A Cahya Legawa's Les pèlerins au-dessus des nuages

Bayangkan sebuah pasar unggas tradisional di pinggiran Surabaya pada pagi yang sibuk. Di sela tumpukan keranjang ayam, seorang petugas dari Kementerian Kesehatan dan seorang dokter hewan dari dinas pertanian bekerja berdampingan, mengambil sampel usap dari unggas yang baru tiba. Bukan pemandangan biasa, namun justru inilah wajah baru kesiapsiagaan pandemi Indonesia: surveilans yang tidak lagi berhenti di pintu rumah sakit, melainkan menjangkau hingga ke titik temu antara manusia, hewan, dan lingkungan.

Pemandangan semacam itu menjadi nyata sejak Indonesia meluncurkan Collaborative Approach for Resilient Surveillance and Pandemic Preparedness in Indonesia (CARE-I) pada 15–16 April 2026 di Jakarta. Program ini bukan sekadar proyek kesehatan biasa—ia adalah jawaban konkret atas evaluasi mendalam terhadap kerentanan sistem kesehatan nasional dalam menghadapi ancaman penyakit menular baru (emerging infectious diseases).

Mengapa Indonesia Membutuhkan CARE-I?

Indonesia memiliki kombinasi faktor risiko yang khas: keanekaragaman hayati yang luar biasa kaya, kepadatan penduduk tinggi di banyak wilayah, serta posisi strategis sebagai simpul transportasi internasional. Ketiga faktor ini secara bersamaan meningkatkan kemungkinan munculnya patogen baru sekaligus mempercepat penyebarannya begitu muncul.

Risiko tersebut diperparah oleh ketimpangan kapasitas antarwilayah, kesenjangan tata kelola di tingkat pemerintah daerah, distribusi sumber daya manusia kesehatan yang tidak merata, serta tantangan koordinasi lintas sektor dalam konteks desentralisasi pemerintahan. Temuan ini bukan asumsi belaka, melainkan hasil evaluasi resmi melalui Joint External Evaluation (JEE) atas kapasitas inti International Health Regulations (IHR) 2005 yang dilakukan pada Oktober 2023.

Hasil JEE memberikan gambaran yang cukup informatif. Pada area surveilans zoonosis misalnya, Indonesia memperoleh skor 4 dari skala 5 (kapasitas terdemonstrasi), didukung oleh keberadaan proses One Health Zoonosis Diseases Prioritisation serta sistem surveilans terintegrasi seperti SIZE. Namun pada aspek respons terhadap penyakit zoonosis, skor yang dicapai hanya 3 (kapasitas berkembang), dengan tantangan utama berupa pendanaan berkelanjutan untuk surveilans multisektor, advokasi anggaran untuk tenaga dokter hewan dan paramedis, serta mekanisme koordinasi reguler antarsektor yang masih perlu diperkuat. Beban penyakit zoonosis di Indonesia memang telah lama menjadi persoalan kesehatan masyarakat yang signifikan, terlihat dari upaya pencegahan dan pengendalian berskala besar yang membutuhkan sumber daya dan pendanaan substansial setiap tahunnya.

Temuan-temuan inilah, bersama rekomendasi dari Rencana Aksi Nasional Ketahanan Kesehatan Indonesia (National Action Plan for Health Security/NAPHS) 2025–2029, yang menjadi dasar penyusunan agenda prioritas CARE-I.

Apa Itu CARE-I dan Bagaimana Mekanismenya?

CARE-I dibiayai oleh Pandemic Fund, mekanisme pendanaan global yang dibentuk pada 2022 untuk memperkuat pencegahan, kesiapsiagaan, dan respons pandemi, khususnya di negara berpenghasilan rendah dan menengah. Program ini berfokus pada pengembangan pendekatan One Health dengan memperkuat kolaborasi di seluruh sektor kesehatan manusia, hewan, dan lingkungan baik di tingkat nasional maupun daerah, dan akan dilaksanakan selama tiga tahun, dari 2026 hingga 2028.

Pendekatan One Health sendiri merupakan kerangka kerja yang memandang kesehatan manusia, hewan, dan ekosistem sebagai satu kesatuan yang saling terkait dan tidak dapat dipisahkan dalam upaya pencegahan penyakit. Filosofi inilah yang membedakan CARE-I dari program kesehatan konvensional yang cenderung bekerja secara sektoral.

Program ini dijalankan dalam kolaborasi erat antara Pemerintah Indonesia dengan World Health Organization (WHO), Food and Agriculture Organization (FAO), dan Bank Dunia sebagai tiga Implementing Entities utama, bersama mitra nasional dan internasional lainnya. Kolaborasi ini melibatkan Kementerian Kesehatan, Kementerian Pertanian, Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan, serta Kementerian Koordinator Pembangunan Manusia dan Kebudayaan, dengan dukungan tambahan dari berbagai mitra internasional seperti CDC, Gavi, Global Fund, dan IAEA.

Sepanjang program berjalan, WHO dan FAO akan memberikan dukungan teknis dan keahlian, antara lain melatih tenaga laboratorium untuk memperkuat pengujian penyakit, memastikan penanganan bahan biologis yang aman dan terjamin, serta mempertahankan standar kualitas tinggi. Kedua organisasi tersebut juga akan membantu meningkatkan sistem surveilans, melatih tenaga kesehatan garda terdepan dalam mendeteksi dan menanggapi wabah, serta meningkatkan koordinasi lintas sektor untuk mencegah penyakit yang menular dari hewan ke manusia.

Secara teknis, proyek ini sejalan dengan momentum yang telah dibangun sejak Indonesia menerbitkan Peraturan Menteri tentang Pencegahan dan Pengendalian Zoonosis dan Penyakit Infeksi Baru pada 2022, dan mencakup tiga prioritas utama Pandemic Fund: surveilans, sistem laboratorium, dan pengembangan tenaga kerja — ditambah perhatian khusus terhadap kesetaraan gender dan keterlibatan komunitas.

Peluncuran Resmi dan Komitmen Multisektor

Pertemuan peluncuran perdana CARE-I dihadiri lebih dari 50 peserta dari berbagai kementerian dan lembaga negara, termasuk Kementerian Koordinator Pembangunan Manusia dan Kebudayaan, Kementerian Kesehatan, Kementerian Pertanian, Kementerian Kehutanan, Badan Riset dan Inovasi Nasional, serta perwakilan WHO, FAO, dan Bank Dunia.

“CARE-I akan memperkuat kesiapan Indonesia menghadapi ancaman kesehatan masyarakat di masa depan,” kata dr. Andi Saguni, M.A., Sekretaris Direktorat Jenderal Pengendalian Penyakit Kementerian Kesehatan. Beliau menyampaikan harapan agar program ini dapat terlaksana sepenuhnya melalui kolaborasi erat dan tanggung jawab bersama untuk Indonesia yang lebih tangguh.

Komitmen ini tidak berdiri sendiri. CARE-I merupakan bagian dari rangkaian inisiatif One Health yang telah berjalan di Indonesia dalam beberapa tahun terakhir. Pada 2025, WHO mendukung uji coba surveilans flu burung terintegrasi berbasis pendekatan One Health di lima provinsi prioritas, dengan pasar unggas tradisional berfungsi sebagai titik deteksi dini yang krusial. Untuk leptospirosis, perbaikan surveilans terintegrasi, kajian risiko bersama, deteksi dini, pengobatan cepat, dan kesadaran komunitas telah membantu memperkuat kolaborasi lintas sektor sekaligus menekan angka kematian di wilayah rawan banjir. Pada Februari 2026, FAO bersama Kementerian Kehutanan juga meluncurkan program pelatihan untuk memperkuat kapasitas One Health di sektor satwa liar, biodiversitas, kehutanan, dan lingkungan, yang diawali dengan lokakarya daring yang menjangkau lebih dari 500 profesional kehutanan dan satwa liar.

Mengapa Pendekatan Ini Penting bagi Masyarakat Awam?

Bagi sebagian orang, istilah “surveilans multisektor” atau “kapasitas inti IHR” mungkin terdengar jauh dari kehidupan sehari-hari. Namun dampaknya sesungguhnya sangat dekat dengan rumah tangga.

Dengan memperkuat cara mendeteksi dan mengelola ancaman kesehatan masyarakat, CARE-I membantu melindungi hal-hal yang paling penting bagi masyarakat Indonesia: keluarga, mata pencaharian, dan rasa aman mereka. Deteksi dini dan respons yang lebih kuat berarti lebih sedikit kehidupan yang terganggu akibat penyakit, berkurangnya jumlah anak yang absen dari sekolah karena sakit, serta menurunnya jumlah masyarakat yang harus menghadapi ketakutan dan ketidakpastian selama wabah berlangsung. Sistem kesehatan yang tangguh pada akhirnya membangun kepercayaan publik: bahwa pada saat krisis datang, bantuan akan tersedia dengan cepat dan layanan esensial tetap berjalan.

Bagi tenaga kesehatan di tingkat fasilitas pelayanan primer maupun rumah sakit, implikasi CARE-I juga konkret. Penguatan sistem laboratorium dan pelatihan tenaga garda terdepan berarti dukungan diagnostik yang lebih cepat dan akurat ketika menghadapi kasus suspek penyakit zoonosis atau infeksi baru—sesuatu yang selama ini sering menjadi titik lemah dalam respons kejadian luar biasa (KLB) di banyak daerah.

Tantangan yang Masih Menanti

Optimisme terhadap CARE-I perlu diimbangi dengan kesadaran atas tantangan struktural yang masih melekat dalam sistem kesehatan Indonesia. Evaluasi JEE 2023 mencatat sejumlah celah yang relevan: kebutuhan sistem pendanaan berkelanjutan untuk surveilans di tingkat nasional maupun subnasional, kesenjangan anggaran antara sektor kesehatan manusia, hewan, dan satwa liar akibat otonomi daerah, serta variasi kapasitas operasional mekanisme respons cepat antarkabupaten dan provinsi.

Riset akademik juga menggarisbawahi tantangan serupa. Kajian yang dipublikasikan dalam jurnal One Health mengenai koordinasi penanganan flu burung di Indonesia menemukan bahwa meski kerangka One Health nasional telah ditetapkan melalui Peraturan Menteri Koordinator Nomor 7/2022, bukti implementasinya di tingkat kota dan kabupaten—khususnya di wilayah perkotaan dan pinggiran kota berisiko tinggi—masih terbatas. Artinya, kerangka kebijakan yang baik di atas kertas belum otomatis menjamin pelaksanaan yang konsisten di lapangan, terutama di wilayah dengan kapasitas kelembagaan yang lebih lemah seperti Sragen dan kabupaten-kabupaten lain di luar kota besar.

Penutup: Investasi Jangka Panjang untuk Ketahanan Bersama

CARE-I bukanlah solusi instan, melainkan investasi tiga tahun yang menyasar fondasi struktural kesiapsiagaan pandemi Indonesia—surveilans, laboratorium, dan tenaga kerja kesehatan—dengan pendekatan yang mengakui keterkaitan erat antara kesehatan manusia, hewan, dan lingkungan. Keberhasilannya akan sangat ditentukan oleh konsistensi koordinasi lintas kementerian dan lembaga, keberlanjutan pendanaan di tingkat daerah, serta kemampuan menerjemahkan kerangka kebijakan nasional menjadi praktik nyata di fasilitas pelayanan kesehatan primer dan komunitas.

Bagi tenaga kesehatan di lini terdepan, memahami arah kebijakan semacam ini bukan sekadar pengetahuan administratif, melainkan bagian dari kesiapan menghadapi ancaman kesehatan masyarakat yang, sewaktu-waktu, bisa muncul dari pasar tradisional, peternakan, atau hutan di sekitar tempat kita bekerja.


Daftar Pustaka

Adnyana IM, Utomo B, Eljatin DS, Sudaryati NL. One Health approach and zoonotic diseases in Indonesia: Urgency of implementation and challenges. Narra J. 2023 Dec;3(3):e257. doi: 10.52225/narra.v3i3.257. Epub 2023 Oct 18. PMID: 38455621; PMCID: PMC10919696.

Food and Agriculture Organization of the United Nations. (2026). New joint FAO–Government of Indonesia initiative advances one health implementation in wildlife and environmental sectors. FAO in Indonesia. https://www.fao.org/indonesia/news/

Food and Agriculture Organization of the United Nations. (n.d.). Preventing disease outbreaks at the source. ECTAD Indonesia. https://www.fao.org/ectad/asiapacific/about-us/where-we-work/ectad-in-indonesia/en

Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. (2025). Rencana Aksi Nasional Ketahanan Kesehatan Indonesia (NAPHS) 2025–2029. Kementerian Kesehatan RI.

Sudarnika, E., Pisestyani, H., Idris, S., Setiaji, G., Iryawati, D., & Hardianti, N. (2025). District-level joint risk assessment of highly pathogenic avian influenza H5N1 at the human–animal–environment interface in live bird markets of Bogor, Indonesia. Veterinary World, 19(1), 210–223.

[Penulis tidak disebutkan]. (2025). Lessons from avian influenza coordination in Indonesia. One Health Journal, 12(1). https://onehealthjournal.org/Vol.12/No.1/6.pdf

The Pandemic Fund. (2026). Collaborative Approach for Resilient Surveillance and Pandemic Preparedness in Indonesia (CARE-I). https://www.thepandemicfund.org/projects/INDONESIA-collaborative-approach-resilient-surveillance-and-pandemic-preparedness-indonesia-care-i

World Health Organization. (2023). Joint external evaluation of the International Health Regulations (2005) core capacities of Indonesia: Mission report, 16–20 October 2023. WHO. https://www.who.int/publications/i/item/9789240095151

World Health Organization Indonesia. (2026, April 6). WHO commends Indonesia’s leadership in One Health action to reduce risks from priority zoonotic diseases. https://www.who.int/indonesia/news/detail/06-04-2026-who-commends-indonesia-s-leadership-in-one-health-action-to-reduce-risks-from-priority-zoonotic-diseases

World Health Organization Indonesia. (2026, April 20). Indonesia advances One Health and pandemic preparedness through CARE-I. https://www.who.int/indonesia/id/news/detail/20-04-2026-indonesia-advances-one-health-and-pandemic-preparedness-through-care-i

← Kembali

Terima kasih atas tanggapan Anda. ✨

Rating(wajib)

Artikel Baru Terbit

Commenting 101: “Be kind, and respect each other” // Bersikaplah baik, dan saling menghormati (Indonesian) // Soyez gentils et respectez-vous les uns les autres (French) // Sean amables y respétense mutuamente (Spanish) // 待人友善,互相尊重 (Chinese) // كونوا لطفاء واحترموا بعضكم البعض (Arabic) // Будьте добры и уважайте друг друга (Russian) // Seid freundlich und respektiert einander (German) // 親切にし、お互いを尊重し合いましょう (Japanese) // दयालु बनें, और एक दूसरे का सम्मान करें (Hindi) // Siate gentili e rispettatevi a vicenda (Italian)

Tinggalkan Balasan

Eksplorasi konten lain dari Bhyllabus l'énigme

Langganan sekarang agar bisa terus membaca dan mendapatkan akses ke semua arsip.

Lanjutkan membaca