A Cahya Legawa's Les pèlerins au-dessus des nuages

Dulu, seorang sastrawan tua datang pada kami, dan di antara kata-katanya terucap – bahwa setiap orang (baca: siswa) yang berdiri di hadapannya ketika itu, berhak bermimpi menjadi apapun di masa depan, dan silakan menjadi seperti yang diinginkan, entah itu mulai dari kepala negara/daerah hingga menjadi preman jalanan sekali pun, asal jangan lupa untuk tetap menjadi manusia.

Ya, manusia bisa menjadi apapun, mengambil peran sebagai apapun, bertindak dan berpikir seperti apapun, namun selayaknya semua itu tidak membuatnya berhenti untuk menjadi manusia. Dan tentu saja seorang manusia dalam makna yang sesungguhnya.

Seperti dalam diskusi para pakar dan pemerhati hukum di negeri ini yang saya saksikan di layar kaca semalam, tidak heran jika ada yang berpendapat bahwa sudah banyak bukan lagi “orang” yang berlalu lalang di negeri ini dan termasuk yang memangku jabatan dan peran penting bagi kehidupan rakyat banyak, bukan orang – namun sekadar “kebohongan” yang kebetulan bernapas. Maka peran dan jabatannya dalam masyarakat pun hanya sebuah pajangan indah “ketidak bersungguhan” di etalase-etalase yang “mencitrakan kebaikan”, namun di dalam pajangan itu, siapa yang tahu isinya.

Lalu di mana-mana manusia yang sesungguhnya, yang bersedia mendengarkan? Adakah mereka telah menanggalkan kemanusiaannya? Atau adakah semua itu telah hilang terlindas apa yang dikatakan orang sebagai guliran zaman?

Gambar di atas adalah halaman muka sebuah buku tua yang masih tersimpan di rak buku rumah kami. Buku tersebut menemani saya pada awal-awal saya yang kecil dulu belajar membaca. Jadi ketika di bangku sekolah dasar saya mulai bisa membaca, maka buku ini adalah salah satu yang menemani bacaan saya di desa – selain novel ringan “Anak Bajang Manggiring Angin” karya Sindhunata.

Dalam benak seorang anak kecil, saya bahkan tidak memahami apa itu yang dimaksud “kemanusiaan”. Watak kecil saya hanya berisi pemahaman mungil, bahwa kumpulan-kumpulan kisah yang menarik, sayang untuk dilewatkan. Namun bahkan setelah saya tumbuh dan bertambah usia, kemanusiaan tetaplah (masih) merupakan suatu yang penuh dengan paradoks.

Ketika orang tumbuh besar di masyarakat yang heterogen, orang melihat bahwa dunia ini dihuni oleh manusia tidak hanya dari pelbagai latar belakang, namun juga beragam karakter dan kecenderungan. Namun satu hal yang tidak saya paham, mengapa orang ada yang menanggalkan kemanusiaannya, dan memilih mengenakan produk yang bernampakan mirip dengan kemanusiaan – aspal!

Saya tahu bahwa tidak semua orang mampu berempati dengan baik, karena memang memiliki latar kehidupan yang membuatnya demikian ataupun memang secara genetik kurang mampu berempati. Namun dunia bisa jadi sebuah pesta topeng raksasa, seperti lirik lagu, “hidup ini panggung sandiwara“. Di satu sisi orang menginginkan kebenaran, di sisi lain orang juga menanggalkan semua kebenaran itu.

Bahkan tidak jarang kita dengar orang-orang sengaja berkelompok, berkumpul dan beramai-ramai menanggalkan kemanusiaan, mengenakan yang lain dan mulai menindas orang atau kelompok masyarakat lainnya – seakan-akan, mereka yang paling manusia sedang mengenyahkan yang bukan manusia. Ini menyedihkan!

Apakah orang khawatir dengan pendapat orang lain, sehingga ia harus bertopeng bahagia saat menghadiri pesta atau bertopeng sedih saat menghadiri layatan. Oh, betapa memprihatinkannya kehidupan yang penuh kekhawatiran sepert itu. Kita bangsa yang majemuk, berapa banyak topeng yang harus kita siapkan untuk bertemu lebih banyak latar belakang dan tujuan yang saling tumpang tindih?

Adakah ini kesalahan sistem, mungkin seperti dalam film “3 Idiots” yang konyol itu.

Jika kita tak dapat tampil apa adanya, saya rasa kita telah kehilangan kemanusiaan kita; sama halnya ketika kita tidak mampu menerima orang tampil apa adanya, saya rasa kita telah kehilangan kemanusiaan kita tanpa kita sadari.

Saya rasa kemanusiaan bukanlah hal yang bisa berdiri sendiri. Bayangkan diri anda berada seorang diri di tengah belantara hutan, atau padang gurun yang luas – adakah kemanusiaan hadir di sana? Anda hanya bisa berjumpa kemanusiaan ketika berada dalam kehidupan, di antara orang-orang yang mengeliling Anda, semakin majemuk orang-orang di sekitar Anda, maka semakin banyak kesempatan Anda untuk berjumpa dengan kemanusiaan itu sendiri.

Jika Anda melihat kemanusiaan sebagai anugerah, maka Anda tidak akan melepaskannya meski dalam situasi kebhinekaan. Dan oleh karena itu, Anda tidak akan pernah kehilangan kemanusiaan yang ada pada diri anda.

Artikel Baru Terbit

  • Kaki Gajah yang Tak Sekadar Bengkak: Mengurai Filariasis Limfatik dari Cacing hingga Perawatan Diri
    Filariasis limfatik atau kaki gajah bukan sekadar bengkak biasa, melainkan hasil kerusakan sistem getah bening bertahun-tahun akibat cacing yang ditularkan nyamuk. Artikel ini mengulas gejala, diagnosis, manajemen limfedema tujuh tahap, dan tantangan unik Indonesia sebagai satu-satunya negara dengan tiga spesies cacing filaria sekaligus.
  • Debu, Bor, dan Bangsal Pasien: Mengelola Risiko Infeksi Selama Konstruksi Rumah Sakit
    Setiap kali rumah sakit direnovasi, debu konstruksi membawa risiko infeksi jamur yang bisa mengancam nyawa pasien imunokompromais. Artikel ini mengulas metode ICRA—dari matriks klasik hingga pembaruan ASHE ICRA 2.0—bukti ilmiah di balik aspergilosis terkait konstruksi, kedudukannya dalam regulasi Indonesia, serta praktik terbaik yang seharusnya diterapkan setiap fasilitas kesehatan.
  • Kenapa Pindah ke Linux Terasa Sulit di Awal? (dan Siapa yang Justru Cepat Beradaptasi)
    Perpindahan ke Linux sering kali menimbulkan “kejutan budaya” bagi pengguna baru yang terbiasa dengan Windows atau macOS. Tantangan meliputi manajemen paket yang asing, ketersediaan software, masalah driver, penggunaan command line, dan pilihan distro. Adaptasi lebih mudah bagi developer, power user, dan gamer, sementara pengguna awam mungkin kesulitan. Kesiapan mental dan pemilihan distro yang tepat sangat penting untuk transisi yang baik.
  • Ketika Amarah Pasien Berubah Jadi Ruang Belajar: Menata Keluhan sebagai Bagian dari Mutu Layanan Kesehatan
    Keluhan pasien bukan ancaman, melainkan peluang mutu. Artikel ini mengulas asal-usul kerangka L.E.A.S.T dan L.A.T.T.E dari ilmu manajemen jasa, bukti bahwa pelatihan komunikasi saja tak cukup mengatasi hambatan sistemik dan burnout staf, serta bagaimana hak mengadu pasien dalam UU 17/2023 perlu diimbangi sistem pendukung di faskes Indonesia.
  • Apakah Rumah Sakit Wajib Melakukan Penetration Test? Menelusuri Dasar Hukumnya
    Tidak ada pasal tunggal yang mewajibkan pentest bagi rumah sakit di Indonesia — tetapi UU PDP, kategorisasi risiko sistem elektronik, status Infrastruktur Informasi Vital, dan ekspektasi akreditasi bersama-sama menciptakan kewajiban de facto yang sulit dihindari. Artikel ini memetakan empat jalur regulasi tersebut dan memberi rekomendasi realistis sesuai skala fasilitas.

Commenting 101: “Be kind, and respect each other” // Bersikaplah baik, dan saling menghormati (Indonesian) // Soyez gentils et respectez-vous les uns les autres (French) // Sean amables y respétense mutuamente (Spanish) // 待人友善,互相尊重 (Chinese) // كونوا لطفاء واحترموا بعضكم البعض (Arabic) // Будьте добры и уважайте друг друга (Russian) // Seid freundlich und respektiert einander (German) // 親切にし、お互いを尊重し合いましょう (Japanese) // दयालु बनें, और एक दूसरे का सम्मान करें (Hindi) // Siate gentili e rispettatevi a vicenda (Italian)

Satu tanggapan

  1. Avatar ladeva

    Cahya, aku baru baca tulisan yang ini. 

    Setiap orang sadar bahwa ada yang namanya rasa kemanusiaan di diri mereka sendiri tapi menjadi terlupakan ketika mereka dicuci otaknya oleh orang-orang yang berkepentingan. Kemanusiaan itu pasti berdamai dengan yang namanya tenggang rasa dan rasa saling menghormati. Tapi sayangnya belakangan ini Indonesia seakan-akan mengalami ‘kelangkaan rasa kemanusiaan’. Oleh karena itu, berbahagialah mereka yang masih sadar bahwa kemanusiaan itu layak untuk diperjuangkan di tengah masyarakat yang majemuk, seperti di Indonesia ini. 

Tinggalkan Balasan

Eksplorasi konten lain dari Bhyllabus l'énigme

Langganan sekarang agar bisa terus membaca dan mendapatkan akses ke semua arsip.

Lanjutkan membaca