A Cahya Legawa's Les pèlerins au-dessus des nuages

Sebagai salah satu pengguna Linux, saya sudah mengalami banyak distribusi sistem operasi Linux muncul dan tumbang, beberapa di antaranya cukup bagus. Antergos Linux Project merupakan distribusi pertama yang membuat saya berani mencicipi Arch Linux sekitar lima tahun yang lalu. Saat itu Antergos lebih menarik dibandingkan Manjaro bagi saya, dan saya mengalami masa-masa yang menyenangkan bersama sebuah distribusi rolling-release. Komunitas yang kecil namun antusias sangat membantu dalam banyak hal benar-benar membuat betah mencoba sesuatu yang serba baru. Tapi kini Antergos telah tutup usia.

Dalam rilis resmi di blog Antergos, pengembang Antergos menyatakan tidak dapat memberi perhatian lebih banyak lagi untuk proyek ini, dan membiarkannya terbengkalai akan tidak memuaskan komunitas. Dan pengguna tidak perlu khawatir, karena akan ada pembaruan ke depan yang memberikan penghapusan terhadap seluruh unsur Antergos, dan memberikan Arch tanpa Antergos pada pengguna.

Seberapa banyak pengguna Antergos? Mungkin tidak terlalu banyak, dengan hampir satu juta unduhan berkas ISO sepanjang lima tahun, tidak bisa dibilang sebagai pengguna yang besar. Tapi bukankah itu sangat baik bagi sebuah proyek yang dimulai sebagai hobi?

Pada pertengahan dasawarsa pertama abad ke-21, antusiasme pengguna distribusi Linux meningkat. Mungkin ada yang pernah ingat bahkan Ubuntu pernah mengapalkan secara cuma-cuma distribusi Linux mereka seluruh dunia bagi yang berminat. Proyek-proyek distribusi kecil berbasis Ubuntu kemudian bermunculan, walau sedikit yang bertahan dan populer sampai sekarang seperti Mint, elementary, deepin, dan Zorin.

Sejumlah pengguna yang telah tumbuh dan memasuki dunia kerja, mungkin tidak lagi menggunakan Linux, seperti saya misalnya yang beralih menggunakan Windows. Tapi antusias tidak berubah, bahkan distribusi baru bermunculan, sebut saja seperi MX Linux yang berbasis Debian atau Solus yang berdikari, mereka sebelumnya tidak muncul pada era di mana saya pertama kali berjabat tangan dengan Linux.

Saya mengucapkan terima kasih pengembang dan komunitas Antergos, serta mengucapkan selamat tinggal kepada proyek yang baik ini. Bagi distribusi yang masih bernapas kuat, live long and prosper!

← Kembali

Terima kasih atas tanggapan Anda. ✨

Rating(wajib)

Artikel Baru Terbit

  • Permenkes Perbekalan Kesehatan 2026: Antara Visi Kemandirian dan Realitas Akses Obat di Lapangan
    Pada 17 April 2026, Menteri Kesehatan mengeluarkan Permenkes Nomor 5 Tahun 2026 yang mengatur perbekalan kesehatan. Regulasi ini mencakup produksi dalam negeri, pengendalian harga, dan transparansi, namun masih menghadapi tantangan implementasi. Kemandirian farmasi masih rendah, dengan ketergantungan pada impor dan ketersediaan obat yang tidak memadai.
  • Permenkes Penanggulangan Penyakit 2026: Satu Payung Hukum, Berlapis Konsekuensi bagi Fasilitas Kesehatan
    Menteri Kesehatan menerbitkan Permenkes Nomor 3 Tahun 2026 untuk konsolidasi pengaturan penanggulangan penyakit di Indonesia. Regulasi ini mencakup penanggulangan penyakit menular, tidak menular, kesehatan lingkungan, dan kesehatan matra, serta menyusun kewajiban baru bagi fasilitas kesehatan. Tantangan implementasi masih ada, terutama terkait ambang batas GGL yang belum ditetapkan.
  • The Dream That Keeps Breathing
    What if the size of a dream was never the point? Through a Javanese kite-maker’s parable and voices from Rumi to Marcus Aurelius, the Gita to the Dhammapada, this essay asks whether dreaming is less a destination than a form of breathing — one we must keep doing, gently, for as long as we wish to call what we’re living a life.
  • PFAS di Meja Makan: Apa yang Diungkap Tinjauan Lanskap WHO tentang “Bahan Kimia Abadi” yang Kita Telan
    WHO merilis tinjauan tentang 18 senyawa PFAS prioritas yang mencemari makanan dan air minum, serta enam kategori efek kesehatan seperti kanker dan gangguan metabolik. Makanan menjadi jalur pajanan utama. Temuan ini menunjukkan perlunya Indonesia memperkuat pemantauan PFAS untuk meningkatkan keamanan pangan dan air minum.
  • Nasi di Piring, Racun yang Tak Terlihat: Apa Kata Evaluasi Terbaru WHO/FAO tentang Arsenik dalam Makanan
    Evaluasi terbaru oleh JECFA (2026) menunjukkan risiko arsenik dalam makanan tidak hanya terkait kanker, tetapi juga penyakit jantung pada dosis lebih rendah. Beras menjadi sumber utama paparan, termasuk di Indonesia, di mana data dari Sulawesi Utara menunjukkan melampaui ambang aman. Perlu ada langkah kehati-hatian dan pembaruan regulasi keamanan pangan.

Commenting 101: “Be kind, and respect each other” // Bersikaplah baik, dan saling menghormati (Indonesian) // Soyez gentils et respectez-vous les uns les autres (French) // Sean amables y respétense mutuamente (Spanish) // 待人友善,互相尊重 (Chinese) // كونوا لطفاء واحترموا بعضكم البعض (Arabic) // Будьте добры и уважайте друг друга (Russian) // Seid freundlich und respektiert einander (German) // 親切にし、お互いを尊重し合いましょう (Japanese) // दयालु बनें, और एक दूसरे का सम्मान करें (Hindi) // Siate gentili e rispettatevi a vicenda (Italian)

3 tanggapan

  1. Avatar anonim
    anonim

    Suatu usaha 5 tahun yang menakjubkan untuk terus mengembangkan, mungkin aku ini akan menjadi tinjaun ku kedepan untuk racikan ku. Terima kasih , untung postingan ini.

  2. Avatar Layangseta

    ah satu per satu tumbang

    1. Avatar ꦕꦃꦪꦭꦼꦒꦮ

      Sedih memang, tapi mau bagaimana lagi, kadang hobi tidak selalu menguntungkan pengembang.

Tinggalkan Balasan

Eksplorasi konten lain dari Bhyllabus l'énigme

Langganan sekarang agar bisa terus membaca dan mendapatkan akses ke semua arsip.

Lanjutkan membaca