A Cahya Legawa's Les pèlerins au-dessus des nuages

Seorang ibu muda di sebuah puskesmas pedesaan menatap resep di tangannya dengan cemas. Anaknya yang baru berusia dua tahun membutuhkan antibiotik, tetapi yang tersedia di apotek hanyalah tablet dosis dewasa. Apoteker kemudian harus menggerus tablet itu, membaginya secara manual, dan melarutkannya dalam air—sebuah praktik yang dikenal sebagai extemporaneous compounding. Skenario semacam ini bukan sekadar anekdot. Ia adalah potret nyata dari kesenjangan struktural dalam sistem kesehatan yang memengaruhi jutaan anak di Indonesia setiap tahunnya.

Anak Bukan “Orang Dewasa Mini”

Selama puluhan tahun, dunia farmasi cenderung memperlakukan kebutuhan obat anak sebagai derivat sederhana dari obat dewasa—cukup dikurangi dosisnya. Padahal, tubuh anak memproses obat secara berbeda secara farmakokinetik maupun farmakodinamik, dan kebutuhan akan bentuk sediaan yang ramah anak (seperti sirup, tablet dispersibel, atau granul) jauh lebih kompleks daripada sekadar penyesuaian milligram per kilogram.

Masalah ini bukan isu kecil bagi Indonesia. Sebanyak 23,5 persen atau sekitar 66,72 juta penduduk Indonesia berusia 0 hingga 14 tahun pada 2025. Ketika obat esensial tidak tersedia dalam formulasi yang sesuai usia, tenaga kesehatan terpaksa melakukan penyesuaian terhadap obat dewasa untuk digunakan pada anak—sebuah proses yang meningkatkan kompleksitas pengobatan sekaligus risiko ketidaktepatan dosis.

Dialog yang Dimulai dari Jakarta

Menyadari kesenjangan ini, Kementerian Kesehatan Republik Indonesia bersama World Health Organization (WHO) Global Accelerator for Paediatric Formulation (GAP-f)—jaringan global yang dibentuk untuk mempercepat riset dan penyediaan formulasi obat anak—menggelar lokakarya perkenalan di Jakarta pada 4 Maret 2026. Lokakarya ini menghadirkan sekitar 40 peserta dari institusi pemerintah, otoritas regulator, universitas, rumah sakit, produsen dan pemasok obat, hingga mitra pembangunan.

Diskusi dalam lokakarya tersebut menelusuri seluruh rantai jalur akses obat anak di Indonesia: mulai dari persetujuan regulator, proses seleksi dan pencantuman dalam daftar obat nasional, sistem pengadaan dan rantai pasok, hingga kesiapan layanan dan penggunaannya dalam praktik klinis sehari-hari. Melalui diskusi kelompok terfasilitasi, para peserta mengidentifikasi hambatan lintas sektor yang memengaruhi ketersediaan obat yang sesuai usia anak di seluruh sistem kesehatan.

Dr. Lucia Rizka Andalucia, Direktur Jenderal Farmasi dan Alat Kesehatan Kementerian Kesehatan, menegaskan bahwa anak-anak membutuhkan obat yang dirancang khusus untuk kebutuhan mereka, dan penguatan akses memerlukan upaya terkoordinasi di tingkat regulasi, sistem pasok, maupun layanan kesehatan.

Akar Masalah: Data yang Tak Terlihat

Salah satu temuan paling mendasar dari lokakarya ini adalah adanya kesenjangan data dan visibilitas kebutuhan untuk formulasi pediatrik. Tanpa gambaran kebutuhan yang jelas, produsen dan pemasok kurang memiliki insentif untuk mengembangkan, mendaftarkan, atau menyediakan produk pediatrik di pasar Indonesia. Ketersediaan bukti klinis, data epidemiologi, indikasi regulator, dan bentuk sediaan yang telah terdaftar turut memengaruhi proses prioritisasi obat dalam daftar nasional seperti Formularium Nasional dan e-katalog BPJS Kesehatan.

Profesor Dyah Perwitasari dari Kolegium Farmasi menjelaskan bahwa ketika obat yang sesuai untuk anak tidak tersedia, apoteker dan tenaga klinis terpaksa menyesuaikan dosis atau menyiapkan obat dengan cara yang berbeda dari formulasi aslinya. Sementara itu, Profesor Erna Kristin dari Universitas Gadjah Mada menambahkan bahwa informasi yang jelas tentang kebutuhan obat anak dapat membantu pengambilan keputusan—mulai dari tahap penelitian dan perizinan hingga pembelian serta penggunaan di lapangan.

Mengapa “Menggerus Tablet” Bukan Solusi Aman

Dari sudut pandang klinis, praktik extemporaneous compounding—menggerus, membagi, atau melarutkan obat dewasa untuk pasien anak—bukanlah solusi tanpa risiko. Bukti ilmiah terbaru menunjukkan bahwa preparat ekstemporan untuk pasien pediatrik berisiko menimbulkan kesalahan perhitungan dosis dan kontaminasi mikroba, yang berpotensi menyebabkan konsekuensi kesehatan serius, termasuk kasus tragis kematian seorang anak akibat overdosis akibat preparat yang dikompon secara tidak tepat.

Sebuah tinjauan literatur global juga mengonfirmasi bahwa kompounding ekstemporan memiliki risiko intrinsik berupa kesalahan konsentrasi, di mana kesalahan dosis yang terlalu rendah dapat bermanifestasi sebagai kegagalan terapi atau perburukan penyakit, sementara dosis berlebih meningkatkan risiko toksisitas. Survei global tahun 2024 yang melibatkan partisipan dari berbagai wilayah WHO bahkan menemukan bahwa sediaan oral cair adalah preparat yang paling sering dikompon, dengan diuretik, obat gangguan asam lambung, dan beta-blocker sebagai tiga kelas obat yang paling banyak dikompon untuk pasien anak. Di negara berkembang, tantangan ini diperparah oleh keterbatasan kapasitas pengujian stabilitas dan kompatibilitas obat, ditambah keterbatasan keterampilan profesional serta panduan regulasi yang belum memadai.

Dari Lokakarya ke Penilaian Lanskap Nasional

Dialog ini tidak berhenti pada satu pertemuan. Pada 18 Mei 2026, kantor pusat WHO dan Kantor WHO Negara untuk Indonesia melanjutkan diskusi teknis bersama Kementerian Kesehatan guna mengkaji masukan dari lokakarya obat anak tingkat regional, sekaligus menyepakati pendekatan untuk analisis lanskap obat pediatrik Indonesia secara komprehensif. Diskusi ini membantu mempertajam cakupan dan metodologi penilaian agar selaras dengan prioritas nasional sekaligus pengalaman dari negara-negara lain di kawasan.

Lokakarya perkenalan ini disebut sebagai langkah pertama dalam upaya yang lebih luas untuk memahami ekosistem obat anak di Indonesia secara utuh. Temuan dari lokakarya ini, bersama diskusi teknis lanjutan, akan menjadi dasar bagi penilaian lanskap komprehensif yang menelisik hambatan maupun peluang di seluruh ekosistem tersebut—mulai dari regulasi BPOM, perencanaan pengadaan, hingga implementasi di fasilitas pelayanan kesehatan. Hasil penilaian ini diharapkan dapat mendukung perumusan rekomendasi praktis bagi Kementerian Kesehatan, Badan Pengawas Obat dan Makanan, serta pemangku kepentingan lainnya.

Implikasi bagi Praktik Klinis Sehari-hari

Bagi tenaga kesehatan di garda terdepan—dokter umum, dokter spesialis anak, apoteker, maupun perawat—dialog kebijakan semacam ini memiliki konsekuensi langsung pada praktik klinis. Ketersediaan formulasi pediatrik yang sesuai dapat mengurangi kebutuhan akan kompounding ekstemporan yang berisiko, mempersingkat waktu pemberian terapi pada kasus akut, serta menurunkan beban kerja apoteker dalam penyesuaian dosis manual.

Sembari menunggu hasil penilaian lanskap nasional, fasilitas kesehatan dapat memperkuat langkah mitigasi risiko, antara lain melalui standardisasi prosedur kompounding ekstemporan sesuai pedoman Pharmaceutical Quality Assurance, verifikasi ganda (double-check) untuk setiap perhitungan dosis pediatrik, serta pelaporan sistematis terhadap kejadian nyaris cedera (near-miss) dan kejadian tidak diinginkan terkait obat pada pasien anak.

Penutup

Kisah ibu muda dengan resep di tangannya, dan ribuan kisah serupa yang terjadi setiap hari di fasilitas kesehatan seluruh Indonesia, adalah pengingat bahwa kebijakan farmasi bukan sekadar urusan administratif di atas meja. Ia menentukan apakah seorang anak menerima dosis yang tepat, dalam bentuk yang aman, pada waktu yang dibutuhkan. Dialog yang dimulai di Jakarta pada awal 2026 ini membuka jalan menuju ekosistem obat anak yang lebih selaras—sebuah langkah kecil namun krusial bagi masa depan kesehatan anak-anak Indonesia.


Daftar Referensi

Li, J., Buckley, N. A., Lee, J., & Cairns, R. (2026). Adverse drug events from paediatric use of extemporaneously compounded medicines in community pharmacy settings: A scoping review. BMJ Paediatrics Open, 10(1), e004327. https://doi.org/10.1136/bmjpo-2025-004327

Moore Hepburn, C., Aucoin, B., & Dickinson, M. (2025). Recognizing adverse drug events related to paediatric medication compounding. Paediatrics & Child Health, 30(2), 56–57. https://doi.org/10.1093/pch/pxae094

Pai, V. B., & Nahata, M. C. (2026). Extemporaneous Formulations for Pediatric Patients: Global Necessities, Challenges and Opportunities. Pharmaceutics, 18(1), 126. https://doi.org/10.3390/pharmaceutics18010126

Yuliani, S. H., Putri, D. C. A., Virginia, D. M., Gani, M. R., & Riswanto, F. D. O. (2023). Prevalence, Risk, and Challenges of Extemporaneous Preparation for Pediatric Patients in Developing Nations: A Review. Pharmaceutics, 15(3), 840. https://doi.org/10.3390/pharmaceutics15030840

World Health Organization. (2026, June 4). Mendorong dialog untuk akses lebih baik pada obat-obatan anak di Indonesia. WHO Indonesia. https://www.who.int/indonesia/id/news-room/item/04-06-2026-advancing-dialogue-for-better-access-to-paediatric-medicines-in-indonesia

← Kembali

Terima kasih atas tanggapan Anda. ✨

Rating(wajib)

Artikel Baru Terbit

  • Ketika Sirup Anak Tak Lagi Tersedia: Menelusuri Kesenjangan Akses Obat Pediatrik di Indonesia
    Artikel ini membahas masalah akses obat pediatrik di Indonesia, di mana formulasi obat anak sering kali tidak tersedia, mengakibatkan praktik berisiko seperti extemporaneous compounding. Diskusi awal yang diadakan oleh Kementerian Kesehatan dan WHO bertujuan mengidentifikasi hambatan dan meningkatkan ketersediaan obat yang aman dan sesuai untuk anak-anak.
  • Sifilis dan Hepatitis di Indonesia: Ketika Pedoman Klinis Menjadi Garda Terdepan Eliminasi
    WHO Indonesia mengidentifikasi kesenjangan dalam penanganan sifilis dan hepatitis di Indonesia. Dengan pedoman klinis sifilis nasional dan Rencana Aksi Nasional untuk hepatitis, upaya ini bertujuan meningkatkan kualitas pelayanan kesehatan dan mengurangi jumlah kasus. Targetnya adalah menurunkan infeksi baru dan kematian akibat kedua penyakit ini menjelang 2030.
  • CARE-I: Strategi Indonesia Memperkuat Benteng Kesehatan Lewat Pendekatan One Health
    CARE-I adalah program Indonesia yang diluncurkan untuk memperkuat kesiapsiagaan pandemi dengan pendekatan One Health, mengintegrasikan kesehatan manusia, hewan, dan lingkungan. Melalui kolaborasi antar kementerian dan dukungan organisasi internasional, program ini bertujuan meningkatkan sistem surveilans dan respons terhadap penyakit menular, berlangsung dari 2026 hingga 2028.
  • Kepmenkes 691/2026: Peta Baru Layanan Wajib Lapor dan Rumatan Metadona di Indonesia
    Seorang laki-laki 29 tahun datang ke puskesmas untuk berhenti menggunakan heroin setelah tiga tahun kecanduan. Kementerian Kesehatan Indonesia memperbarui daftar Institusi Penerima Wajib Lapor, menambah 401 fasilitas baru menjadi 1.891 institusi. Ekspansi ini penting untuk menangani peningkatan prevalensi penyalahgunaan narkoba di negara ini.
  • PTK Mandiri: Ketika Kemenkes Membuka Pintu Samping untuk Penilaian Teknologi Kesehatan
    Pada tahun 2026, Kepmenkes 641 memperkenalkan PTK Mandiri, sebuah jalur baru untuk penilaian teknologi kesehatan yang menggantikan mekanisme lama. Pemangku kepentingan sekarang bertanggung jawab atas kajian, mengalihkan beban biaya dari negara. Namun, PTK Mandiri tidak memiliki mekanisme masa sanggah publik yang sama seperti PTK reguler.

Commenting 101: “Be kind, and respect each other” // Bersikaplah baik, dan saling menghormati (Indonesian) // Soyez gentils et respectez-vous les uns les autres (French) // Sean amables y respétense mutuamente (Spanish) // 待人友善,互相尊重 (Chinese) // كونوا لطفاء واحترموا بعضكم البعض (Arabic) // Будьте добры и уважайте друг друга (Russian) // Seid freundlich und respektiert einander (German) // 親切にし、お互いを尊重し合いましょう (Japanese) // दयालु बनें, और एक दूसरे का सम्मान करें (Hindi) // Siate gentili e rispettatevi a vicenda (Italian)

Tinggalkan Balasan

Eksplorasi konten lain dari Bhyllabus l'énigme

Langganan sekarang agar bisa terus membaca dan mendapatkan akses ke semua arsip.

Lanjutkan membaca