A Cahya Legawa's Les pèlerins au-dessus des nuages

Seorang perempuan muda berusia dua puluh tiga tahun datang ke poliklinik dengan keluhan sakit perut yang sudah berlangsung hampir setahun. Ia sudah berulang kali didiagnosis “maag” dan mendapat berbagai resep antasida. Namun rasa sakitnya tidak kunjung reda — bahkan kini disertai diare kronis yang menyebabkan berat badannya turun drastis, nyeri sendi, dan sariawan yang terus kambuh. Setelah serangkaian pemeriksaan, diagnosis akhirnya jatuh pada sesuatu yang ia belum pernah dengar sebelumnya: Crohn’s disease.

Kisah seperti ini lebih umum dari yang kita kira. Crohn’s disease adalah salah satu bentuk inflammatory bowel disease (IBD) — penyakit radang usus kronis yang perjalanannya berlangsung seumur hidup, bersifat kambuh-mereda (relapsing-remitting), dan memiliki dampak yang jauh melampaui sekadar sakit perut.


Apa Itu Crohn’s Disease?

Crohn’s disease adalah penyakit radang kronis dan progresif yang ditandai oleh peradangan transmural (menembus seluruh lapisan dinding usus) yang bersifat segmental, artinya dapat muncul di bagian mana saja sepanjang saluran cerna, namun paling sering mengenai ileum terminale (ujung usus halus) dan kolon.

Yang membedakannya dari ulcerative colitis — jenis IBD lainnya — adalah sifat peradangannya yang menembus seluruh ketebalan dinding usus dan sebarannya yang tidak merata. Akibatnya, kondisi ini jauh lebih rentan menimbulkan komplikasi struktural seperti penyempitan lumen usus (striktur), pembentukan saluran abnormal (fistula), maupun abses.

Klasifikasi Montreal, yang digunakan secara internasional, mengategorikan Crohn’s disease berdasarkan tiga dimensi: usia saat diagnosis (di bawah 16 tahun, 17–40 tahun, atau di atas 40 tahun), lokasi penyakit (ileal, kolon, ileocolonic, atau traktus atas), serta perilaku penyakit (non-strikturing/non-penetrating, strikturing, penetrating, atau dengan keterlibatan perianal).


Siapa yang Rentan?

Kasus Crohn’s disease lebih sering ditemukan pada kelompok dewasa muda, meski dapat muncul di segala usia. Insidens penyakit ini berkisar antara 3 hingga 20 kasus per 100.000 penduduk per tahun, dengan beban terbesar secara historis berada di Amerika Utara dan Eropa Barat. Namun tren terbaru menunjukkan peningkatan kasus yang signifikan di Asia dan Amerika Selatan.

Di kawasan Asia, pergeseran ini berlangsung cepat dan mengkhawatirkan. Selama beberapa dekade terakhir, insidens dan prevalensi IBD — termasuk Crohn’s disease — meningkat secara bermakna baik di negara-negara Asia maupun di kalangan imigran Asia di negara-negara Barat. Yang menarik, populasi Asia menunjukkan fenotipe penyakit yang unik, antara lain dominasi kasus pada laki-laki dan frekuensi fistula perianal yang lebih tinggi dibanding populasi Barat.


Mengapa Usus Bisa Menyerang Dirinya Sendiri?

Penyebab pasti Crohn’s disease hingga kini belum sepenuhnya dipahami. Yang diketahui adalah bahwa penyakit ini merupakan hasil pertemuan tiga faktor besar: genetik, imunologi, dan lingkungan.

Faktor risiko pengembangan Crohn’s disease tampaknya berkaitan erat dengan perubahan pada gut microbiome (komunitas mikroorganisme dalam usus) atau gangguan pada mukosa intestinal. Penyakit ini tampak dipicu oleh perubahan komposisi microbiome usus atau kerusakan pada lapisan pelindung mukosa. Pasien IBD umumnya mengalami dysbiosis, yaitu berkurangnya keanekaragaman hayati microbiome usus.

Secara sederhana, pada individu yang rentan secara genetik, paparan terhadap faktor lingkungan tertentu — termasuk pola makan tinggi lemak dan rendah serat, penggunaan antibiotik berlebihan di masa kecil, hingga paparan polusi — dapat mengacaukan keseimbangan komunitas bakteri usus. Sistem imun yang seharusnya melindungi tubuh kemudian mengalami kebingungan: alih-alih hanya menyerang patogen asing, ia turut menyerang dinding usus sendiri, memicu peradangan yang tidak dapat berhenti dengan sendirinya.


Gejala yang Sering Terlewatkan

Pasien Crohn’s disease umumnya datang dengan nyeri perut, diare kronis, penurunan berat badan, dan kelelahan (fatigue). Namun gambaran klinis ini sering kali tumpang tindih dengan banyak kondisi lain — mulai dari sindrom iritasi usus besar (irritable bowel syndrome) hingga infeksi parasit — sehingga diagnosis sering tertunda bertahun-tahun.

Yang seringkali luput dari perhatian adalah manifestasi di luar usus. Selain gejala intestinal, puncak usia diagnosis berada di rentang 20–30 tahun. Manifestasi ekstraintestinal meliputi arthropathy (gangguan sendi), kelainan dermatologis seperti pyoderma gangrenosum dan erythema nodosum, serta gangguan okular.

Manifestasi muskuloskeletal, termasuk nyeri dan peradangan sendi, diperkirakan memengaruhi sekitar 46% penderita IBD. Jenis yang dapat terjadi antara lain peripheral arthritis (peradangan sendi besar), ankylosing spondylitis atau sacroiliitis (peradangan sendi tulang belakang dan sakrum), serta enthesitis dan dactylitis.

Komplikasi juga dapat mencakup dehidrasi, malabsorpsi nutrisi esensial, anemia, penurunan kepadatan tulang, serta — dalam jangka panjang — peningkatan risiko kanker kolorektal. Dampak psikologis pun tidak boleh diremehkan: depresi dan kecemasan merupakan penyerta yang umum dan signifikan memperburuk kualitas hidup.


Bagaimana Diagnosis Ditegakkan?

Tidak ada satu pun pemeriksaan tunggal yang cukup untuk mendiagnosis Crohn’s disease. Diagnosis ditegakkan melalui kombinasi endoskopi, histopatologi, dan pencitraan cross-sectional seperti MRI atau CT enterografi.

Panduan terkini dari American College of Gastroenterology (ACG) tahun 2025 kini memberikan nilai cut-off praktis untuk fecal calprotectin — penanda inflamasi yang diukur dari sampel tinja — di atas 50–100 mg/g untuk membedakan penyakit inflamasi dari kondisi non-inflamasi. Pedoman ini juga secara resmi merekomendasikan intestinal ultrasound (USG usus) sebagai alat evaluasi non-invasif dan bebas radiasi.

Menurut rekomendasi AGA 2023, pemantauan respons pengobatan sebaiknya dipandu oleh gejala klinis dan kadar biomarker. Fecal calprotectin di bawah 150 μg/g dan C-reactive protein (CRP) di bawah 5 mg/L mengindikasikan inflamasi minimal atau tidak ada, yang dapat mengurangi kebutuhan pemeriksaan endoskopi rutin.


Tatalaksana: Dari Obat Konvensional hingga Terapi Biologis

Tidak ada obat yang dapat menyembuhkan Crohn’s disease secara permanen. Tujuan pengobatan adalah mencapai remisi, mempertahankannya, dan mencegah komplikasi jangka panjang.

Untuk pasien rawat jalan dengan Crohn’s disease derajat sedang hingga berat yang belum pernah mendapat terapi sebelumnya, panduan ACG 2025 merekomendasikan terapi lini pertama dengan obat-obatan yang lebih efektif, termasuk infliximab, adalimumab, vedolizumab, ustekinumab, risankizumab, mirikizumab, dan guselkumab. Obat-obatan ini bekerja dengan memblokir jalur imun spesifik yang mendorong peradangan usus — sebuah revolusi dibanding era kortikosteroid yang dominan beberapa dekade lalu.

Terapi anti-TNF, seperti infliximab dan adalimumab, memberikan pengobatan lini pertama yang efektif dengan biaya relatif terjangkau, namun memerlukan pemantauan terapeutik yang cermat dan atau ko-terapi imunomodulator untuk menghindari pembentukan antibodi. Pasien yang mencapai remisi pada tahun pertama cenderung mempertahankan remisi tersebut dalam jangka panjang.

Meski demikian, pembedahan tetap diperlukan untuk menangani komplikasi seperti striktur, fistula, abses, atau kondisi lainnya. Intervensi bedah dini semakin diakui sebagai tindakan yang menguntungkan karena memberikan pereda gejala dan memperbaiki kualitas hidup.


Peran Pola Makan

Tidak ada satu pun diet yang secara universal terbukti menyembuhkan atau mencegah Crohn’s disease, namun pilihan pola makan berperan dalam mengelola gejala dan kualitas hidup. Dua pendekatan yang mendapat perhatian ilmiah cukup kuat adalah diet Mediterania dan diet rendah FODMAP.

Diet Mediterania — kaya buah, sayur, biji-bijian utuh, ikan, dan minyak zaitun — dikaitkan dengan profil inflamasi yang lebih rendah. Sementara itu, diet rendah FODMAP (karbohidrat rantai pendek yang mudah difermentasi) terbukti dalam uji klinis acak membantu mengurangi gejala dan mempengaruhi komposisi microbiome pada pasien IBD dalam fase remisi.


Relevansi bagi Indonesia

Meski data epidemiologi Indonesia masih terbatas, kecenderungan global — khususnya di Asia — menunjukkan bahwa Crohn’s disease bukan lagi penyakit yang hanya relevan bagi masyarakat Barat. Urbanisasi yang cepat, perubahan pola makan ke arah western diet yang tinggi lemak dan rendah serat, serta peningkatan penggunaan antibiotik, merupakan faktor-faktor yang turut mendorong peningkatan kasus IBD di kawasan Asia.

Di sisi lain, rendahnya kesadaran klinis dan terbatasnya akses terhadap pemeriksaan penunjang yang memadai menyebabkan banyak kasus di Indonesia terlambat didiagnosis — atau keliru didiagnosis sebagai kondisi lain. Pasien seperti perempuan muda di awal tulisan ini bisa menghabiskan bertahun-tahun berpindah dari satu klinik ke klinik lain sebelum mendapat diagnosis yang tepat.

Kesadaran bahwa nyeri perut kronis yang disertai diare, penurunan berat badan, kelelahan, dan keluhan-keluhan “di luar usus” seperti nyeri sendi atau lesi kulit perlu dievaluasi lebih dalam adalah langkah pertama yang penting — baik bagi masyarakat umum maupun tenaga kesehatan.


Referensi

Aniwan, S., Phatharacharukul, P., & Park, K. T. (2022). The epidemiology of inflammatory bowel disease in Asia and Asian immigrants to Western countries. United European Gastroenterology Journal, 10(10), 1046–1055. https://doi.org/10.1002/ueg2.12350

Centers for Disease Control and Prevention. (2024, June 21). Inflammatory bowel disease (IBD) basics. https://www.cdc.gov/inflammatory-bowel-disease/about/index.html

Cockburn, E., Kamal, S., Chan, A., Rao, V., Liu, T., Huang, J. Y., & Segal, J. P. (2023). Crohn’s disease: An update. Clinical Medicine (London), 23(6), 549–557. https://doi.org/10.7861/clinmed.2023-0493

Feuerstein, J. D., Ho, E. Y., Shmidt, E., Singh, H., Falck-Ytter, Y., Sultan, S., & Terdiman, J. P. (2021). AGA clinical practice guidelines on the medical management of moderate to severe luminal and perianal fistulizing Crohn’s disease. Gastroenterology, 160(7), 2496–2508. https://doi.org/10.1053/j.gastro.2021.04.022

Jumani, L., Kataria, D., Ahmed, M. U., Shah, M. A. A., Raja, K., & Shaukat, F. (2020). The spectrum of extra-intestinal manifestation of Crohn’s disease. Cureus, 12(2), e6928. https://doi.org/10.7759/cureus.6928

Lichtenstein, G. R., Loftus, E. V., Afzali, A., Long, M. D., Barnes, E. L., Isaacs, K. L., & Ha, C. Y. (2025). ACG clinical guideline: Management of Crohn’s disease in adults. The American Journal of Gastroenterology, 120(6), 1225–1264. https://doi.org/10.14309/ajg.0000000000003465

Rowe, W. A. (2024). Crohn disease: Epidemiology, diagnosis, and management. Mayo Clinic Proceedings. https://www.mayoclinicproceedings.org/article/S0025-6196(17)30313-0/fulltext

Segal, J., & McCartney, S. (2025). Perspective: Making treatment decisions for Crohn’s disease in 2025 — Key considerations. Journal of Clinical Medicine, 14, 4218. https://www.ncbi.nlm.nih.gov/pmc/articles/PMC12524403/

Wahid, M., Sherif, A., Ghazarian, L., & Thomas, G. (2022). Update on the epidemiology of inflammatory bowel disease in Asia: Where are we now? Intestinal Research, 20(2), 159–174. https://doi.org/10.5217/ir.2021.00115

Commenting 101: “Be kind, and respect each other” // Bersikaplah baik, dan saling menghormati (Indonesian) // Soyez gentils et respectez-vous les uns les autres (French) // Sean amables y respétense mutuamente (Spanish) // 待人友善,互相尊重 (Chinese) // كونوا لطفاء واحترموا بعضكم البعض (Arabic) // Будьте добры и уважайте друг друга (Russian) // Seid freundlich und respektiert einander (German) // 親切にし、お互いを尊重し合いましょう (Japanese) // दयालु बनें, और एक दूसरे का सम्मान करें (Hindi) // Siate gentili e rispettatevi a vicenda (Italian)

Tinggalkan Balasan

Eksplorasi konten lain dari Bhyllabus l'énigme

Langganan sekarang agar bisa terus membaca dan mendapatkan akses ke semua arsip.

Lanjutkan membaca