A Cahya Legawa's Les pèlerins au-dessus des nuages

JKN atau Jaminan Kesehatan Nasional akan mulai diterapkan awal tahun 2014 (dan benar-benar awal). Iklannya pun sudah mulai tayang di stasiun televisi untuk membuat masyarakat awas atas keberadaan program ini.  Dalam naskahnya disebutkan bahwa Program Jaminan Kesehatan Nasional disingkat Program JKN adalah suatu program Pemerintah dan Masyarakat/Rakyat dengan tujuan memberikan kepastian jaminan kesehatan yang menyeluruh bagi setiap rakyat Indonesia agar penduduk Indonesia dapat hidup sehat, produktif, dan sejahtera.

JKN adalah sebuah sistem asuransi kesehatan yang bersifat nirlaba, dari yang sehat untuk yang sakit, yang kaya untuk yang miskin dan yang berisiko tinggi pada yang berisiko rendah. Sistem ini akan mengganti semua jenis asuransi/jaminan sosial lainnya yang telah ada sebelumnya.

Konsep yang diusung cukup bagus, dan saya rasa akan sangat membantu masyarakat tidak mampu dalam memperoleh layanan kesehatan. Kesannya seperti utopia yang menjadi nyata.

Tapi mungkin bisa jadi jauh panggang dari api, sebab sampai saat ini premi PBI yang diterapkan sebesar Rp 15.500,00 per bulan masih sekitar separuh dari batas minimal yang “dihitung” cukup untuk memberikan jaminan kesehatan yang baik bagi kalangan masyarakat.  Sedangkan negara berkilah bahwa itu adalah daya terbaik yang bisa diberikan dalam kondisi anggaran belanja negara saat ini. Seakan-akan ada yang berkata, ingin hati hendak memeluk gunung, apa daya tangan tak sampai.

Lalu bagaimana bagusnya? Mungkin saat ini lebih baik ada daripada tidak, meski sedikit biar kami yang di lapangan berpikir keras bagaimana bisa membantu dengan lebih banyak.

Dokter mungkin akan semakin spesifik dalam memberikan terapi. Obat-obatan generik akan digunakan secara luas. Dan mungkin tidak semua kasus akan diberikan “obat”. Sebab, dengan adanya pengobatan gratis, banyak masyarakat berusaha mendapatkan pengobatan padahal penyakitnya tidak perlu obat, semisal batuk pilek biasa yang akan sembuh sendiri. Atau orang-orang yang dengan penyakit yang disebabkan oleh kebiasaan buruk, misalnya bronkitis karena merokok atau terlalu sering terpapar asap rokok; hingga obesitas yang merupakan penyakit masyarakat era modern ini.

Yang bisa diminta saat ini adalah partisipasi dari masyarakat tentunya. Agar dapat menjaga kesehatan sebaik mungkin, karena jangan sampai dana asuransi timpang karena mengatasi penyakit-penyakit yang sebenarnya bisa dicegah.

Kalau bisa pemerintah dan masyarakat lebih menggali kesadaran akan dunia kesehatan dan keselamatan. Di Amerika sudah tidak ada iklan rokok, sementara di Indonesia menjadi surganya. Ada tempat-tempat yang ketat aturan lalu lintasnya, ada daerah-daerah yang penuh dengan pengendara motor yang tidak mengenakan helm di mana-mana. Seberapa besar pun dana dikucurkan untuk asuransi kesehatan, jika faktor risiko ancaman kesehatan masih dalam tingkat yang memperihatinkan, maka akan sia-sia saja; apalagi dengan anggaran yang serba terbatas seperti saat ini.

Jika bukan kita yang mengubah lingkungan dan negeri kita menuju ke arah yang lebih baik, maka tidak akan orang lain yang membantu.

Artikel Baru Terbit

  • Ketika Diabetes Mengancam Penglihatan: Mengenal Retinopati Diabetik
    Retinopati diabetik adalah komplikasi mikrovaskular diabetes yang dapat merusak penglihatan tanpa gejala awal. Prevalensinya di Indonesia berkisar 10–32%, dengan satu dari empat pasien berisiko mengalami kondisi mengancam penglihatan. Skrining fundus rutin, kontrol glikemik ketat, serta terapi laser atau anti-VEGF menjadi kunci mencegah kebutaan akibat diabetes.
  • Ketika Diabetes Menjadi Kegawatdaruratan: Mengenal Ketoasidosis Diabetik
    Ketoasidosis diabetik adalah kegawatdaruratan metabolik diabetes melitus berupa trias hiperglikemia, ketonemia, dan asidosis, dipicu terutama oleh infeksi atau penghentian insulin. Tata laksana berpusat pada terapi cairan, insulin intravena kontinu, dan koreksi kalium, dengan pemantauan ketat untuk mencegah hipoglikemia, hipokalemia, dan komplikasi mengancam nyawa lainnya.
  • Bukan Sekadar Pikun: Menyimak Pedoman Nasional Tata Laksana Demensia 2026
    Pedoman Nasional Pelayanan Klinis (PNPK) Tata Laksana Demensia 2026 memberikan panduan untuk penanganan demensia di Indonesia. Dengan jumlah penderita yang diproyeksi meningkat, pedoman ini mencakup diagnosis, penanganan, dan strategi pencegahan. Kaya akan rekomendasi medis, hal ini penting untuk memastikan perawatan yang efektif bagi pasien demensia.
  • Satu Kali Kejang, Lalu Apa? Membaca Pedoman Nasional Tata Laksana Epilepsi Dewasa 2026
    Kejang pertama pada orang dewasa tidak otomatis berarti epilepsi, tetapi tidak boleh diabaikan. Artikel ini merangkum Pedoman Nasional Pelayanan Klinis epilepsi dewasa 2026: cara membedakan kejang dari pingsan, pertolongan pertama yang benar, peran pemeriksaan penunjang, prinsip terapi, hingga tantangan stigma dan akses obat di Indonesia. Untuk awam dan tenaga kesehatan.
  • Sang Peniru Ulung yang Bisa Diobati: Membaca Pedoman Nasional Tata Laksana Sifilis
    Indonesia kini memiliki Pedoman Nasional Pelayanan Klinis Tata Laksana Sifilis (KMK 291/2026). Artikel ini merangkum stadium penyakit, alur tes serologi, terapi penisilin, tindak lanjut, penanganan pasangan, serta perlindungan ibu hamil dan bayi, disertai catatan kritis agar fasilitas kesehatan, dari Puskesmas hingga rumah sakit rujukan, siap menerapkannya dengan aman dan konsisten.

Commenting 101: “Be kind, and respect each other” // Bersikaplah baik, dan saling menghormati (Indonesian) // Soyez gentils et respectez-vous les uns les autres (French) // Sean amables y respétense mutuamente (Spanish) // 待人友善,互相尊重 (Chinese) // كونوا لطفاء واحترموا بعضكم البعض (Arabic) // Будьте добры и уважайте друг друга (Russian) // Seid freundlich und respektiert einander (German) // 親切にし、お互いを尊重し合いましょう (Japanese) // दयालु बनें, और एक दूसरे का सम्मान करें (Hindi) // Siate gentili e rispettatevi a vicenda (Italian)

3 tanggapan

  1. Avatar I Gede Nurhadi
    I Gede Nurhadi

    Dan mungkin tidak semua kasus akan diberikan “obat”.

    kok di kasi tanda petik Obatnya..^^

    1. Avatar Cahya

      Karena persepsi orang bisa berbeda-beda ketika mendengar kata “obat”. Di EYD juga dijelaskan, tanda kutip bisa digunakan pada kata yang ditekankan maknanya :).

  2. Avatar elmoudy
    elmoudy

    menarik sekali….jaminan kesehatan nasional. bayangkan jika seluruh rakyat mendapat jaminan kesehatan, pastilah negeri ini akan sangat kuat dan berdaya saing!

    http://www.elmoudy.com

Tinggalkan Balasan

Eksplorasi konten lain dari Bhyllabus l'énigme

Langganan sekarang agar bisa terus membaca dan mendapatkan akses ke semua arsip.

Lanjutkan membaca