A Cahya Legawa's Les pèlerins au-dessus des nuages

Setiap orang pada suatu masa dalam kehidupannya, pasti akan minum obat untuk mencegah atau mengobati penyakit. Obat telah selamanya mengubah pola hidup manusia dalam melawan penyakit. Obat memberikan kesempatan bagi manusia untuk hidup lebih sehat, lebih panjang usia. Namun di sisi lain, obat juga memiliki potensi mencederai secara serius jika dikonsumsi tidak sesuai aturan, tidak dipantau penggunaannya, atau oleh karena suatu kesalahan dan keterbatasan komunikasi.

Tantangan dari WHO (organisasi kesehatan dunia) saat ini adalah mengurangi tingkat keparahan, cedera yang dapat dihindari oleh sebab pengobatan hingga 50% sepanjang periode 5 tahun secara global.

Hal ini dimasukkan ke dalam Tantangan Keselamatan Pasien Global (The Global Patient Safety Challange) dengan mengadopsi sejumlah tujuan:

  1. Akses terhadap lingkup dan sifat cedera yang dapat dihindari dan memperkuat sistem pemantauan untuk mendeteksi dan melacak cedera jenis ini.
  2. Menciptakan suatu kerangka kerja untuk tindakan pada dan oleh para pasien, profesional kesehatan, dan pemegang kebijakan untuk memfasilitasi peningkatan dalam pemesanan, peresepan, penyiapan, dispensing, administrasi, dan pemantauan praktik, yang dapat diadopsi oleh tiap-tiap wilayah.
  3. Mengembangkan panduan, materi, teknologi dan alat untuk mendukung kesiapan pengobatan yang lebih aman, menggunakan sistem untuk mengurangi kesalahan pengobatan.
  4. Melibatkan pemegang kebijakan, rekan dan industri untuk meningkatkan kewaspadaan masalah dan secara aktif berupaya meningkatkan keamanan pengobatan.
  5. Memberdayakan para pasien, keluarga, dan karir mereka untuk bisa secara aktif terlibat dalam keputusan pengobatan atau perawatan, ajukan pertanyaan, temukan kekeliruan, dan secara efektif mengelola pengobatan mereka.

Dalam mewujudkan tujuan tersebut, perlu diperhatikan bahwa ada sejumlah permasalahan mendasar yang wajib dipertimbangkan.

Pasien dan masyarakat umum belum tentu memahami tentang pengobatan yang mereka terima. Mereka pada umumnya sering menerima begitu saja pengobatan tanpa terlibat secara aktif sesuai peran mereka dalam membuat pengobatan menjadi lebih aman.

Obat-obat sering kali rumit dan bisa membingungkan pada nama dan kemasan mereka, atau kadang kurang memiliki informasi yang memadai. Hal-hal seperti nama obat rupa obat mirip (NORUM) bisa berpotensi mencederai pasien.

Profesional kesehatan kadang bisa jadi meresepkan atau memberikan obat dengan cara atau situasi yang meningkatkan risiko cedera pada pasien.

Upaya ini akan menjadi perjalanan panjang bagi dunia kesehatan. Untuk informasi lebih lengkap dapat mengunjungi halaman “Medication Without Harm” (Bahasa Inggris – WHO).

Artikel Baru Terbit

  • Berapa Jam Sebenarnya Kita Butuh Tidur? Lima Mitos yang Perlu Diluruskan
    Kebutuhan tidur bervariasi berdasarkan usia dan individu, bukan sekadar “8 jam”. Tubuh tidak dapat dilatih untuk butuh tidur lebih sedikit. Tidur siang singkat 10–20 menit justru bermanfaat. Tidak semua hewan tidur seperti manusia. Terlalu banyak tidur juga berisiko. Dan meski kurang tidur jarang membunuh langsung, microsleep akibatnya menewaskan ribuan orang di jalan Indonesia setiap tahun.
  • Gula Darah Tinggi yang Diam-Diam Merusak: Memahami Diabetes Melitus Tipe 2
    Diabetes melitus tipe 2 menyerang diam-diam—hanya satu dari 4-5 penyandang di Indonesia yang menyadari kondisinya. Artikel ini membahas patofisiologi resistansi insulin, kriteria diagnosis PERKENI, peran SGLT2 inhibitor dan GLP-1 receptor agonist dalam terapi terkini, serta kesenjangan akses pembiayaan JKN/BPJS terhadap golongan obat baru tersebut.
  • Empat Pembaruan Kunci Pedoman Malaria WHO 2026: Apa yang Berubah dan Apa Artinya bagi Indonesia
    WHO mengeluarkan pembaruan pedoman malaria pada September 2026, mencakup empat perubahan penting: pencegahan malaria pada ibu hamil dengan HIV, batas penggunaan primakuin dosis tunggal, formulasi baru artemether-lumefantrine untuk bayi <5 kg, serta peninjauan jadwal vaksin. Pembaruan ini relevan untuk Indonesia, khususnya Papua sebagai daerah berisiko tinggi.
  • Vaksin RSV untuk Ibu Hamil: Ketika Antibodi Ibu Jadi Perisai Pertama Bayi
    Vaksin RSV maternal (Abrysvo) terbukti menurunkan risiko penyakit saluran napas bawah berat pada bayi hingga 90% dalam 90 hari pertama bila diberikan pada minggu ke-28–36 kehamilan. WHO baru mengesahkan vial multidosisnya untuk memperluas akses global. Di Indonesia, vaksin ini sudah terdaftar BPOM namun belum masuk program nasional.
  • Guru di Garis Depan: Panduan Baru UNESCO, UNICEF, dan WHO untuk Menjaga Kesehatan Jiwa di Ruang Kelas
    Panduan baru UNESCO-UNICEF-WHO (2026) menegaskan peran guru dalam kesehatan jiwa sekolah: mempromosikan kesejahteraan, menyadari tanda distres, dan menghubungkan murid ke dukungan — tanpa mendiagnosis atau memberi terapi. Dengan I-NAMHS mencatat 15,5 juta remaja Indonesia mengalami masalah kesehatan mental, panduan ini relevan bagi UKS, PPKSP, dan sistem sekolah Indonesia.

Commenting 101: “Be kind, and respect each other” // Bersikaplah baik, dan saling menghormati (Indonesian) // Soyez gentils et respectez-vous les uns les autres (French) // Sean amables y respétense mutuamente (Spanish) // 待人友善,互相尊重 (Chinese) // كونوا لطفاء واحترموا بعضكم البعض (Arabic) // Будьте добры и уважайте друг друга (Russian) // Seid freundlich und respektiert einander (German) // 親切にし、お互いを尊重し合いましょう (Japanese) // दयालु बनें, और एक दूसरे का सम्मान करें (Hindi) // Siate gentili e rispettatevi a vicenda (Italian)

Tinggalkan Balasan

Eksplorasi konten lain dari Bhyllabus l'énigme

Langganan sekarang agar bisa terus membaca dan mendapatkan akses ke semua arsip.

Lanjutkan membaca