A Cahya Legawa's Les pèlerins au-dessus des nuages

Akhirnya berakhir sudah masa penggunaan perpesanan instan Live Messenger yang dulunya menggunakan akun dari Microsoft, seperti Hotmail, MSN dan tentu saja Live. Sekarang migrasi sudah dilakukan ke Skype yang telah dimiliki oleh Microsoft. Saya pun menggabungkan akun Microsoft saya dengan Skype (yang awalnya menggunakan Gmail).

Skype saya biasanya justru aktif saat menggunakan Linux dibandingkan saat menggunakan Windows, alasannya sederhana, kualitas suaranya lebih jernih lewat Linux. Mengapa demikian? Saya sendiri tidak bisa menjelaskan.

Sudah lama saya mendapatkan pemberitahuan seperti ini:

Hello,

We are retiring the existing Messenger service globally (except for mainland China where Messenger will continue to be available) and bringing the great features of Messenger and Skype together. Update to Skype and sign in using a Microsoft Account (same as your Messenger ID) and all your Messenger contacts will be at your fingertips. You’ll be able to instant message and video chat with them just like before, and also discover new ways of staying in touch with Skype on your mobile and tablet.

Microsoft memang tampaknya sudah menyediakan Skype agar bisa diakses dipelbagai perangkat, kecuali saat ini belum ada aplikasi di Windows Phone rasanya (kenapa? – tanya kembali).

Migrasi
Proses penggabungan akun Microsoft dengan Skype dikerjakan pada aplikasi Skype 6.x di Windows Vista. Perlu meningkatkan versi Skype lawas jika fitur migrasi ini belum tersedia.

Skype adalah salah satu media komunikasi yang memiliki harga terjangkau, fitur VoIP-nya menjadi teknologi murah meriah untuk berhubungan dengan banyak orang di pelbagai belahan dunia. Fitur gratisnya memang terbatas, tapi tetap saya rasa bisa bermanfaat bagi banyak orang.

Bagi yang terbiasa menghubungi saya via Live Messenger, sekarang akan diteruskan ke layanan Skype. Kecuali Anda tinggi di Cina, maka sebaiknya segera gabungkan akun Live Messenger ke Skype.

← Kembali

Terima kasih atas tanggapan Anda. ✨

Rating(wajib)

Artikel Baru Terbit

  • Ketika Angka Kasus HIV Tidak Menceritakan Seluruh Kisah: Menata Ulang Surveilans di Era Penyakit Lanjut
    Panduan konsolidasi WHO 2026 memperbarui definisi kasus HIV dan menambahkan indikator pemantauan penyakit HIV lanjut. Ini penting bagi Indonesia, yang memiliki 564.000 ODHIV, untuk mengevaluasi kesiapan SIHA 2.1 dalam mendukung pencapaian target eliminasi HIV pada tahun 2030, dengan data diharapkan lebih akurat dan terintegrasi.
  • Permenkes Perbekalan Kesehatan 2026: Antara Visi Kemandirian dan Realitas Akses Obat di Lapangan
    Pada 17 April 2026, Menteri Kesehatan mengeluarkan Permenkes Nomor 5 Tahun 2026 yang mengatur perbekalan kesehatan. Regulasi ini mencakup produksi dalam negeri, pengendalian harga, dan transparansi, namun masih menghadapi tantangan implementasi. Kemandirian farmasi masih rendah, dengan ketergantungan pada impor dan ketersediaan obat yang tidak memadai.
  • Permenkes Penanggulangan Penyakit 2026: Satu Payung Hukum, Berlapis Konsekuensi bagi Fasilitas Kesehatan
    Menteri Kesehatan menerbitkan Permenkes Nomor 3 Tahun 2026 untuk konsolidasi pengaturan penanggulangan penyakit di Indonesia. Regulasi ini mencakup penanggulangan penyakit menular, tidak menular, kesehatan lingkungan, dan kesehatan matra, serta menyusun kewajiban baru bagi fasilitas kesehatan. Tantangan implementasi masih ada, terutama terkait ambang batas GGL yang belum ditetapkan.
  • The Dream That Keeps Breathing
    What if the size of a dream was never the point? Through a Javanese kite-maker’s parable and voices from Rumi to Marcus Aurelius, the Gita to the Dhammapada, this essay asks whether dreaming is less a destination than a form of breathing — one we must keep doing, gently, for as long as we wish to call what we’re living a life.
  • PFAS di Meja Makan: Apa yang Diungkap Tinjauan Lanskap WHO tentang “Bahan Kimia Abadi” yang Kita Telan
    WHO merilis tinjauan tentang 18 senyawa PFAS prioritas yang mencemari makanan dan air minum, serta enam kategori efek kesehatan seperti kanker dan gangguan metabolik. Makanan menjadi jalur pajanan utama. Temuan ini menunjukkan perlunya Indonesia memperkuat pemantauan PFAS untuk meningkatkan keamanan pangan dan air minum.

Commenting 101: “Be kind, and respect each other” // Bersikaplah baik, dan saling menghormati (Indonesian) // Soyez gentils et respectez-vous les uns les autres (French) // Sean amables y respétense mutuamente (Spanish) // 待人友善,互相尊重 (Chinese) // كونوا لطفاء واحترموا بعضكم البعض (Arabic) // Будьте добры и уважайте друг друга (Russian) // Seid freundlich und respektiert einander (German) // 親切にし、お互いを尊重し合いましょう (Japanese) // दयालु बनें, और एक दूसरे का सम्मान करें (Hindi) // Siate gentili e rispettatevi a vicenda (Italian)

4 tanggapan

  1. Avatar Zizy Damanik

    Kasihan juga itu Windows Messenger. Jadi ingat jaman dulu belum banyak saingannya, rasanya bangga banget gitu pake itu… 🙂

    1. Avatar Cahya

      Iya, rasanya paling bisa sendiri dulu. Tapi perkembangan teknologi memang tidak bisa ditahan.

  2. Avatar Applausr
    Applausr

    saya baru saja selesai download skype.. belum lagi coba cobanya.. belum ada lawan bicaranya sih..

  3. Avatar alief

    saya belum memanfaatkan skype ini sebagaimana mestinya bli, baru sekedar “punya”. Masih lebih sering make ym untuk komunikasi.

Tinggalkan Balasan

Eksplorasi konten lain dari Bhyllabus l'énigme

Langganan sekarang agar bisa terus membaca dan mendapatkan akses ke semua arsip.

Lanjutkan membaca