Saat melihat-lihat koleksi aplikasi pada openSUSE Tumbleweed saya yang saat ini menggunakan GNOME 3, saya melihat bahwa tidak terdapat aplikasi untuk sebagai klien twitter. Saya berpikir bahwa seharusnya ada Gwibber untuk GNOME, tapi ke manakah aplikasi tersebut. Saya pun membuka YaST dan menelusuri menu “Software Management”. Saya menemukan Gwibber ada di sana dan tidak terpasang.
Dengan melihat detil yang disediakan, saya tahu bahwa Gwibber dalam seluruh repo saya masih berasal dari Celadon dan belum ada yang dari Tumbleweed, dan serinya pun masih untuk GNOME 2.32. Sehingga saya mengurungkan niat untuk memasangnya, padahal itu biasanya bagus digunakan pada Natty Narwhal.
Ah, mau tidak mau pilihan kembali pada aplikasi berbasis Adobe AIR, yaitu Tweetdeck. Saya pernah menuliskan cara memasang Tweetdeck pada openSUSE sebelumnya. Caranya masih sama:
Unduh berkas Adobe AIR di sini (pilih versi .RPM).
Pasang berkas tersebut (adobeair.i386.rpm), gunakan klik kanan lalu “Open With Install/Remove Software).
Jika perlu, mulai ulang peramban (saya sarankan Mozilla Firefox 5.x).
Maka Tweetdeck siap digunakan dengan baik pada GNOME 3.
Tweetdeck pada GNOME 3, tema menyesuaikan dengan adwaita.
Namun, sebaiknya ada beberapa hal yang perlu dipertimbangkan dalam menggunakan tweetdeck, untuk kegiatan yang bersifat massive tweeting, bisa jadi aplikasi ini berguna, namun jika hanya untuk melihat ada tidaknya satu atau dua pesan, maka rasanya web lebih tepat. Mengapa, karena sumber daya yang dihabiskan ternyata tidak sedikit.
Tweetdeck ternyata mengonsumsi daya yang cukup banyak.
Kalau dibandingkan dengan beberapa aplikasi yang memiliki kepentingan penggunaan setara, maka rasanya tweetdeck terlalu boros daya. Jadi mungkin jika memang tidak terlalu gentin untuk bercakap-cakap via twitter, maka saya tidak menyarankan tweetdeck. Namun saat ini, ya pilihan yang saya temukan untuk Linux, sepertinya masih paling nyaman menggunakan tweetdeck (mengingat Gwibber belum tersedia di GNOME 3).
Kementerian Kesehatan Indonesia menerbitkan KMK Nomor HK.01.07/MENKES/301/2026 untuk mengatur label gizi pada minuman siap saji, dikenal sebagai Nutri-Level. Sistem ini bertujuan mengurangi konsumsi gula, garam, dan lemak berlebih, yang dapat menyebabkan penyakit tidak menular. Kebijakan ini diharapkan meningkatkan kesadaran konsumen dan mendorong reformulasi produk.
Panduan konsolidasi WHO 2026 memperbarui definisi kasus HIV dan menambahkan indikator pemantauan penyakit HIV lanjut. Ini penting bagi Indonesia, yang memiliki 564.000 ODHIV, untuk mengevaluasi kesiapan SIHA 2.1 dalam mendukung pencapaian target eliminasi HIV pada tahun 2030, dengan data diharapkan lebih akurat dan terintegrasi.
Pada 17 April 2026, Menteri Kesehatan mengeluarkan Permenkes Nomor 5 Tahun 2026 yang mengatur perbekalan kesehatan. Regulasi ini mencakup produksi dalam negeri, pengendalian harga, dan transparansi, namun masih menghadapi tantangan implementasi. Kemandirian farmasi masih rendah, dengan ketergantungan pada impor dan ketersediaan obat yang tidak memadai.
Menteri Kesehatan menerbitkan Permenkes Nomor 3 Tahun 2026 untuk konsolidasi pengaturan penanggulangan penyakit di Indonesia. Regulasi ini mencakup penanggulangan penyakit menular, tidak menular, kesehatan lingkungan, dan kesehatan matra, serta menyusun kewajiban baru bagi fasilitas kesehatan. Tantangan implementasi masih ada, terutama terkait ambang batas GGL yang belum ditetapkan.
What if the size of a dream was never the point? Through a Javanese kite-maker’s parable and voices from Rumi to Marcus Aurelius, the Gita to the Dhammapada, this essay asks whether dreaming is less a destination than a form of breathing — one we must keep doing, gently, for as long as we wish to call what we’re living a life.
Commenting 101: “Be kind, and respect each other” // Bersikaplah baik, dan saling menghormati (Indonesian) // Soyez gentils et respectez-vous les uns les autres (French) // Sean amables y respétense mutuamente (Spanish) // 待人友善,互相尊重 (Chinese) // كونوا لطفاء واحترموا بعضكم البعض (Arabic) // Будьте добры и уважайте друг друга (Russian) // Seid freundlich und respektiert einander (German) // 親切にし、お互いを尊重し合いましょう (Japanese) // दयालु बनें, और एक दूसरे का सम्मान करें (Hindi) // Siate gentili e rispettatevi a vicenda (Italian)
Mas Rangga, kan siklus ngambil tweetline-nya bisa diatur agar tidak terlalu cepat, misalnya 15 sekali, kecuali memang benar-benar doyan cuap-cuap ya apa boleh buat. Saya tidak pernah mengalami itu (naikan pemakaian CPU) saat menggunakan Gwibber, mungkin nanti ada baiknya saya coba dulu (kalau sudah tersedia).
Pakai ponsel? Ah, sayang, nanti menambah anggaran bulanan 😀 – manfaatkanlah jaringan internet unlimited, meski semua pakai efek the matrix (baca: slow motion) :D.
saya pribadi sejak awal punya android sampe hari ini, setia menggunakan TweetDeck untuk berjaring sosial. Selain tampilan yang simpel dan sederhana, TD juga bisa menampung banyak akun sekalian. :p
Tinggalkan Balasan