kembali

Terima kasih atas tanggapan Anda. ✨

Rating(wajib)

Artikel Baru Terbit

  • Permenkes Perbekalan Kesehatan 2026: Antara Visi Kemandirian dan Realitas Akses Obat di Lapangan
    Pada 17 April 2026, Menteri Kesehatan mengeluarkan Permenkes Nomor 5 Tahun 2026 yang mengatur perbekalan kesehatan. Regulasi ini mencakup produksi dalam negeri, pengendalian harga, dan transparansi, namun masih menghadapi tantangan implementasi. Kemandirian farmasi masih rendah, dengan ketergantungan pada impor dan ketersediaan obat yang tidak memadai.
  • Permenkes Penanggulangan Penyakit 2026: Satu Payung Hukum, Berlapis Konsekuensi bagi Fasilitas Kesehatan
    Menteri Kesehatan menerbitkan Permenkes Nomor 3 Tahun 2026 untuk konsolidasi pengaturan penanggulangan penyakit di Indonesia. Regulasi ini mencakup penanggulangan penyakit menular, tidak menular, kesehatan lingkungan, dan kesehatan matra, serta menyusun kewajiban baru bagi fasilitas kesehatan. Tantangan implementasi masih ada, terutama terkait ambang batas GGL yang belum ditetapkan.
  • The Dream That Keeps Breathing
    What if the size of a dream was never the point? Through a Javanese kite-maker’s parable and voices from Rumi to Marcus Aurelius, the Gita to the Dhammapada, this essay asks whether dreaming is less a destination than a form of breathing — one we must keep doing, gently, for as long as we wish to call what we’re living a life.
  • PFAS di Meja Makan: Apa yang Diungkap Tinjauan Lanskap WHO tentang “Bahan Kimia Abadi” yang Kita Telan
    WHO merilis tinjauan tentang 18 senyawa PFAS prioritas yang mencemari makanan dan air minum, serta enam kategori efek kesehatan seperti kanker dan gangguan metabolik. Makanan menjadi jalur pajanan utama. Temuan ini menunjukkan perlunya Indonesia memperkuat pemantauan PFAS untuk meningkatkan keamanan pangan dan air minum.
  • Nasi di Piring, Racun yang Tak Terlihat: Apa Kata Evaluasi Terbaru WHO/FAO tentang Arsenik dalam Makanan
    Evaluasi terbaru oleh JECFA (2026) menunjukkan risiko arsenik dalam makanan tidak hanya terkait kanker, tetapi juga penyakit jantung pada dosis lebih rendah. Beras menjadi sumber utama paparan, termasuk di Indonesia, di mana data dari Sulawesi Utara menunjukkan melampaui ambang aman. Perlu ada langkah kehati-hatian dan pembaruan regulasi keamanan pangan.

Commenting 101: “Be kind, and respect each other” // Bersikaplah baik, dan saling menghormati (Indonesian) // Soyez gentils et respectez-vous les uns les autres (French) // Sean amables y respétense mutuamente (Spanish) // 待人友善,互相尊重 (Chinese) // كونوا لطفاء واحترموا بعضكم البعض (Arabic) // Будьте добры и уважайте друг друга (Russian) // Seid freundlich und respektiert einander (German) // 親切にし、お互いを尊重し合いましょう (Japanese) // दयालु बनें, और एक दूसरे का सम्मान करें (Hindi) // Siate gentili e rispettatevi a vicenda (Italian)

6 tanggapan

  1. Avatar indobrad
    indobrad

    gak ngerti. saya masih stuck di windows 🙁

  2. Avatar iskandaria
    iskandaria

    Menyimak pengalaman mas Cahya di atas, sudah cukup bagi saya untuk tidak mencoba Kubuntu 🙂 Apalagi VGA card laptop saya kurang mendukung fitur 3D pada dekstopnya. Unity 3D aja nggak bisa jalan. Termasuk Gnome Shell (Gnome 3). Jadi ragu juga mau pasang Fedora 15 atau sekadar menjalankan via mesin virtual.

    1. Avatar Cahya

      Kalau gagal meluncurkan 3D kan nanti akan beralih sendiri ke 2D, biasa penyesuaian standar. Jangan mau kalah dong Mas Is, hasil pendapatan dari IBN kan lumayan tuh buah beli VGA card baru, he he…, #cipratbensin :D.

  3. Avatar Nurul Imam
    Nurul Imam

    sayang banget yah GNOME shellnya ngga bisa.

    padahal saya pengen banget ngenikmatinnya.

    Tapi saya sendiri sih lebih suka KDE

    1. Avatar Cahya

      Ternyata penggemar KDE 🙂 – biasanya mesti punya koneksi Internet yang mumpuni kalau mau mengikuti perkembangan KDE.

      1. Avatar Nurul Imam
        Nurul Imam

        biasanya ngikutinnya nitip di koneksi kantor

        klo koneksi rumah sangat terbatas

Tinggalkan Balasan

Eksplorasi konten lain dari Bhyllabus l'énigme

Langganan sekarang agar bisa terus membaca dan mendapatkan akses ke semua arsip.

Lanjutkan membaca