A Cahya Legawa's Les pèlerins au-dessus des nuages

Bayi yang baru lahir tampak sehat — pipi merah, tangis lantang, refleks isap kuat. Sayangnya, satu di antara beberapa ribu bayi yang terlihat “sempurna” itu menyimpan kelainan yang baru menampakkan akibatnya beberapa bulan kemudian, ketika kerusakan otak sudah tidak bisa lagi diperbaiki. Kelainan itu bernama hipotiroid kongenital (HK), dan kabar baiknya: cukup setetes darah dari tumit untuk mendeteksinya tepat waktu.

Apa Itu Hipotiroid Kongenital?

Hipotiroid kongenital adalah kondisi ketika kelenjar tiroid bayi tidak memproduksi hormon tiroid dalam jumlah cukup sejak masa janin atau awal kehidupan. Penyebabnya beragam: kelenjar tiroid yang tidak terbentuk (thyroid agenesis), posisinya tidak pada tempatnya (ectopia), ukurannya kecil (hypoplasia), atau adanya gangguan pada produksi hormon (dyshormonogenesis). Pada sebagian kecil kasus, masalahnya berada di hipofisis atau hipotalamus, yang dikenal sebagai hipotiroid kongenital sentral (central congenital hypothyroidism) (Garrelfs et al., 2025).

Hormon tiroid berperan vital pada perkembangan otak janin dan bayi. Bila kekurangannya tidak dikoreksi pada beberapa minggu pertama kehidupan, dampaknya bersifat permanen: gangguan kognitif, keterlambatan motorik, hingga retardasi mental. Inilah mengapa Rose et al. (2023) menegaskan bahwa HK termasuk salah satu penyebab disabilitas intelektual yang paling dapat dicegah sekaligus paling tragis bila terlewat.

Mengapa Tidak Bisa Mengandalkan Gejala Klinis?

Inilah jebakan terbesar HK: bayi yang terkena seringkali tampak normal pada minggu-minggu awal. Gejala klasik seperti ikterus berkepanjangan, hernia umbilikalis, lidah besar (macroglossia), hipotonia, konstipasi, fontanel posterior lebar, dan kulit dingin-belang (cutis marmorata) baru muncul ketika kerusakan neurologis sudah berlangsung. Penelitian di RSCM dan RSHS menunjukkan kenyataan pahit: sekitar 70% diagnosis HK di Indonesia baru ditegakkan setelah anak berusia di atas satu tahun, ketika gangguan otak sudah ireversibel (Muharis & Triani, 2024).

Karena itulah komunitas global sepakat: skrining wajib dilakukan secara universal pada semua bayi baru lahir, bukan hanya pada yang “mencurigakan” (Arrigoni et al., 2025).

Bagaimana Skrining Dilakukan?

Skrining Hipotiroid Kongenital (SHK) di Indonesia mengikuti standar global: pengambilan beberapa tetes darah dari tumit bayi (heel prick) yang diteteskan ke kertas saring khusus (Guthrie card / dried blood spot). Sampel ini kemudian diperiksa kadar TSH (thyroid-stimulating hormone)-nya di laboratorium rujukan.

Waktu pengambilan yang ideal adalah 48–72 jam setelah kelahiran, dengan batas maksimal dua minggu. Pengambilan terlalu dini berisiko false positive karena lonjakan TSH fisiologis pasca-lahir, sedangkan terlalu lambat membuang waktu emas untuk intervensi (Kementerian Kesehatan RI, 2024).

Bila TSH terdeteksi tinggi, bayi dipanggil ulang untuk pemeriksaan konfirmasi serum (TSH dan FT4/T4 total). Jika hasilnya menunjukkan hipotiroidisme primer, terapi harus segera dimulai — idealnya sebelum usia 2 minggu (van Trotsenburg et al., 2021).

Pengobatan: Sederhana, Murah, dan Mengubah Nasib

Tata laksana HK adalah salah satu kisah sukses kedokteran modern karena begitu sederhananya. Obatnya hanya satu: levothyroxine (L-T4) oral, dengan dosis awal 10–15 μg/kg/hari, diberikan setiap hari pada bayi (van Trotsenburg et al., 2021; Rose et al., 2023). Tablet dihancurkan dan diberikan dengan sedikit air atau ASI. Pemantauan TSH dan FT4 dilakukan rutin: dua mingguan hingga TSH normal, kemudian setiap 1–3 bulan pada tahun pertama.

Bila terapi dimulai dalam dua minggu pertama dengan dosis adekuat, prognosis kognitif bayi pada masa dewasa secara umum tidak berbeda dari populasi normal (van Trotsenburg et al., 2021). Bandingkan dengan bayi yang terlewat: IQ dapat turun hingga 20–40 poin secara permanen.

Wajah SHK di Indonesia: Akselerasi yang Belum Selesai

Indonesia memulai program SHK pada 2008 di delapan provinsi, lalu memperluasnya secara bertahap. Permenkes Nomor 78 Tahun 2014 menetapkan SHK sebagai layanan yang harus tersedia di seluruh fasilitas kesehatan ibu dan anak (Kementerian Kesehatan RI, 2014). Namun cakupan riilnya lama bertahan di angka yang memprihatinkan — kurang dari 2% pada awal 2020-an, dengan insidensi terlapor hanya 1:12.724 kelahiran pada 2022, jauh dari angka global 1:2.000–1:4.000 (Kemenkes RI, 2023, sebagaimana dikutip dalam Hiola et al., 2022).

Angka rendah ini bukan berarti orang Indonesia lebih “tahan”; sebaliknya, ini cermin dari kasus yang luput, bukan kasus yang tidak ada. Studi RSCM 2000–2014 justru menemukan rasio 1:2.135 — lebih tinggi dari rerata global (RS Universitas Indonesia, 2024).

Akselerasi nyata terjadi pada 2023–2024. Kementerian Kesehatan melaporkan bahwa sekitar 1,2 juta bayi telah menjalani SHK hingga akhir 2023, dengan target perluasan agar seluruh fasilitas pelayanan kesehatan terlibat (Kementerian Kesehatan RI, 2024). Hambatannya tetap klasik: keterbatasan logistik kertas saring dan jasa kurir, distribusi laboratorium yang terpusat, persetujuan keluarga yang masih bergantung pada pemahaman, serta variasi pelatihan tenaga kesehatan di tingkat puskesmas (Hiola et al., 2022; Dalong et al., 2025).

Isu Mutakhir: Lebih dari Sekadar “Lulus atau Tidak Lulus”

Lima dekade pengalaman global telah menggeser pertanyaan dari “apakah perlu skrining?” menjadi “bagaimana skrining yang lebih cerdas?”. Beberapa pergeseran penting yang patut diketahui klinisi Indonesia:

Pertama, fenomena overdiagnosis pada kasus ringan. Penurunan ambang batas TSH selama tiga dekade telah meningkatkan deteksi HK ringan, tetapi sebagian di antaranya bersifat transient dan mungkin tidak memerlukan terapi seumur hidup. Grob et al. (2025) menyerukan integrasi pendekatan omics (proteomik dan metabolomik) untuk membedakan kasus yang benar-benar memerlukan intervensi dari yang akan membaik sendiri.

Kedua, populasi khusus. Bayi prematur, berat lahir sangat rendah, kembar identik, bayi dengan sindrom Down, dan bayi yang dirawat di NICU memerlukan skrining ulang karena rentan mengalami delayed TSH rise — kenaikan TSH yang terlambat dan luput dari pemeriksaan tunggal. Pedoman ESPE/ENDO-ERN merekomendasikan skrining kedua pada kelompok ini sekitar usia 2–4 minggu (van Trotsenburg et al., 2021).

Ketiga, hipotiroid kongenital sentral. Skrining berbasis TSH saja tidak akan menangkap kelainan ini. Beberapa negara seperti Belanda telah lama menggabungkan TSH dengan T4 untuk mendeteksinya, dan diskusi tentang panel skrining yang lebih luas — termasuk penyakit tiroid langka seperti sindrom Allan-Herndon-Dudley dan resistensi hormon tiroid — terus berkembang (Persani et al., 2025).

Keempat, ketimpangan global. Meski 50 tahun telah berlalu sejak SHK pertama, sekitar 70% bayi di dunia masih belum mendapat skrining, dan negara berpenghasilan menengah-bawah seperti Indonesia menanggung beban terbesar (Arrigoni et al., 2025). Pelajaran yang konsisten: keberhasilan SHK lebih ditentukan oleh sistem rujukan, logistik, dan tata kelola data ketimbang teknologi laboratoriumnya.

Pesan untuk Klinisi dan Orang Tua

Sebagai dokter di fasilitas pelayanan primer maupun rumah sakit, kita berdiri pada titik paling strategis: memastikan tidak ada bayi yang pulang tanpa SHK. Edukasi singkat saat antenatal, kesiapan kertas saring di ruang bersalin, alur pengiriman sampel yang jelas, dan kemampuan menjelaskan hasil panggilan ulang dengan tenang kepada orang tua — keempat hal ini berdampak lebih besar daripada perdebatan teknis tentang ambang batas TSH.

Bagi orang tua, pesannya sederhana: jangan tolak skrining ini. Setetes darah hari ini bisa menyelamatkan satu kehidupan utuh — kehidupan dengan otak yang berkembang sebagaimana mestinya, sekolah yang lancar, dan masa depan yang utuh. Tidak banyak intervensi medis yang menawarkan rasio manfaat-risiko sebesar itu.

Penutup

Skrining hipotiroid kongenital adalah salah satu contoh paling elegan dari kedokteran preventif: murah, sederhana, terbukti efektif, dan menyelamatkan kapasitas kognitif seumur hidup. Tantangan Indonesia bukan lagi soal kemauan — kebijakan sudah ada — melainkan soal eksekusi yang merata hingga ke pelosok. Setiap bayi yang lahir di Indonesia, baik di rumah sakit besar Jakarta maupun di puskesmas pegunungan terpencil, berhak atas setetes darah dari tumitnya diperiksa. Karena di sanalah, sering tanpa kita sadari, takdir seorang anak ditentukan.


Daftar Referensi

Arrigoni, M., Zwaveling-Soonawala, N., LaFranchi, S. H., van Trotsenburg, A. S. P., & Mooij, C. F. (2025). Newborn screening for congenital hypothyroidism: Worldwide coverage 50 years after its start. European Thyroid Journal, 14(1), e240327. https://doi.org/10.1530/ETJ-24-0327

Dalong, L., Manurung, I. F. E., Berek, N. C., Weraman, P., & Roga, A. U. (2025). Analisis implementasi kebijakan skrining hipotiroid kongenital di Indonesia: Studi kasus di Kabupaten Kupang. Jurnal Promotif Preventif, 8(4), 890–897. https://doi.org/10.47650/jpp.v8i4.2006

Garrelfs, M. R., Mooij, C. F., Boelen, A., van Trotsenburg, A. S. P., & Zwaveling-Soonawala, N. (2025). Newborn screening for central congenital hypothyroidism: Past, present and future. European Thyroid Journal, 14(2), e240329. https://doi.org/10.1530/ETJ-24-0329

Grob, F., Lain, S., & Olivieri, A. (2025). Newborn screening for primary congenital hypothyroidism: Past, present and future. European Thyroid Journal, 14(2), e240358. https://doi.org/10.1530/ETJ-24-0358

Hiola, F. A. A., Hilamuhu, F., & Katili, D. N. O. (2022). Faktor-faktor yang mempengaruhi cakupan pelaksanaan skrining hipotiroid kongenital di RSU Prof. Dr. H. Aloe Saboe Kota Gorontalo. Media Publikasi Promosi Kesehatan Indonesia, 5(4), 393–399. https://doi.org/10.31934/mppki.v2i3

Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. (2014). Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor 78 Tahun 2014 tentang Skrining Hipotiroid Kongenital. https://peraturan.go.id/id/permenkes-no-78-tahun-2014

Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. (2024, 21 Januari). 1,2 juta bayi baru lahir sudah jalani skrining hipotiroid kongenital. https://sehatnegeriku.kemkes.go.id/baca/umum/20240121/4744816/

Muharis, I. A., & Triani, E. (2024). Literature review: Skrining dan tatalaksana hipotiroid kongenital. Jurnal Ilmu Kedokteran dan Kesehatan, 11(1), 57–64. https://doi.org/10.33024/jikk.v11i1.13000

Persani, L., Cangiano, B., & Bonomi, M. (2025). Is it time to expand newborn screening for congenital hypothyroidism to other rare thyroid diseases? International Journal of Neonatal Screening, 11(3), 65. https://doi.org/10.3390/ijns11030065

Post, E. M., & Heather, N. L. (2025). Congenital hypothyroidism: Moving ahead, but a long way still to go. International Journal of Neonatal Screening, 11(4), 93. https://doi.org/10.3390/ijns11040093

Rose, S. R., Wassner, A. J., Wintergerst, K. A., Yayah-Jones, N.-H., Hopkin, R. J., Chuang, J., Smith, J. R., Abell, K., & LaFranchi, S. H. (2023). Congenital hypothyroidism: Screening and management. Pediatrics, 151(1), e2022060420. https://doi.org/10.1542/peds.2022-060420

RS Universitas Indonesia. (2024). Kenali skrining hipotiroid kongenital pada bayi baru lahir. https://rs.ui.ac.id/umum/berita-artikel/artikel-populer/kenali-skrining-hipotiroid-kongenital-pada-bayi-baru-lahir

van Trotsenburg, P., Stoupa, A., Léger, J., Rohrer, T., Peters, C., Fugazzola, L., Cassio, A., Heinrichs, C., Beauloye, V., Pohlenz, J., Rodien, P., Coutant, R., Szinnai, G., Murray, P., Bartés, B., Luton, D., Salerno, M., de Sanctis, L., Vigone, M., … Polak, M. (2021). Congenital hypothyroidism: A 2020–2021 consensus guidelines update — An ENDO-European Reference Network initiative endorsed by the European Society for Pediatric Endocrinology and the European Society for Endocrinology. Thyroid, 31(3), 387–419. https://doi.org/10.1089/thy.2020.0333

Artikel Baru Terbit

  • Cyclospora: Parasit Mikroskopis yang Mengintai di Balik Sayuran dan Buah Segar
    Wabah cyclosporiasis melanda ratusan warga Amerika Serikat pada musim panas 2026, disebabkan parasit mikroskopis Cyclospora cayetanensis yang mencemari sayur dan buah segar. Artikel ini mengulas biologi parasit, gejala diare “meledak-ledak”, tantangan diagnosis laboratorium, terapi TMP-SMX, hingga relevansinya bagi keamanan pangan dan kewaspadaan klinis di Indonesia.
  • Ngopi Pagi di Sragen, Otot Lebih Padat: Apa Kata Riset Terbaru soal Kopi dan Komposisi Tubuh?
    Studi kohort Finlandia menemukan bahwa peminum kopi rutin memiliki lemak viseral lebih rendah dan massa otot lebih tinggi meskipun indeks massa tubuh serupa dibanding peminum kopi jarang. Pada pria, konsumsi kopi juga terkait dengan profil testosteron dan SHBG yang lebih baik, namun studi ini bersifat observasional dan tidak membuktikan hubungan sebab-akibat.
  • Faktor Kesuburan Pria: Sisi yang Sering Terlewat dalam Pencarian Momongan
    Faktor pria berkontribusi pada sekitar separuh kasus infertilitas pasangan, namun sering luput dari pemeriksaan awal. Artikel ini mengulas standar analisis sperma terbaru WHO edisi keenam serta bukti terkini mengenai pengaruh rokok, alkohol, berat badan, paparan panas, dan konsumsi gula terhadap kualitas dan integritas DNA sperma.
  • Ketika Muntah Datang Seperti Badai yang Terjadwal: Mengenal Cyclic Vomiting Syndrome
    Muntah hebat yang datang berulang lalu hilang seolah tak pernah terjadi—inilah wajah cyclic vomiting syndrome, gangguan interaksi otak-usus yang sering disalahpahami sebagai gastroenteritis biasa. Artikel ini mengulas patofisiologi, kriteria diagnosis Rome IV, pembaruan pedoman NASPGHAN 2025, serta tata laksana berbasis bukti terkini bagi klinisi di layanan primer maupun rujukan.
  • Demo Besar 27 Agustus 2026: Apa yang Perlu Dicermati Pelaku Bursa Saham dalam Jangka Pendek
    Besok, 27 Agustus 2026, Jakarta akan menggadakan unjuk rasa besar oleh berbagai aliansi. Tuntutan termasuk pengesahan RUU Perampasan Aset dan hukuman mati bagi koruptor. Polda Metro Jaya telah menyiapkan pengamanan. Aksi ini dapat mempengaruhi IHSG dan rupiah, dengan proyeksi pergerakan cenderung sideways dalam beberapa hari ke depan.

Commenting 101: “Be kind, and respect each other” // Bersikaplah baik, dan saling menghormati (Indonesian) // Soyez gentils et respectez-vous les uns les autres (French) // Sean amables y respétense mutuamente (Spanish) // 待人友善,互相尊重 (Chinese) // كونوا لطفاء واحترموا بعضكم البعض (Arabic) // Будьте добры и уважайте друг друга (Russian) // Seid freundlich und respektiert einander (German) // 親切にし、お互いを尊重し合いましょう (Japanese) // दयालु बनें, और एक दूसरे का सम्मान करें (Hindi) // Siate gentili e rispettatevi a vicenda (Italian)

  1. … reposted this!

  2. … reposted this!

  3. … reposted this!

  4. … reposted this!

  5. … reposted this!

  6. … reposted this!

  7. … reposted this!

  8. … reposted this!

  9. … reposted this!

  10. … reposted this!

Tinggalkan Balasan

Eksplorasi konten lain dari Bhyllabus l'énigme

Langganan sekarang agar bisa terus membaca dan mendapatkan akses ke semua arsip.

Lanjutkan membaca