A Cahya Legawa's Les pèlerins au-dessus des nuages

Open Document Text (ODT) atau tulisan dokumen terbuka merupakan standar dalam menulis sebuah dokumen elektronik, baik – jika tidak salah sesuai standar Uni Eropa, maupun standar nasional Indonesia (SNI). Untuk bisa menghasilkan dokumen ini, aplikasi populer seperti Microsoft Office 2013 (ke atas, bukan ke bawah) dan – mungkin – Microsoft Office 365 bisa menghasilkan, tapi biaya untuk lisensi mereka juga layak dipertimbangkan.

Saya sendiri sudah lama menggunakan aplikasi Writer dari Document Foundation, mudah digunakan dan gratis tanpa biaya lisensi untuk digunakan di manapun.

Writer
Tampilan LibreOffice Writer – Aplikasi yang saya gunakan membangun dokumen elektronik sehari-hari.

Tapi kemudian yang menjadi permasalahan adalah, tidak semua orang (bahkan mayoritas penyusun/pengetik) yang membuat dokumen elektronik tidak “ngeh” alias dekat bentuk dokumen terbuka seperti ODT ini. Bentuk-bentuk lain lebih populer, seperti DOC, atau DOCX yang berasal dari baku aplikasi Microsoft Office cs.

Malangnya lagi, tidak banyak aplikasi populer yang mendukung luaran bentuk standar ODT. Sebagai contoh misalnya, Google Docs walau bisa mengimpor bentuk ODT, namun – setahu saya – belum bisa mengekspor dalam bentuk ODT, justru keluar dalam bentuk DOC. Jika saya bisa berbicara, maka ini adalah masalah “imperialisme” semata, bentuk dari “penjajahan” yang diterima oleh tangan terbuka.

Akan menjadi sulit jika kita membuat dan bertukar dokumen dalam bentuk (baca: format) yang berbeda, kadang tidak akan bisa menemukan sebuah titik temu yang baik. Waktu sering kali terbuang untuk sekadar menyunting kembali teks-teks yang sudah disusun rapi sebelumnya.

Namun bagi saya, menulis dalam bentuk ODT adalah kemudahan tersendiri. Mudah diterapkan, kaya fitur, bisa diakses di manapun, dan ketika disalin ke dalam web, makan standar web sudah terterapkan dengan baik. Bagi narablog seperti saya yang sebelum menulis dalam bentuk luring, maka menyalin ke web dengan standar yang baik akan sangat membantu tanpa perlu menyunting lebih banyak lagi.

Artikel Baru Terbit

  • Ketika Diabetes Menjadi Kegawatdaruratan: Mengenal Ketoasidosis Diabetik
    Ketoasidosis diabetik adalah kegawatdaruratan metabolik diabetes melitus berupa trias hiperglikemia, ketonemia, dan asidosis, dipicu terutama oleh infeksi atau penghentian insulin. Tata laksana berpusat pada terapi cairan, insulin intravena kontinu, dan koreksi kalium, dengan pemantauan ketat untuk mencegah hipoglikemia, hipokalemia, dan komplikasi mengancam nyawa lainnya.
  • Bukan Sekadar Pikun: Menyimak Pedoman Nasional Tata Laksana Demensia 2026
    Pedoman Nasional Pelayanan Klinis (PNPK) Tata Laksana Demensia 2026 memberikan panduan untuk penanganan demensia di Indonesia. Dengan jumlah penderita yang diproyeksi meningkat, pedoman ini mencakup diagnosis, penanganan, dan strategi pencegahan. Kaya akan rekomendasi medis, hal ini penting untuk memastikan perawatan yang efektif bagi pasien demensia.
  • Satu Kali Kejang, Lalu Apa? Membaca Pedoman Nasional Tata Laksana Epilepsi Dewasa 2026
    Kejang pertama pada orang dewasa tidak otomatis berarti epilepsi, tetapi tidak boleh diabaikan. Artikel ini merangkum Pedoman Nasional Pelayanan Klinis epilepsi dewasa 2026: cara membedakan kejang dari pingsan, pertolongan pertama yang benar, peran pemeriksaan penunjang, prinsip terapi, hingga tantangan stigma dan akses obat di Indonesia. Untuk awam dan tenaga kesehatan.
  • Sang Peniru Ulung yang Bisa Diobati: Membaca Pedoman Nasional Tata Laksana Sifilis
    Indonesia kini memiliki Pedoman Nasional Pelayanan Klinis Tata Laksana Sifilis (KMK 291/2026). Artikel ini merangkum stadium penyakit, alur tes serologi, terapi penisilin, tindak lanjut, penanganan pasangan, serta perlindungan ibu hamil dan bayi, disertai catatan kritis agar fasilitas kesehatan, dari Puskesmas hingga rumah sakit rujukan, siap menerapkannya dengan aman dan konsisten.
  • Sebelum Kelas Pertama Dibuka: Cara Kemenkes Menimbang Program Studi Kesehatan Baru
    Keputusan Menteri Kesehatan 294/2026 mengatur syarat rekomendasi untuk membuka program studi kesehatan baru, mencakup kajian kesesuaian dengan kebutuhan tenaga kesehatan, kerja sama dengan fasilitas terakreditasi, dan penjaminan mutu. Tujuan utama adalah menyeimbangkan jumlah lulusan dengan kebutuhan layanan kesehatan di Indonesia, terutama yang berkaitan dengan pemerataan tenaga medis.

Commenting 101: “Be kind, and respect each other” // Bersikaplah baik, dan saling menghormati (Indonesian) // Soyez gentils et respectez-vous les uns les autres (French) // Sean amables y respétense mutuamente (Spanish) // 待人友善,互相尊重 (Chinese) // كونوا لطفاء واحترموا بعضكم البعض (Arabic) // Будьте добры и уважайте друг друга (Russian) // Seid freundlich und respektiert einander (German) // 親切にし、お互いを尊重し合いましょう (Japanese) // दयालु बनें, और एक दूसरे का सम्मान करें (Hindi) // Siate gentili e rispettatevi a vicenda (Italian)

3 tanggapan

  1. […] gantinya yang bisa menyesuaikan dengan berkas-berkas Microsoft Office. Saya juga menambahkan LibreOffice sebagai perkantoran, karena saat ini berkas terbuka merupakan standar nasional dan […]

  2. Avatar Dani
    Dani

    Eh gimana kabarnya kompatibilitas libre office writer yang baru dengan ms word?

    1. Avatar Cahya

      Bagus Bli, kecuali di makro dan grafik, saya tidak menemukan kendala.

Tinggalkan Balasan

Eksplorasi konten lain dari Bhyllabus l'énigme

Langganan sekarang agar bisa terus membaca dan mendapatkan akses ke semua arsip.

Lanjutkan membaca