A Cahya Legawa's Les pèlerins au-dessus des nuages

Internet menjadi era yang tidak bisa lepas dari kehidupan masyarakat modern saat ini. Termasuk di bidang kesehatan, Internet menyediakan begitu banyak ragam informasi yang bisa kita dapatkan secara cuma-cuma. Banyak informasi kesehatan yang memberikan edukasi/aspek pendidikan yang baik bagi masyarakat, namun tidak sedikit yang sengaja menyesatkan untuk kepentingan segelintir kelompok saja.

Jadi Internet ibarat sebuah rimba, dan penyedia informasi adalah seorang pandu yang membawa Anda menyusuri rimba untuk mendapatkan apa yang Anda butuhkan. Beruntung jika Anda bertemu pandu yang baik, jika tidak, ya habislah sudah. Mengetahui hal ini, bijakkah kita berkonsultasi kesehatan dengan mencari-cari di dunia maya?

Ya, tidak sedikit orang mendiagnosis dirinya dengan bantuan dr. Google – kita sebut saja demikian. Mulai dari sakit, perut, pusing, hingga mual, kita sering bertanya pada dr. Google. Dan, viola! Ternyata dr. Google pun (tampaknya) memiliki banyak jawaban untuk kita. Hmm…, tampak sangat memudahkan bukan?

Ayo, coba katakan pada saya, siapa yang tidak pernah mencari tahu kira-kira apa penyebab gangguan kesehatannya pada dr. Google?

Saya tidak mengatakan itu sepenuhnya ide buruk, namun itu akan menjadi ide yang sangat buruk dalam banyak kasus, terutama kasus-kasus darurat. Kasus-kasus darurat memerlukan pertolongan yang cepat, unsur waktu sangat memberikan periode emas dalam upaya penyelamatan, tidak selayaknya dibuang-buang untuk mendapatkan informasi dari dunia maya. Karena di sini kita berpacu dengan taruhan nyawa, atau mungkin kecacatan/hendaya permanen.

Kemudian, tidak semua informasi layak dipercaya. Beberapa informasi bisa diputarbalikkan untuk kepentingan tertentu. Dan celakanya, kadang informasi ini bisa membuat orang yang sudah menempuh pendidikan tinggi-pun teperdaya, dan kemudian berlanjut menyesatkan (meneruskan informasi yang keliru pada) kolega dan masyarakat di sekitarnya. Apalagi informasi yang keliru ini kemudian diimbuhi dengan bumbu agama, ras dan kepercayaan, hasilnya seperti menuangkan minyak gas ke dalam nyala api.

Dokter sekarang tertantang tidak hanya menghadapi masalah kesehatan nyata di tengah masyarakat, namun juga terhadap mispersepsi (keliru pandangan), misinterpretasi (keliru pemahaman), miuses (keliru penerapan) terhadap informasi-informasi kesehatan yang semakin betebaran, baik yang memang benar ataupun yang tidak benar. Dokter ditantang untuk menjadi penapis terhadap informasi-informasi yang tidak berdasar, tidak bertanggung jawab, yang dapat menimbulkan dampak negatif bagi kesehatan baik individu maupun masyarakat luas.

Oke, kembali ke masalah dr. Google. Masyarakat awam (non-medis) sering menggunakan mesin telusur untuk mencari tahu “penyakit atau sakit” apa yang dideritanya atau orang di sekitarnya. Hal paling sederhana dilakukan adalah dengan memasukkan kata kunci dari gejala dan tanda yang dirasakan/ditemukan. Dan hal ini tidak keliru, ini adalah termasuk langkah awal dalam penegakkan diagnosis, dan saya rasa masyarakat secara umum memang perlu membekali diri dengan kemampuan mengenali gejala dan tanda gangguan kesehatan.

Permasalahan yang kemudian timbul adalah, itu bukan satu cara tunggal untuk mendapatkan diagnosis yang pasti. Kompleksitas penegakan diagnosis adalah sebuah seni tersendiri di dunia kedokteran, yang bermakna untuk dapat mempelajarinya – ya, Anda harus sekolah di pendidikan kedokteran.

Seorang dokter – standarnya, perlu duduk berhadapan dengan pasien, mendengarkan keluhan pasien, mencatat temuan gejala yang ada, kemudian melakukan pemeriksaan secara seksama, mencari tanda-tanda signifikan, lalu membuatkan diagnosis kerja atau diagnosis banding. Jika belum cukup maka pemeriksaan tambahan dilakukan dengan persetujuan pasien. Kadang semua itu tidak juga memberikan petunjuk jelas akan diagnosis yang pasti, sehingga pasien dirujuk ke dokter ahli atau sub-ahli.

Faktanya, menegakkan diagnosis dalam sudut pandang ilmu kedokteran tidak selalu mudah, tidak bisa asal tebak, dan harus melalui dasar medis yang telah terbukti. Sehingga saya ragu, seseorang bisa mendapatkan diagnosis yang akurat hanya dengan bertanya pada dr. Google. Tapi jika Anda beruntung, itu akan bagus sekali. Namun hal ini tentu tidak mengesampingkan, bahwa setiap orang berhak untuk berbagi dan mengakses informasi kesehatan secara terbuka melalui Internet.

Hal terakhir yang perlu diperhatikan, adalah munculnya aspek bias pada setiap individu yang mencoba “menganalisis” dirinya sendiri. Bisa menjadi bias positif, maupun bias negatif. Bias akan mengaburkan penilaian kita terhadap suatu hal atau objek, sehingga penilaian yang dihasilkan tidaklah objektif. Memang yang paling tahu tentang kondisi dirinya sendiri adalah orang yang bersangkutan, namun bias itu tetap berpotensi ada, sehingga hanya sedikit orang yang bisa objektif (jujur) akan keadaan dirinya apa adanya.

Sehingga salah satu alasan mengapa Anda tidak mendiagnosis diri Anda sendiri lewat dr. Google, namun dengan mengunjungi dokter yang sesungguhnya – bukanlah karena dokter itu lebih hebat dari Google, namun karena dia bukanlah diri Anda.

Jadi, apa pendapat Anda tentang berkonsultasi dengan dr. Google ini?

Artikel Baru Terbit

  • Indah di Mata, Perlu Ditimbang di Ruang Rawat: Bunga, Tanaman, dan Hiasan Dinding dalam Kacamata Pencegahan Infeksi
    Bunga segar, tanaman pot, bingkai, dan relief dinding mempercantik suasana ruang rawat, tetapi dapat menjadi reservoir mikroba, terutama bagi pasien dengan imunitas sangat rendah. Artikel ini menimbang bukti ilmiah terbaru, pedoman CDC, dan konteks Indonesia, lalu menawarkan kerangka zonasi yang praktis agar keindahan ruang dan keselamatan pasien dapat berjalan beriringan.
  • Virus untuk Melawan Kanker: Menimbang Kisah Virolog yang Menjadi Pasien Sekaligus Peneliti
    Seorang virolog Kroasia menyuntikkan virus campak dan virus stomatitis vesikular ke tumor payudaranya sendiri, lalu tumor menyusut dan dapat dioperasi. Kisah ini memicu perdebatan etika dan harapan baru bagi terapi virus onkolitik. Artikel ini menimbang bukti, keterbatasan, dan pelajarannya bagi Indonesia. Ini bukan anjuran mencoba sendiri, melainkan bahan refleksi klinis.
  • Ketika Kelamin Bayi Tak Sesuai “Buku Panduan”: Mengenal Differences in Sex Development
    DSD adalah kondisi kongenital ketika kromosom, gonad, dan anatomi seks seseorang tidak berkembang selaras—bukan gangguan orientasi seksual. Artikel ini mengulas klasifikasi, diagnosis, tata laksana multidisiplin, serta konteks Indonesia: keterbatasan data epidemiologi, stigma sosial, dan jalur hukum penetapan status kelamin lewat pengadilan sesuai UU Adminduk.
  • Ketika Diabetes Mengancam Penglihatan: Mengenal Retinopati Diabetik
    Retinopati diabetik adalah komplikasi mikrovaskular diabetes yang dapat merusak penglihatan tanpa gejala awal. Prevalensinya di Indonesia berkisar 10–32%, dengan satu dari empat pasien berisiko mengalami kondisi mengancam penglihatan. Skrining fundus rutin, kontrol glikemik ketat, serta terapi laser atau anti-VEGF menjadi kunci mencegah kebutaan akibat diabetes.
  • Ketika Diabetes Menjadi Kegawatdaruratan: Mengenal Ketoasidosis Diabetik
    Ketoasidosis diabetik adalah kegawatdaruratan metabolik diabetes melitus berupa trias hiperglikemia, ketonemia, dan asidosis, dipicu terutama oleh infeksi atau penghentian insulin. Tata laksana berpusat pada terapi cairan, insulin intravena kontinu, dan koreksi kalium, dengan pemantauan ketat untuk mencegah hipoglikemia, hipokalemia, dan komplikasi mengancam nyawa lainnya.

Commenting 101: “Be kind, and respect each other” // Bersikaplah baik, dan saling menghormati (Indonesian) // Soyez gentils et respectez-vous les uns les autres (French) // Sean amables y respétense mutuamente (Spanish) // 待人友善,互相尊重 (Chinese) // كونوا لطفاء واحترموا بعضكم البعض (Arabic) // Будьте добры и уважайте друг друга (Russian) // Seid freundlich und respektiert einander (German) // 親切にし、お互いを尊重し合いましょう (Japanese) // दयालु बनें, और एक दूसरे का सम्मान करें (Hindi) // Siate gentili e rispettatevi a vicenda (Italian)

4 tanggapan

  1. Avatar Andi Sakab

    Mungkin saya salah satu yang pernah (bukan sering) berkonsultasi dengan sang Mbah Dukun yang bernama Google ini.

    Tetapi biasanya cuma sebatas mencari referensi bacaannya saja. Jika memang di anggap serius ya saya musti langsung datang ke dokter untuk di periksa plus minta obatnya juga 🙂

    1. Avatar Cahya

      Saya juga sering mengakses artikel kesehatan melalui penelusuran Google. Secara keseluruhan memang membantu memperkaya ilmu, hanya saja tetap mesti waspada sama jebakan yang mungkin ada.

      Kalau saya sakit, saya juga ke dokter kok Mas •?•

  2. Avatar @zizydmk
    @zizydmk

    Kalau untuk informasi saja, memang harus menyerap dari mana saja, asal bisa dipercaya. Google sendiri bisa dipercaya as long as pendapat itu adalah hasil dari user experience, so bukan hanya info yang didapat dari hasil copas entah darimana dan berharap orang mengunjungi situsnya.
    Tapi kalau sudah menyangkut penyakit, saya lebih suka langsung ke dokter. Bukan tidak percaya pada milis, tapi pengalaman orang beda-beda terhadap penyakit, jadi lebih baik bila yang ahlinya saja yang mendiagnosa. 🙂

    1. Avatar Cahya

      Itu dia yang saya maksudkan Mbak ?

Tinggalkan Balasan

Eksplorasi konten lain dari Bhyllabus l'énigme

Langganan sekarang agar bisa terus membaca dan mendapatkan akses ke semua arsip.

Lanjutkan membaca