Dalam rangka peringatan lingkungan 2011, maka Walhi Bali yang didukung oleh jaringan civil society di Bali mengadakan serangkaian acara salah satunya adalah pameran foto mengenai kerusakan lingkungan di Bali. Adapun tema nya: “Ironi [pulau] Bali; Meneropong Lingkungan hidup di Bali“.
Acara pameran foto ini sesungguhnya adalah bentuk pengaduan masyarakat tentang rusaknya lingkungan di Bali (yang selama ini diklaim sebagai the last paradise) melalui media foto dan dipamerkan yaitu di Wantilan DPRD Propinsi Bali (di sentra kekuasaan legislatif di Bali ) dari tanggal 5 juni sampai 7 juni 2011.
Semua kalangan dapat turut serta, baik fotografer profesional, amatir maupun masyarakat umum dengan pelbagai jenis kamera, termasuk kamera ponsel. Objek fotografi harus merupakan kondisi yang sesungguhnya, atau realita bukan hasil manipulasi.
Syarat lomba:
Foto hasil karya sendiri/atau milik orang lain yang telah diberikan izin untuk ditampilkan;
Peristiwa yang diabadikan dalam foto adalah mengenai lingkungan di Bali dan terutama mengenai kerusakan lingkungan baik pencemaran limbah, sampah, melanggar perda RTRW propinsi bali, seperti sempadan sungai, jurang , pantai dan lain sebagainya;
Berisi/menyertakan penjelasan lokasi obyek foto dan narasi peristiwa;
Berisi/menyertakan tanggal , bulan, tahun pengambilan;
Bagi yang mengirimkan foto diberikan pigam penghargaan dari Walhi Bali sebagai bentuk apresiasi atas partisipasinya.
Yang berminat ikut silahkan mengirimkan foto hasi jepretannya tentang kerusakan lingkungan di Bali beserta narasinya ke email office@walhibali.org, untuk info lebih jelas bisa hubungi CP (admin) : +628737439019 atau ihat di FB Gendo Suardana.
Pada 17 April 2026, Menteri Kesehatan mengeluarkan Permenkes Nomor 5 Tahun 2026 yang mengatur perbekalan kesehatan. Regulasi ini mencakup produksi dalam negeri, pengendalian harga, dan transparansi, namun masih menghadapi tantangan implementasi. Kemandirian farmasi masih rendah, dengan ketergantungan pada impor dan ketersediaan obat yang tidak memadai.
Menteri Kesehatan menerbitkan Permenkes Nomor 3 Tahun 2026 untuk konsolidasi pengaturan penanggulangan penyakit di Indonesia. Regulasi ini mencakup penanggulangan penyakit menular, tidak menular, kesehatan lingkungan, dan kesehatan matra, serta menyusun kewajiban baru bagi fasilitas kesehatan. Tantangan implementasi masih ada, terutama terkait ambang batas GGL yang belum ditetapkan.
What if the size of a dream was never the point? Through a Javanese kite-maker’s parable and voices from Rumi to Marcus Aurelius, the Gita to the Dhammapada, this essay asks whether dreaming is less a destination than a form of breathing — one we must keep doing, gently, for as long as we wish to call what we’re living a life.
WHO merilis tinjauan tentang 18 senyawa PFAS prioritas yang mencemari makanan dan air minum, serta enam kategori efek kesehatan seperti kanker dan gangguan metabolik. Makanan menjadi jalur pajanan utama. Temuan ini menunjukkan perlunya Indonesia memperkuat pemantauan PFAS untuk meningkatkan keamanan pangan dan air minum.
Evaluasi terbaru oleh JECFA (2026) menunjukkan risiko arsenik dalam makanan tidak hanya terkait kanker, tetapi juga penyakit jantung pada dosis lebih rendah. Beras menjadi sumber utama paparan, termasuk di Indonesia, di mana data dari Sulawesi Utara menunjukkan melampaui ambang aman. Perlu ada langkah kehati-hatian dan pembaruan regulasi keamanan pangan.
Commenting 101: “Be kind, and respect each other” // Bersikaplah baik, dan saling menghormati (Indonesian) // Soyez gentils et respectez-vous les uns les autres (French) // Sean amables y respétense mutuamente (Spanish) // 待人友善,互相尊重 (Chinese) // كونوا لطفاء واحترموا بعضكم البعض (Arabic) // Будьте добры и уважайте друг друга (Russian) // Seid freundlich und respektiert einander (German) // 親切にし、お互いを尊重し合いましょう (Japanese) // दयालु बनें, और एक दूसरे का सम्मान करें (Hindi) // Siate gentili e rispettatevi a vicenda (Italian)
5 tanggapan
Padly
Aku 4 kali ke Bali, yang aku lihat cuma keindahan alam dan udara yang segar karena di Surabaya sangat sangat sulit untuk mendapatkan hal tsb.
Kerusakan yang aku lihat cuma ketiadaan moral/etika dalam pergaulan sehari-hari, khususnya anak-anak muda di sekitar Kuta. Tak ada lagi budaya ketimuran kita disana, takluk oleh budaya Barat yang sangat menonjolkan vulgar-ism.
Apakah hal tsb ada sewaktu jaman I Gusti Ngurah Rai? Atau kah itu yang disebut modernisasi?
Untuk kerusakan lingkungan, aku tidak pernah memperhatikan, mungkin aku sudah terlena oleh keindahan alam Bali, sehingga tidak memperhatikan hal tsb.
Mas Padly, saya sendiri jarang ke Kuta, tidak banyak yang menarik perhatian saya secara pribadi di sana. Saya mungkin lebih memilih pergi ke Bali Botanical Garden 🙂 – setidaknya udaranya lebih segar daripada area Bali Selatan.
Jika masalah pergeseran kultural, saya tidak dapat banyak bicara. Karena saya besar di Timur, mungkin saya tidak akan pas dengan budaya Barat khususnya seperti budaya Amerika, jika Eropa saya masih bisa sedikit menyesuaikan diri, namun saya tidak bisa menempatkan diri saya sebagai pribadi yang ofensif terhadap kultur tertentu. Ketika beberapa budaya batas-batasnya saling bersinggungan, maka bisa terjadi asimilasi, ataupun eleminasi.
Yah, kita bisa menyebutkan sebagai zaman modern, di mana unsur-unsur global semakin tampak nyata mengalami penyempitan ruang karena mobilisasi masyarakat yang luar biasa, baik secara nyata maupun secara maya. Dan mereka membawa kultur mereka ke tempat-tempat yang kini disinggahi. Kalau tempo dulu budaya Bali banyak mendapatkan sentuhan dari budaya India, Cina dan Belanda, kini mungkin dengan budaya negara-negara Barat. Tidak hanya Bali, kota-kota di Indonesia yang mengalami arus deras sentuhan modernisasi juga mengalami hal serupa.
Ini bukanlah sesuatu yang dapat kita halang-halangi, masyarakat selayaknya dibangun di atas kesadaran yang utuh, bukan paksaan 🙂 – kita hanya mewariskan kebijaksanaan kita yang sempit pada dunia yang luas ini, saya tidak berharap negeri ini kehilangan budayanya, karena Indonesia akan indah seperti halnya Indonesia yang kita kenal dengan ragam budayanya. Sehingga biarkanlah generasi ini memilih dengan kesadarannya sendiri, apakah akan tetap berjalan pada budayanya, ataukah akan menemukan sesuatu yang baru. Kita hanya dapat berharap bahwa sebuah generasi akan cukup bijak untuk membuat pilihannya.
Mas Padly, kalau untuk sampah, rasanya tidak mungkin sih para wisatawan akan digiring ke lokasi yang banyak sampahnya :D.
Ndak Pak Jarwadi, saya baru rencana balik ke Bali pertengahan bulan depan, jadi tidak sempat membuat foto-foto, tapi bisa jadi ini ide yang bagus untuk saya tulis di blog, meski saya tidak turut lombanya.
Tinggalkan Balasan