A Cahya Legawa's Les pèlerins au-dessus des nuages

Desktop Gnome memiliki pembaca berkas bentuk portabel (PDF – Portabel Data Format) yang dikenal sebagai Evince. Saya suka karena Evince sederhana, namun entah mengapa ada sesuatu yang terasa kurang, misalnya Evince kadang tersendat-sendat. Beberapa mengatakan, Evince memang demikian, tentu saja pembanding mereka biasanya adalah MuPDF yang memang terkenal ringan dan kencang. Lalu apa ada alternatif lain? Saya berpikir mencoba Foxit Reader versi gratis untuk Linux.

Versi gratis Foxit Reader tersedia di halaman resmi mereka, tinggal pilih mengunduh, situs mereka akan mengarahkan pada versi yang sesuai (misalnya Linux 64-bit).

Perlu digaris-bawahi bahwa saya menggunakan openSUSE Leap 64-bit untuk Gnome ini. Tidak ada berkas pemasangan bentuk DEB ataupun RPM yang disediakan oleh Foxit, hanya sebuah berkas RUN yang diarsip ke dalam bentuk TAR.GZ.

Ketika berkas pemasangan berjenis RUN sudah dikeluarkan (ekstraksi), maka tinggal dijalankan dan Foxit Reader akan terpasang dengan sendirinya. Mekanisme ini mirip seperti memasang perangkat lunak di Windows.

Foxit Reader pada Linux
Tampilan Foxit Reader pada Desktop Gnome

Dari segi fitur yang ditawarkan (sebagai penampil dokumen bentuk PDF), saya tidak banyak melihat alasan mengapa Foxit Reader bisa menggantikan Evince – karena aktivitas utama saya kebanyakan hanya membuka dan mengulas berkas-berkas dalam bentuk PDF.

Sebenarnya saya ingin produk yang benar-benar terintegrasi dalam dekstop Gnome, misalnya mampu mengisi sisi layar terpisah (split screen) dengan otomatis. Hanya saja, baik Evince dan Foxit Reader, keduanya tidak mampu untuk itu.

Sisi baiknya adalah, font rending oleh Foxit Reader sepertinya lebih ramah di mata pengguna dibandingkan dengan Evince. Di sisi ini, ya saya akan memilih Foxit Reader – walau merupakan produk proprietary. Bagi mereka yang sering membuka dan mengakses berkas PDF di desktop Linux, maka saya bisa katakan Foxit Reader layak dijadikan salah satu aplikasi alternatif.

Artikel Baru Terbit

  • Ketika Diabetes Mengancam Penglihatan: Mengenal Retinopati Diabetik
    Retinopati diabetik adalah komplikasi mikrovaskular diabetes yang dapat merusak penglihatan tanpa gejala awal. Prevalensinya di Indonesia berkisar 10–32%, dengan satu dari empat pasien berisiko mengalami kondisi mengancam penglihatan. Skrining fundus rutin, kontrol glikemik ketat, serta terapi laser atau anti-VEGF menjadi kunci mencegah kebutaan akibat diabetes.
  • Ketika Diabetes Menjadi Kegawatdaruratan: Mengenal Ketoasidosis Diabetik
    Ketoasidosis diabetik adalah kegawatdaruratan metabolik diabetes melitus berupa trias hiperglikemia, ketonemia, dan asidosis, dipicu terutama oleh infeksi atau penghentian insulin. Tata laksana berpusat pada terapi cairan, insulin intravena kontinu, dan koreksi kalium, dengan pemantauan ketat untuk mencegah hipoglikemia, hipokalemia, dan komplikasi mengancam nyawa lainnya.
  • Bukan Sekadar Pikun: Menyimak Pedoman Nasional Tata Laksana Demensia 2026
    Pedoman Nasional Pelayanan Klinis (PNPK) Tata Laksana Demensia 2026 memberikan panduan untuk penanganan demensia di Indonesia. Dengan jumlah penderita yang diproyeksi meningkat, pedoman ini mencakup diagnosis, penanganan, dan strategi pencegahan. Kaya akan rekomendasi medis, hal ini penting untuk memastikan perawatan yang efektif bagi pasien demensia.
  • Satu Kali Kejang, Lalu Apa? Membaca Pedoman Nasional Tata Laksana Epilepsi Dewasa 2026
    Kejang pertama pada orang dewasa tidak otomatis berarti epilepsi, tetapi tidak boleh diabaikan. Artikel ini merangkum Pedoman Nasional Pelayanan Klinis epilepsi dewasa 2026: cara membedakan kejang dari pingsan, pertolongan pertama yang benar, peran pemeriksaan penunjang, prinsip terapi, hingga tantangan stigma dan akses obat di Indonesia. Untuk awam dan tenaga kesehatan.
  • Sang Peniru Ulung yang Bisa Diobati: Membaca Pedoman Nasional Tata Laksana Sifilis
    Indonesia kini memiliki Pedoman Nasional Pelayanan Klinis Tata Laksana Sifilis (KMK 291/2026). Artikel ini merangkum stadium penyakit, alur tes serologi, terapi penisilin, tindak lanjut, penanganan pasangan, serta perlindungan ibu hamil dan bayi, disertai catatan kritis agar fasilitas kesehatan, dari Puskesmas hingga rumah sakit rujukan, siap menerapkannya dengan aman dan konsisten.

Commenting 101: “Be kind, and respect each other” // Bersikaplah baik, dan saling menghormati (Indonesian) // Soyez gentils et respectez-vous les uns les autres (French) // Sean amables y respétense mutuamente (Spanish) // 待人友善,互相尊重 (Chinese) // كونوا لطفاء واحترموا بعضكم البعض (Arabic) // Будьте добры и уважайте друг друга (Russian) // Seid freundlich und respektiert einander (German) // 親切にし、お互いを尊重し合いましょう (Japanese) // दयालु बनें, और एक दूसरे का सम्मान करें (Hindi) // Siate gentili e rispettatevi a vicenda (Italian)

2 tanggapan

  1. Avatar gadgetboi

    dulu juga zaman XP lebih suka foxit karena adobe selain makan resource, juga hobinya update hehehe … zaman fakir benwit menggunakan app banyak lubang keamanan itu melelahkan. foxit juga menemani saya ketika belum menggunakan android. karena cuman foxit yang mensupport symbian UIQ3 punya sonny ericsson W950 dan M610i saya 😀 … sekarang malah saya lebih suka sumatra untuk di windows LOL … kalau untuk di Linux hanya mengandalkan default …

    1. Avatar Cahya

      Kenapa lebih memilih Sumatra Om?

Tinggalkan Balasan

Eksplorasi konten lain dari Bhyllabus l'énigme

Langganan sekarang agar bisa terus membaca dan mendapatkan akses ke semua arsip.

Lanjutkan membaca