Ingin menulis sesuatu yang bersifat ilmiah, mulai dari esai hingga karya tulis dan penelitian? Kita akan memerlukan banyak membaca terlebih dahulu, meskipun kita tahu mengenai topik yang hendak kita tulis. Apa yang dipilih untuk dibaca? Ini menjadi pertanyaan berikutnya.
Sebagai praktisi kesehatan, sumber referensi saya biasanya berkisar pada situs kesehatan dan jurnal kesehatan. Sebagian besar dapat diakses melalui selingkung di PubMed, dan sebagian lain mungkin ditelusuri dengan memanfaatkan mesin Google Cendikia.
Tentu saja ada “mainan” lain yang bisa digunakan, yaitu Open Knowledge Maps.
Layanan publik ini memberikan kita sebuah cara baru untuk menemukan penelitian (dan tulisan lain) terkait topik yang hendak kita dalami dan/atau teliti.
Pengguna bisa mendapatkan gambaran, konsep terkait, pengelompokan topik, dan penandaan konten yang terbuka bagi publik (open content). Fitur terakhir biasanya sangat diminati oleh kelompok yang memiliki anggaran terbatas untuk mengakses sebuah laporan penelitian – seperti saya.
Penggunaannya juga tidak sulit. Pengguna cukup memasukkan kata kunci topik yang hendak dicari, dan sistem akan mencari 100 dokumen paling terkait dengan kata kunci tersebut. Sistem akan menentukan kemiripan kata kunci dan mengembangkan pemetaan visual bagi pengguna.
Open Knowledge Map akan membantu kita dalam mencari dan mengumpulkan, kira-kira ke arah mana tulisan atau penelitian kita dapat berjalan.
Menteri Kesehatan menerbitkan Permenkes Nomor 3 Tahun 2026 untuk konsolidasi pengaturan penanggulangan penyakit di Indonesia. Regulasi ini mencakup penanggulangan penyakit menular, tidak menular, kesehatan lingkungan, dan kesehatan matra, serta menyusun kewajiban baru bagi fasilitas kesehatan. Tantangan implementasi masih ada, terutama terkait ambang batas GGL yang belum ditetapkan.
What if the size of a dream was never the point? Through a Javanese kite-maker’s parable and voices from Rumi to Marcus Aurelius, the Gita to the Dhammapada, this essay asks whether dreaming is less a destination than a form of breathing — one we must keep doing, gently, for as long as we wish to call what we’re living a life.
WHO merilis tinjauan tentang 18 senyawa PFAS prioritas yang mencemari makanan dan air minum, serta enam kategori efek kesehatan seperti kanker dan gangguan metabolik. Makanan menjadi jalur pajanan utama. Temuan ini menunjukkan perlunya Indonesia memperkuat pemantauan PFAS untuk meningkatkan keamanan pangan dan air minum.
Evaluasi terbaru oleh JECFA (2026) menunjukkan risiko arsenik dalam makanan tidak hanya terkait kanker, tetapi juga penyakit jantung pada dosis lebih rendah. Beras menjadi sumber utama paparan, termasuk di Indonesia, di mana data dari Sulawesi Utara menunjukkan melampaui ambang aman. Perlu ada langkah kehati-hatian dan pembaruan regulasi keamanan pangan.
Leishmaniasis kutaneus dan PKDL adalah dua wajah dari infeksi parasit Leishmania yang ditularkan lalat pasir—jarang ditemukan di Indonesia, namun tetap relevan lewat kasus impor dari personel yang bertugas di kawasan endemik. Artikel ini mengulas gejala, diagnosis banding dengan kusta, dan tata laksana berdasarkan panduan terbaru WHO SEARO
Commenting 101: “Be kind, and respect each other” // Bersikaplah baik, dan saling menghormati (Indonesian) // Soyez gentils et respectez-vous les uns les autres (French) // Sean amables y respétense mutuamente (Spanish) // 待人友善,互相尊重 (Chinese) // كونوا لطفاء واحترموا بعضكم البعض (Arabic) // Будьте добры и уважайте друг друга (Russian) // Seid freundlich und respektiert einander (German) // 親切にし、お互いを尊重し合いましょう (Japanese) // दयालु बनें, और एक दूसरे का सम्मान करें (Hindi) // Siate gentili e rispettatevi a vicenda (Italian)
Tinggalkan Balasan