Ingin menulis sesuatu yang bersifat ilmiah, mulai dari esai hingga karya tulis dan penelitian? Kita akan memerlukan banyak membaca terlebih dahulu, meskipun kita tahu mengenai topik yang hendak kita tulis. Apa yang dipilih untuk dibaca? Ini menjadi pertanyaan berikutnya.
Sebagai praktisi kesehatan, sumber referensi saya biasanya berkisar pada situs kesehatan dan jurnal kesehatan. Sebagian besar dapat diakses melalui selingkung di PubMed, dan sebagian lain mungkin ditelusuri dengan memanfaatkan mesin Google Cendikia.
Tentu saja ada “mainan” lain yang bisa digunakan, yaitu Open Knowledge Maps.
Layanan publik ini memberikan kita sebuah cara baru untuk menemukan penelitian (dan tulisan lain) terkait topik yang hendak kita dalami dan/atau teliti.
Pengguna bisa mendapatkan gambaran, konsep terkait, pengelompokan topik, dan penandaan konten yang terbuka bagi publik (open content). Fitur terakhir biasanya sangat diminati oleh kelompok yang memiliki anggaran terbatas untuk mengakses sebuah laporan penelitian – seperti saya.
Penggunaannya juga tidak sulit. Pengguna cukup memasukkan kata kunci topik yang hendak dicari, dan sistem akan mencari 100 dokumen paling terkait dengan kata kunci tersebut. Sistem akan menentukan kemiripan kata kunci dan mengembangkan pemetaan visual bagi pengguna.
Open Knowledge Map akan membantu kita dalam mencari dan mengumpulkan, kira-kira ke arah mana tulisan atau penelitian kita dapat berjalan.
ADA menerbitkan pernyataan ilmiah pertamanya tentang teknologi diabetes di layanan primer. Pemantauan glukosa kontinu, pena insulin terhubung, dan insulin otomatis diharapkan masuk praktik sehari-hari lewat pelatihan, pembagian peran, dan peninjauan data rutin. Artikel ini menimbang relevansinya bagi puskesmas dan klinik di Indonesia, serta kesenjangan akses dan pembiayaan yang perlu dijembatani.
Uji fase 3 TRIUMPH-2 menunjukkan retatrutide, agonis tiga hormon sekali seminggu, menurunkan berat badan hingga 20,8% dan HbA1c hingga 1,6 poin pada 1.152 penyandang diabetes tipe 2 dengan obesitas. Efek samping terutama pencernaan. Obat ini belum disetujui, dan pertanyaan keamanan serta penerapannya di populasi Asia masih perlu dijawab studi lanjutan.
Panduan implementasi SAFER WHO (30 September 2026) bukan rekomendasi baru, melainkan peta jalan menjalankan lima intervensi alkohol yang sudah terbukti: pembatasan ketersediaan, penegakan aturan berkendara, skrining dan terapi, pelarangan iklan, serta cukai. Dari tingkat nasional, komunitas, hingga tempat kerja, kuncinya pemantauan dan perlindungan dari konflik kepentingan.
Tempurung lutut yang tiba-tiba “keluar dari jalurnya” saat berolahraga bukan sekadar keseleo biasa. Artikel ini mengulas dislokasi patela berdasarkan konsensus ESSKA 2024 terbaru—mulai mekanisme cedera, diagnosis, pilihan tata laksana konservatif versus bedah, hingga mengapa separuh pasien tetap bergejala meski tanpa kekambuhan, dan konteks alur layanan di Indonesia
Panduan WHO edisi kedua (September 2026) menyempurnakan pengobatan TBC resistan obat: pasien pre-XDR-TB kini dibedakan menurut derajat keparahan paru untuk memilih BPaL, BPaLC, atau BDLC, dan perawatan paliatif resmi masuk rekomendasi. Bukti masih berkepastian sangat rendah, sehingga adaptasi nasional dan penilaian keparahan yang cermat menjadi kunci bagi layanan di Indonesia.
Commenting 101: “Be kind, and respect each other” // Bersikaplah baik, dan saling menghormati (Indonesian) // Soyez gentils et respectez-vous les uns les autres (French) // Sean amables y respétense mutuamente (Spanish) // 待人友善,互相尊重 (Chinese) // كونوا لطفاء واحترموا بعضكم البعض (Arabic) // Будьте добры и уважайте друг друга (Russian) // Seid freundlich und respektiert einander (German) // 親切にし、お互いを尊重し合いましょう (Japanese) // दयालु बनें, और एक दूसरे का सम्मान करें (Hindi) // Siate gentili e rispettatevi a vicenda (Italian)
Tinggalkan Balasan