A Cahya Legawa's Les pèlerins au-dessus des nuages

Zorin OS 16 merupakan rilis terbaru Zorin yang termasuk bagi saya merupakan salah satu alternatif terbaik ketika beralih dari Windows ke distribusi Linux. Perubahan sendiri tidak begitu banyak dari edisi sebelumnya, sehingga menjadikan Zorin OS ramah bagi pengguna lama maupun baru.

Berbasis Ubuntu (DEB) dengan antarmuka yang diturunkan dari Gnome, membuat Zorin OS tampil bersih dan nyaman. Bahkan Pop!_OS yang populer pun tidak memiliki tampilan senyaman Zorin OS. Satu-satunya yang lebih bagus dari Zorin OS menurut saya pribadi adalah Elementary OS, yang sayangnya bersifat terlalu eksklusif.

Zorin OS 16

Berkas pemasangannya tidak begitu besar, sekitar 2-3 GB, dan bisa ditanamkan ke UFD dengan kapasitas 4-8 GB. Pemasangannya juga tidak sulit, hanya memerlukan waktu yang relatif lebih lama dibandingkan distribusi lain yang pernah saya coba melalui VMWare.

Seperti Pop!_OS, Zorin OS juga memiliki koleksi pasar aplikasi yang luar biasa banyak. Tapi seiring dengan populernya pemasang universal seperti Flatpak dan Snap, sebagian besar distribusi memiliki pilihan ini. Hanya saja, Zorin OS sudah menanamkan keduanya secara otomatis.

Dukungan perangkat lunak yang luas bukan saja kemudahan yang diberikan oleh Zorin OS. Tapi setidaknya memudahkan bagi pengguna baru yang tidak terbiasa memasang aplikasi menggunakan baris perintah baik dengan mengambil dari repositori ubuntu, flatpak, maupun snapcraft.

Zorin OS juga memiliki fitur penawaran aplikasi alternatif jika pengguna mencoba memasang aplikasi berbasis Windows (EXE).

Menggunakan VMWare tidak memberikan pengelaman yang nyaman bagi saya, walaupun telah dialokasi 8GB RAM dengan dua prosesor. Mungkin saya perlu mencobanya pada mesin tersendiri secara langsung, sayangnya mesin tersebut masih saya gunakan.

Secara keseluruhan, pengalamaan sesaat menggunakan Zorin OS 16 memberikan beberapa kepuasan, mulai dari pemasangan yang mudah, akses terhadap software yang berlimpah, dan tentu saja antarmuka jernih khas Zorin yang membuat pengguna betah.

← Kembali

Terima kasih atas tanggapan Anda. ✨

Rating(wajib)

Artikel Baru Terbit

  • Permenkes Penanggulangan Penyakit 2026: Satu Payung Hukum, Berlapis Konsekuensi bagi Fasilitas Kesehatan
    Menteri Kesehatan menerbitkan Permenkes Nomor 3 Tahun 2026 untuk konsolidasi pengaturan penanggulangan penyakit di Indonesia. Regulasi ini mencakup penanggulangan penyakit menular, tidak menular, kesehatan lingkungan, dan kesehatan matra, serta menyusun kewajiban baru bagi fasilitas kesehatan. Tantangan implementasi masih ada, terutama terkait ambang batas GGL yang belum ditetapkan.
  • The Dream That Keeps Breathing
    What if the size of a dream was never the point? Through a Javanese kite-maker’s parable and voices from Rumi to Marcus Aurelius, the Gita to the Dhammapada, this essay asks whether dreaming is less a destination than a form of breathing — one we must keep doing, gently, for as long as we wish to call what we’re living a life.
  • PFAS di Meja Makan: Apa yang Diungkap Tinjauan Lanskap WHO tentang “Bahan Kimia Abadi” yang Kita Telan
    WHO merilis tinjauan tentang 18 senyawa PFAS prioritas yang mencemari makanan dan air minum, serta enam kategori efek kesehatan seperti kanker dan gangguan metabolik. Makanan menjadi jalur pajanan utama. Temuan ini menunjukkan perlunya Indonesia memperkuat pemantauan PFAS untuk meningkatkan keamanan pangan dan air minum.
  • Nasi di Piring, Racun yang Tak Terlihat: Apa Kata Evaluasi Terbaru WHO/FAO tentang Arsenik dalam Makanan
    Evaluasi terbaru oleh JECFA (2026) menunjukkan risiko arsenik dalam makanan tidak hanya terkait kanker, tetapi juga penyakit jantung pada dosis lebih rendah. Beras menjadi sumber utama paparan, termasuk di Indonesia, di mana data dari Sulawesi Utara menunjukkan melampaui ambang aman. Perlu ada langkah kehati-hatian dan pembaruan regulasi keamanan pangan.
  • Wajah Ganda Sang Parasit: Mengenal Leishmaniasis Kutaneus dan PKDL, Dua Babak dari Satu Penyakit
    Leishmaniasis kutaneus dan PKDL adalah dua wajah dari infeksi parasit Leishmania yang ditularkan lalat pasir—jarang ditemukan di Indonesia, namun tetap relevan lewat kasus impor dari personel yang bertugas di kawasan endemik. Artikel ini mengulas gejala, diagnosis banding dengan kusta, dan tata laksana berdasarkan panduan terbaru WHO SEARO

Commenting 101: “Be kind, and respect each other” // Bersikaplah baik, dan saling menghormati (Indonesian) // Soyez gentils et respectez-vous les uns les autres (French) // Sean amables y respétense mutuamente (Spanish) // 待人友善,互相尊重 (Chinese) // كونوا لطفاء واحترموا بعضكم البعض (Arabic) // Будьте добры и уважайте друг друга (Russian) // Seid freundlich und respektiert einander (German) // 親切にし、お互いを尊重し合いましょう (Japanese) // दयालु बनें, और एक दूसरे का सम्मान करें (Hindi) // Siate gentili e rispettatevi a vicenda (Italian)

Tinggalkan Balasan

Eksplorasi konten lain dari Bhyllabus l'énigme

Langganan sekarang agar bisa terus membaca dan mendapatkan akses ke semua arsip.

Lanjutkan membaca