Beberapa bulan ini, selain kerja, kuliah dan kerja, saya juga mengikuti beberapa pelatihan dan seminar yang diselengarakan secara daring. Pandemi mengubah banyak hal, salah satunya adalah bagaimana kita berkomunikasi dalam kelompok besar. Tentu saja tidak semua pelatihan yang masuk dalam agenda saya dilakukan secara daring, tapi sebagian besar ya.
Pelatihan yang saya terutama terkait dengan pencegahan dan pengendalian infeksi. Ini adalah salah satu ujung keilmuwan manajemen kesehatan yang paling bermanfaat di era pandemi. Bagaimana mengelola orang dan tempat yang di mana berpotensi menjadi area penularan COVID-19 tetap aman bagi banyak orang yang memanfaatkannya.
Sertifikat pelatihan PPI Online
Selain pelatihan secara daring, setidaknya beberapa buku menemani saya untuk memperkaya diri. Dua di antaranya yang menjadi favorit saya adalah “Prevention and Control of Infections in Hospitals: Practice and Theory” oleh Bjørg Marit Andersen, dan buku “Infection Prevention New Perspectives and Controversies” oleh Gonzalo Bearman dan kawan-kawan.
Pun demikian, saya masih tetap merasa bahwa pengetahuan saya selalu ada kurangnya, dan perlu selalu diasah dan perbarui setiap saat. Dan masih ada sejumlah pelatihan serta lokakarya dengan topik yang serupa menanti saya pada bulan ini.
Sebagai seseorang yang dengan risiko tinggi terkena COVID-19 akibat kerja, saya berharap pelatihan ini memberikan saya bekal untuk melindungi diri dan orang-orang di sekitar saya selama pandemi.
Pada 17 April 2026, Menteri Kesehatan mengeluarkan Permenkes Nomor 5 Tahun 2026 yang mengatur perbekalan kesehatan. Regulasi ini mencakup produksi dalam negeri, pengendalian harga, dan transparansi, namun masih menghadapi tantangan implementasi. Kemandirian farmasi masih rendah, dengan ketergantungan pada impor dan ketersediaan obat yang tidak memadai.
Menteri Kesehatan menerbitkan Permenkes Nomor 3 Tahun 2026 untuk konsolidasi pengaturan penanggulangan penyakit di Indonesia. Regulasi ini mencakup penanggulangan penyakit menular, tidak menular, kesehatan lingkungan, dan kesehatan matra, serta menyusun kewajiban baru bagi fasilitas kesehatan. Tantangan implementasi masih ada, terutama terkait ambang batas GGL yang belum ditetapkan.
What if the size of a dream was never the point? Through a Javanese kite-maker’s parable and voices from Rumi to Marcus Aurelius, the Gita to the Dhammapada, this essay asks whether dreaming is less a destination than a form of breathing — one we must keep doing, gently, for as long as we wish to call what we’re living a life.
WHO merilis tinjauan tentang 18 senyawa PFAS prioritas yang mencemari makanan dan air minum, serta enam kategori efek kesehatan seperti kanker dan gangguan metabolik. Makanan menjadi jalur pajanan utama. Temuan ini menunjukkan perlunya Indonesia memperkuat pemantauan PFAS untuk meningkatkan keamanan pangan dan air minum.
Evaluasi terbaru oleh JECFA (2026) menunjukkan risiko arsenik dalam makanan tidak hanya terkait kanker, tetapi juga penyakit jantung pada dosis lebih rendah. Beras menjadi sumber utama paparan, termasuk di Indonesia, di mana data dari Sulawesi Utara menunjukkan melampaui ambang aman. Perlu ada langkah kehati-hatian dan pembaruan regulasi keamanan pangan.
Commenting 101: “Be kind, and respect each other” // Bersikaplah baik, dan saling menghormati (Indonesian) // Soyez gentils et respectez-vous les uns les autres (French) // Sean amables y respétense mutuamente (Spanish) // 待人友善,互相尊重 (Chinese) // كونوا لطفاء واحترموا بعضكم البعض (Arabic) // Будьте добры и уважайте друг друга (Russian) // Seid freundlich und respektiert einander (German) // 親切にし、お互いを尊重し合いましょう (Japanese) // दयालु बनें, और एक दूसरे का सम्मान करें (Hindi) // Siate gentili e rispettatevi a vicenda (Italian)
Tinggalkan Balasan