A Cahya Legawa's Les pèlerins au-dessus des nuages

Selama beberapa waktu terakhir, saya membangun sebuah program pengendalian resistensi antimikroba (PPRA) di rumah sakit tempat saya bekerja — dari nol, dengan keterbatasan sumber daya yang mungkin akrab bagi banyak dari kita: tanpa laboratorium mikrobiologi mandiri, anggaran terbatas, dan tim yang harus belajar sambil jalan.

Dari pengalaman itu, lahirlah Diklat PPRA — sebuah platform pembelajaran daring yang saya susun sendiri, bukan sebagai proyek institusi, melainkan inisiatif personal untuk membagikan apa yang sudah saya pelajari kepada rekan sejawat yang menghadapi tantangan serupa.

Untuk Siapa Diklat Ini?

Dokter umum dan spesialis, apoteker/farmasi klinis, perawat, tenaga laboratorium, serta anggota Tim/Komite PPRA rumah sakit — siapa pun yang ingin membangun atau memperkuat program pengendalian resistensi antimikroba di institusinya.

Diklat PPRA

Apa yang Akan Dipelajari

Kurikulumnya disusun bertahap dalam 19 modul, terbagi ke tiga tingkatan:

  • Dasar — mengapa resistensi antimikroba menjadi krisis nyata, dasar hukum dan kewajiban PPRA, struktur tim, hingga prinsip WHO AWaRe
  • Intermediate — praktik operasional harian: audit kualitas peresepan (metode Gyssens), penyusunan antibiogram lokal, serta strategi Automatic Stop Order dan Prospective Audit & Feedback (ASO/PAF)
  • Lanjutan — integrasi PPRA ke forum kajian kasus (FORKKIT), tata laksana sepsis, edukasi pasien, budaya mutu berkelanjutan, hingga kesiapan menghadapi akreditasi

Setiap kursus dilengkapi studi kasus, simulasi interaktif, dan kuis evaluasi — bukan sekadar materi baca, tapi dirancang agar benar-benar terpakai.

Gratis, dan Bersertifikat

Diklat ini disediakan gratis bagi tenaga kesehatan yang memerlukan pembekalan maupun sertifikasi terkait PPRA untuk mendukung pekerjaan sehari-hari. Setelah menyelesaikan seluruh modul dan lulus ujian akhir, peserta akan mendapatkan sertifikat penyelesaian.

Perlu saya tegaskan juga: materi di sini bersifat pengantar dan terbatas — fondasi yang kokoh, bukan ensiklopedia lengkap. Untuk pendalaman lebih jauh, saya sangat menganjurkan menelusuri literatur ilmiah dan pedoman resmi lain. Bagi yang ingin pembahasan lebih menyeluruh dan terintegrasi, buku saya Manajemen PPRA Terintegrasi: Pendekatan Sistem Mutu, Sinergi Klinis, dan Otomatisasi Berbasis AI bisa menjadi rujukan pendamping.

Mulai Belajar

Diklat PPRA sekaligus punya forum komunitas untuk berdiskusi dan berbagi pengalaman penerapan lintas institusi — karena tantangan seperti ini jarang bisa diselesaikan sendirian.

👉 diklat-ppra.odoo.com

Kalau ada pertanyaan, jangan ragu menghubungi saya lewat Telegram: t.me/haridiva

Semoga bermanfaat.

— dr. I Putu Cahya Legawa

← Kembali

Terima kasih atas tanggapan Anda. ✨

Rating(wajib)

Artikel Baru Terbit

  • Belajar Membangun Program PPRA yang Benar-Benar Bisa Diterapkan — Gratis untuk Tenaga Kesehatan
    Saya telah membangun program pengendalian resistensi antimikroba di rumah sakit yang mengarah pada Diklat PPRA, platform pembelajaran daring untuk tenaga kesehatan. Program ini menawarkan 19 modul dari dasar hingga lanjutan tentang PPRA, tersedia gratis dan bersertifikat. Materi bersifat pengantar, dengan forum diskusi untuk berbagi pengalaman.
  • Ketika Sirup Anak Tak Lagi Tersedia: Menelusuri Kesenjangan Akses Obat Pediatrik di Indonesia
    Artikel ini membahas masalah akses obat pediatrik di Indonesia, di mana formulasi obat anak sering kali tidak tersedia, mengakibatkan praktik berisiko seperti extemporaneous compounding. Diskusi awal yang diadakan oleh Kementerian Kesehatan dan WHO bertujuan mengidentifikasi hambatan dan meningkatkan ketersediaan obat yang aman dan sesuai untuk anak-anak.
  • Sifilis dan Hepatitis di Indonesia: Ketika Pedoman Klinis Menjadi Garda Terdepan Eliminasi
    WHO Indonesia mengidentifikasi kesenjangan dalam penanganan sifilis dan hepatitis di Indonesia. Dengan pedoman klinis sifilis nasional dan Rencana Aksi Nasional untuk hepatitis, upaya ini bertujuan meningkatkan kualitas pelayanan kesehatan dan mengurangi jumlah kasus. Targetnya adalah menurunkan infeksi baru dan kematian akibat kedua penyakit ini menjelang 2030.
  • CARE-I: Strategi Indonesia Memperkuat Benteng Kesehatan Lewat Pendekatan One Health
    CARE-I adalah program Indonesia yang diluncurkan untuk memperkuat kesiapsiagaan pandemi dengan pendekatan One Health, mengintegrasikan kesehatan manusia, hewan, dan lingkungan. Melalui kolaborasi antar kementerian dan dukungan organisasi internasional, program ini bertujuan meningkatkan sistem surveilans dan respons terhadap penyakit menular, berlangsung dari 2026 hingga 2028.
  • Kepmenkes 691/2026: Peta Baru Layanan Wajib Lapor dan Rumatan Metadona di Indonesia
    Seorang laki-laki 29 tahun datang ke puskesmas untuk berhenti menggunakan heroin setelah tiga tahun kecanduan. Kementerian Kesehatan Indonesia memperbarui daftar Institusi Penerima Wajib Lapor, menambah 401 fasilitas baru menjadi 1.891 institusi. Ekspansi ini penting untuk menangani peningkatan prevalensi penyalahgunaan narkoba di negara ini.

Commenting 101: “Be kind, and respect each other” // Bersikaplah baik, dan saling menghormati (Indonesian) // Soyez gentils et respectez-vous les uns les autres (French) // Sean amables y respétense mutuamente (Spanish) // 待人友善,互相尊重 (Chinese) // كونوا لطفاء واحترموا بعضكم البعض (Arabic) // Будьте добры и уважайте друг друга (Russian) // Seid freundlich und respektiert einander (German) // 親切にし、お互いを尊重し合いましょう (Japanese) // दयालु बनें, और एक दूसरे का सम्मान करें (Hindi) // Siate gentili e rispettatevi a vicenda (Italian)

Tinggalkan Balasan

Eksplorasi konten lain dari Bhyllabus l'énigme

Langganan sekarang agar bisa terus membaca dan mendapatkan akses ke semua arsip.

Lanjutkan membaca