Beberapa hari ini, saya melihat sesuatu yang baru pada Microsoft Office yang saya gunakan. Terutama dari segi menu dan tampilan, saya hanya mengira sebelumnya bahwa ini adalah pembaruan minor, namun ternyata saya keliru, sistem saya telah otomatis ditingkatkan bukan hanya sekadar diperbarui dari standar Microsoft office 2016 menjadi Microsoft Office 2019.
Mungkin ini keuntungan menggunakan Microsoft Office 365, sehingga semuanya otomatis diperbarui. Saya senang dengan perubahan tampilan yang segar dan fitur-fitur baru, terutama kesan yang lebih retro yang ditampilkannya.
Sayangnya, saya tidak akan menggunakan seluruh fitur yang ditanamkan di dalamnya. Misalnya penggunaan pena/stilus sebagai salah satu alat tulis pada komputer dengan layar sentuh.
Harga pasaran untuk lisensi satu komputer cukup mahal bagi paket yang hanya menyertakan Word, Excel & PowerPoint dibanderol dengan harga mencapai USD 149,99 atau sekitar IDR 2,3 juta.
Membuat presentasi dan mengetik menjadi cukup nyaman, berikut beberapa tampilan ala Office 2019:
Slideshow ini membutuhkan JavaScript.
Tapi, jika masih menggunakan Office 2016 atau Office 2013, perlu tidak sih ditingkatkan ke Office 2019?
Ini pertanyaan klasik yang jawabannya klasik juga, itu tergantung kebutuhan kita. Kalau kita perlu fitur-fiturnya yang terbaru, termasuk kemampuan bekerja dengan komputasi awan yang mumpuni dan diperkaya dengan permodelan 3D, mungkin tetap di Office 2016 atau ditingkatkan ke Office 2019 tidak akan berpengaruh banyak, tapi jika masih menggunakan Office 2013 ke bawah, ya ada baiknya sih ditingkatkan.
Salah satu kelemahan Office adalah luarannya seringkali tidak berkesesuaian dengan luaran dari Office versi yang lebih lawas. Sehingga untuk mendapatkan kompatibilitas terbaik, maka peningkatan adalah sebuah tuntutan. Jika hal ini dirasakan mengganggu, maka alternatif lain seperti OpenOffice akan sangat disarankan.
Atau Anda bisa menjadi pengguna Office 365, tinggal pasang dan lupakan kapan peningkatan akan tiba dengan sendirinya.
Retinopati diabetik adalah komplikasi mikrovaskular diabetes yang dapat merusak penglihatan tanpa gejala awal. Prevalensinya di Indonesia berkisar 10–32%, dengan satu dari empat pasien berisiko mengalami kondisi mengancam penglihatan. Skrining fundus rutin, kontrol glikemik ketat, serta terapi laser atau anti-VEGF menjadi kunci mencegah kebutaan akibat diabetes.
Ketoasidosis diabetik adalah kegawatdaruratan metabolik diabetes melitus berupa trias hiperglikemia, ketonemia, dan asidosis, dipicu terutama oleh infeksi atau penghentian insulin. Tata laksana berpusat pada terapi cairan, insulin intravena kontinu, dan koreksi kalium, dengan pemantauan ketat untuk mencegah hipoglikemia, hipokalemia, dan komplikasi mengancam nyawa lainnya.
Pedoman Nasional Pelayanan Klinis (PNPK) Tata Laksana Demensia 2026 memberikan panduan untuk penanganan demensia di Indonesia. Dengan jumlah penderita yang diproyeksi meningkat, pedoman ini mencakup diagnosis, penanganan, dan strategi pencegahan. Kaya akan rekomendasi medis, hal ini penting untuk memastikan perawatan yang efektif bagi pasien demensia.
Kejang pertama pada orang dewasa tidak otomatis berarti epilepsi, tetapi tidak boleh diabaikan. Artikel ini merangkum Pedoman Nasional Pelayanan Klinis epilepsi dewasa 2026: cara membedakan kejang dari pingsan, pertolongan pertama yang benar, peran pemeriksaan penunjang, prinsip terapi, hingga tantangan stigma dan akses obat di Indonesia. Untuk awam dan tenaga kesehatan.
Indonesia kini memiliki Pedoman Nasional Pelayanan Klinis Tata Laksana Sifilis (KMK 291/2026). Artikel ini merangkum stadium penyakit, alur tes serologi, terapi penisilin, tindak lanjut, penanganan pasangan, serta perlindungan ibu hamil dan bayi, disertai catatan kritis agar fasilitas kesehatan, dari Puskesmas hingga rumah sakit rujukan, siap menerapkannya dengan aman dan konsisten.
Commenting 101: “Be kind, and respect each other” // Bersikaplah baik, dan saling menghormati (Indonesian) // Soyez gentils et respectez-vous les uns les autres (French) // Sean amables y respétense mutuamente (Spanish) // 待人友善,互相尊重 (Chinese) // كونوا لطفاء واحترموا بعضكم البعض (Arabic) // Будьте добры и уважайте друг друга (Russian) // Seid freundlich und respektiert einander (German) // 親切にし、お互いを尊重し合いましょう (Japanese) // दयालु बनें, और एक दूसरे का सम्मान करें (Hindi) // Siate gentili e rispettatevi a vicenda (Italian)
Sedeng aja Mas, saya pakai di tablet PC RAM 1 GB masih bisa mengetik dengan nyaman, walau pertama kali membuka memang berat (edisi Office 2016). Harusnya 2 GB bisa, syarat RAM sepertinya juga dihilangkan dari system requirement Office 2019, satu-satunya yang kelihat jelas adalah perlu sistem operasi Windows 10.
Kalau saya tidak merasakan perubahan perfoma Mas ketika jadi Office 2019, makanya saya tidak sadar ketika ternyata itu sudah ditingkatkan ke Office baru 🙂
Tinggalkan Balasan