A Cahya Legawa's Les pèlerins au-dessus des nuages

WHO SEARO merilis modul pelatihan lima hari untuk teknisi dan insinyur biomedis yang mengelola peralatan oksigen dan respirasi. Kurikulum ini mencakup teknologi produksi, distribusi, hingga perangkat pasien, dengan pendekatan terstandardisasi dan evaluasi kompetensi sebelum serta setelah pelatihan.

Indonesia memiliki infrastruktur pendidikan dan sertifikasi untuk tenaga elektromedis, namun program studi terkait masih menghadapi minimnya peminat. Adaptasi modul WHO perlu diintegrasikan dengan penguatan rekrutmen dan pemanfaatan lembaga pelatihan yang sudah ada.

Dalam artikel sebelumnya di legawa.com, saya menulis tentang ekosistem oksigen medis — bagaimana satu embusan napas pasien bergantung pada rantai panjang dari produksi hingga sisi ranjang. Ada satu simpul yang saya sebut sekilas namun sengaja belum saya bedah tuntas: siapa sebenarnya yang menjaga rantai itu tetap utuh setiap hari? Jawabannya bukan dokter atau perawat, melainkan sosok yang jarang muncul di ruang rawat — teknisi elektromedis dan insinyur biomedis. WHO SEARO baru saja menerbitkan jawaban atas pertanyaan itu dalam bentuk trainer’s handbook: modul pelatihan generik untuk tenaga yang mengoperasikan dan merawat peralatan oksigen serta alat respirasi (WHO SEARO, 2026b).

Bukan Sekadar Manual, Melainkan Kurikulum Lima Hari

Berbeda dari manual operasional yang sifatnya rujukan teknis, dokumen ini adalah kurikulum pelatihan utuh — lengkap dengan tujuan sesi, alokasi waktu, metode pengajaran, hingga naskah instruksi kata demi kata untuk fasilitator (WHO SEARO, 2026b). Pelatihan dirancang berlangsung lima hari kerja, diikuti maksimal 20 peserta per angkatan agar kualitas interaksi tetap terjaga (WHO SEARO, 2026b).

Lihat diagram alur pelatihan lima hari teknisi oksigen dan peralatan respirasi WHO SEARO

Diagram di atas merangkum alurnya. Hari pertama dan kedua berfokus pada sisi hulu ekosistem — teknologi produksi oksigen seperti pressure swing adsorption (PSA) dan konsentrator, disusul penyimpanan serta medical gas pipeline system (MGPS) yang mendistribusikan gas ke seluruh fasilitas. Hari ketiga bergerak ke perangkat yang bersentuhan langsung dengan pasien — CPAP, BiPAP, high-flow nasal cannula (HFNC), dan ventilator. Hari keempat menutup dengan alat pemantauan: pulsa oksimeter, monitor multiparameter, dan penganalisis gas darah arteri (ABG). Hari kelima adalah kunjungan lapangan ke fasilitas yang memiliki PSA plant, manifold, dan tangki oksigen cair yang beroperasi penuh, tempat peserta berhadapan langsung dengan tim operasional dan pemeliharaan yang sesungguhnya (WHO SEARO, 2026b).

Mengapa Pendekatan “Latih Pelatih” Ini Penting

Yang membedakan modul ini dari pelatihan konvensional adalah penekanannya pada standardisasi. Setiap sesi dilengkapi naskah instruksi eksplisit — bukan sekadar “jelaskan cara kerja konsentrator”, melainkan slide mana yang dipakai, video demonstrasi mana yang diputar, dan berapa menit dialokasikan untuk studi kasus maupun aktivitas kelompok (WHO SEARO, 2026b). Peserta diuji sebelum dan sesudah pelatihan, dengan ambang kelulusan minimal 80 persen pada uji pasca-pelatihan; peserta yang belum mencapai ambang tersebut mendapat sesi tambahan yang menyasar area lemahnya secara spesifik (WHO SEARO, 2026b).

Pendekatan ini penting karena masalah sesungguhnya bukan soal materi teknis tersedia atau tidak — video tutorial dan manual pabrikan (OEM) sudah banyak beredar — melainkan soal siapa yang mengajarkannya secara konsisten dan bagaimana kompetensi itu diukur. Modul WHO ini pada dasarnya adalah cetak biru agar satu negara bisa melatih pelatihnya sendiri, bukan bergantung selamanya pada bantuan teknis dari luar.

Kesenjangan yang Sudah Lama Diketahui: SDM Elektromedis Indonesia

Fakta yang jarang dibicarakan di luar lingkaran manajemen fasilitas kesehatan: Indonesia sebenarnya memiliki jalur pendidikan formal untuk mencetak tenaga ini. Program Diploma III dan Sarjana Terapan (D4) Teknik Elektromedik — dengan gelar lulusan S.Tr.T atau S.Tr.Tem — sudah diselenggarakan oleh sejumlah Politeknik Kesehatan Kemenkes sejak dekade 1960-an, mencetak lulusan yang berperan sebagai evaluator, teknisi, hingga teknopreneur di bidang peralatan elektromedik. Namun program studi ini sendiri secara terbuka mengakui bahwa ia “menjawab kebutuhan praktisi/teknisi kesehatan yang profesional di Indonesia, akan tetapi masih langka dan kurang peminat” — sebuah pengakuan yang jarang terdengar dari program studi kesehatan lain di Indonesia, dan justru menjadi indikator paling jujur tentang skala persoalannya.

Kesenjangan ini bukan sekadar angka pendaftar yang rendah. Ia berujung langsung pada kondisi yang saya gambarkan dalam artikel sebelumnya: konsentrator oksigen yang rusak dini hari tanpa teknisi siaga, kalibrasi yang terlewat karena tidak ada yang mengingatkan, dan alat yang dibiarkan menganggur karena staf klinis tidak percaya diri mengoperasikannya. WHO sendiri menegaskan bahwa banyak peralatan justru kurang dimanfaatkan atau dibiarkan idle bukan karena rusak, melainkan karena pengetahuan dan keterampilan pengguna yang tidak memadai (WHO SEARO, 2026b) — sebuah kalimat yang seharusnya mengubah cara kita memandang investasi alat kesehatan: alat tanpa tangan terlatih adalah aset yang tidur.

Modal yang Sudah Ada: BAPELKES dan Sertifikasi LSP

Indonesia sebenarnya tidak memulai dari nol. Pada 2021, BPFK Jakarta melalui pengampuan Balai Pelatihan Kesehatan (BAPELKES) Cikarang menjadi institusi pertama yang menyelenggarakan pelatihan kalibrasi alat kesehatan terakreditasi PPSDM Kesehatan di Indonesia, dan Lembaga Sertifikasi Personel (LSP) PPSDM Kesehatan telah menunjuk BPFK Jakarta sebagai penyelenggara sertifikasi kompetensi bagi Teknik Elektromedik (TEM). Infrastruktur kelembagaan ini — jaringan BPFK/BPAFK di berbagai provinsi, kurikulum D3/D4 Teknik Elektromedik, dan skema sertifikasi LSP — sesungguhnya adalah fondasi yang siap diisi dengan kurikulum spesifik seperti modul oksigen WHO ini, alih-alih membangun program pelatihan dari nol.

Model exposure visit pada hari kelima pelatihan WHO ini pun sebenarnya sudah punya padanan familiar di Indonesia: pola magang teknis dan bimbingan praktik yang selama ini dijalankan BPFK/BPAFK bagi rumah sakit rujukan dan rumah sakit pendidikan. Yang sering hilang bukan konsepnya, melainkan kurikulum terstandardisasi yang menghubungkan teori kelas dengan praktik lapangan secara sistematis — celah yang justru diisi persis oleh modul WHO ini.

Mengadaptasi Modul Ini untuk Fasilitas di Indonesia

Beberapa langkah konkret yang bisa diambil manajer fasilitas kesehatan dan penyelenggara pelatihan:

  • Jadikan modul ini kerangka acuan, bukan salinan mentah. Sesi-sesinya bisa dipetakan langsung ke peralatan yang benar-benar ada di fasilitas — Puskesmas dengan konsentrator dan tabung tidak perlu materi PSA plant skala rumah sakit tersier, tapi tetap membutuhkan sesi troubleshooting konsentrator secara mendalam.
  • Manfaatkan jaringan BPFK/BPAFK dan BAPELKES yang sudah terakreditasi sebagai penyelenggara, alih-alih membangun pelatihan internal tanpa standar sertifikasi yang diakui.
  • Terapkan ambang kelulusan yang terukur, bukan sekadar sertifikat kehadiran — pendekatan 80 persen pada uji pasca-pelatihan dalam modul ini adalah standar yang layak ditiru untuk memastikan kompetensi benar-benar terbentuk, bukan hanya terdokumentasi.
  • Libatkan staf klinis non-teknis dalam sesi dasar, karena WHO secara eksplisit menyasar bukan hanya insinyur biomedis, tetapi juga “personel yang bertanggung jawab atas manajemen, pemeliharaan, dan operasi” alat — kategori yang mencakup perawat dan bidan yang paling sering menjadi orang pertama menghadapi kegagalan alat.
  • Pasangkan pelatihan ini dengan rekrutmen aktif ke program D3/D4 Teknik Elektromedik, karena pelatihan sebaik apa pun tidak bisa menutupi kekurangan tenaga jika jalur masuknya sendiri sepi peminat.

Kembali ke perawat di Puskesmas Sragen dalam kisah saya sebelumnya: solusi jangka panjang bukan berharap ia lebih beruntung di malam berikutnya, melainkan memastikan ada seseorang di dekatnya — atau setidaknya bisa dihubungi dalam hitungan menit — yang tahu persis mengapa konsentrator itu mendengung, dan bagaimana memperbaikinya sebelum menjadi darurat.


Catatan Transparansi

Artikel ini disusun berdasarkan Generic training modules on oxygen/respiratory care equipment terbitan WHO Regional Office for South-East Asia (2026), sebuah dokumen kurikulum pelatihan resmi, sebagai sumber utama. Informasi tentang pendidikan Teknik Elektromedik di Indonesia bersumber dari laman resmi program studi Politeknik Kesehatan dan universitas yang menyelenggarakannya. Informasi tentang BAPELKES Cikarang dan sertifikasi LSP PPSDM Kesehatan bersumber dari laman resmi BPFK Jakarta. Bagian rekomendasi adaptasi merupakan sintesis dan interpretasi penulis, bukan kutipan langsung dari dokumen manapun. Artikel ini merupakan kelanjutan dari tulisan sebelumnya di legawa.com mengenai ekosistem oksigen medis.

Ringkasan

WHO SEARO menerbitkan modul pelatihan lima hari untuk teknisi dan insinyur biomedis pengelola peralatan oksigen. Kurikulum ini terstandardisasi, terukur, dan mengandalkan model latih-pelatih. Indonesia memiliki fondasi kelembagaan — pendidikan D3/D4 Teknik Elektromedik, jaringan BPFK/BPAFK, dan sertifikasi LSP — namun jalur pendidikannya sendiri diakui “langka dan kurang peminat”, sehingga adaptasi kurikulum WHO perlu dibarengi penguatan rekrutmen tenaga.

Referensi

World Health Organization, Regional Office for South-East Asia. (2026a). Regional manual with operating guides on respiratory care equipment and devices. New Delhi: WHO Regional Office for South-East Asia. Licence: CC BY-NC-SA 3.0 IGO.

World Health Organization, Regional Office for South-East Asia. (2026b). Generic training modules on oxygen/respiratory care equipment. New Delhi: WHO Regional Office for South-East Asia. Licence: CC BY-NC-SA 3.0 IGO.

Universitas Bali Internasional. (t.t.). Profil Program Studi Sarjana Terapan (D4) Teknik Elektromedik. http://elektromedik.unbi.ac.id/info/tentang/312/profil-farmasi-klinis.html

BPFK Jakarta. (t.t.). Bimbingan teknis dan pelatihan. https://bpfkjakarta.or.id/katalog/9

Artikel Baru Terbit

Commenting 101: “Be kind, and respect each other” // Bersikaplah baik, dan saling menghormati (Indonesian) // Soyez gentils et respectez-vous les uns les autres (French) // Sean amables y respétense mutuamente (Spanish) // 待人友善,互相尊重 (Chinese) // كونوا لطفاء واحترموا بعضكم البعض (Arabic) // Будьте добры и уважайте друг друга (Russian) // Seid freundlich und respektiert einander (German) // 親切にし、お互いを尊重し合いましょう (Japanese) // दयालु बनें, और एक दूसरे का सम्मान करें (Hindi) // Siate gentili e rispettatevi a vicenda (Italian)

Tinggalkan Balasan

Eksplorasi konten lain dari Bhyllabus l'énigme

Langganan sekarang agar bisa terus membaca dan mendapatkan akses ke semua arsip.

Lanjutkan membaca