A Cahya Legawa's Les pèlerins au-dessus des nuages

Sebagai salah satu pengguna Linux, saya sudah mengalami banyak distribusi sistem operasi Linux muncul dan tumbang, beberapa di antaranya cukup bagus. Antergos Linux Project merupakan distribusi pertama yang membuat saya berani mencicipi Arch Linux sekitar lima tahun yang lalu. Saat itu Antergos lebih menarik dibandingkan Manjaro bagi saya, dan saya mengalami masa-masa yang menyenangkan bersama sebuah distribusi rolling-release. Komunitas yang kecil namun antusias sangat membantu dalam banyak hal benar-benar membuat betah mencoba sesuatu yang serba baru. Tapi kini Antergos telah tutup usia.

Dalam rilis resmi di blog Antergos, pengembang Antergos menyatakan tidak dapat memberi perhatian lebih banyak lagi untuk proyek ini, dan membiarkannya terbengkalai akan tidak memuaskan komunitas. Dan pengguna tidak perlu khawatir, karena akan ada pembaruan ke depan yang memberikan penghapusan terhadap seluruh unsur Antergos, dan memberikan Arch tanpa Antergos pada pengguna.

Seberapa banyak pengguna Antergos? Mungkin tidak terlalu banyak, dengan hampir satu juta unduhan berkas ISO sepanjang lima tahun, tidak bisa dibilang sebagai pengguna yang besar. Tapi bukankah itu sangat baik bagi sebuah proyek yang dimulai sebagai hobi?

Pada pertengahan dasawarsa pertama abad ke-21, antusiasme pengguna distribusi Linux meningkat. Mungkin ada yang pernah ingat bahkan Ubuntu pernah mengapalkan secara cuma-cuma distribusi Linux mereka seluruh dunia bagi yang berminat. Proyek-proyek distribusi kecil berbasis Ubuntu kemudian bermunculan, walau sedikit yang bertahan dan populer sampai sekarang seperti Mint, elementary, deepin, dan Zorin.

Sejumlah pengguna yang telah tumbuh dan memasuki dunia kerja, mungkin tidak lagi menggunakan Linux, seperti saya misalnya yang beralih menggunakan Windows. Tapi antusias tidak berubah, bahkan distribusi baru bermunculan, sebut saja seperi MX Linux yang berbasis Debian atau Solus yang berdikari, mereka sebelumnya tidak muncul pada era di mana saya pertama kali berjabat tangan dengan Linux.

Saya mengucapkan terima kasih pengembang dan komunitas Antergos, serta mengucapkan selamat tinggal kepada proyek yang baik ini. Bagi distribusi yang masih bernapas kuat, live long and prosper!

Artikel Baru Terbit

  • Mitos Kesehatan Jiwa yang Masih Dipercaya: Membedah Stigma di Balik Fakta
    Mitos seputar kesehatan jiwa—dari anggapan bahwa gangguan jiwa langka hingga stigma “gila” pada skizofrenia—masih membebani masyarakat Indonesia. Data SKI 2023 mengungkap kesenjangan akses pengobatan yang lebar dan praktik pemasungan yang bertahan. Artikel ini membedah sebelas mitos populer dengan bukti ilmiah dan konteks kebijakan kesehatan jiwa nasional.
  • Berapa Jam Sebenarnya Kita Butuh Tidur? Lima Mitos yang Perlu Diluruskan
    Kebutuhan tidur bervariasi berdasarkan usia dan individu, bukan sekadar “8 jam”. Tubuh tidak dapat dilatih untuk butuh tidur lebih sedikit. Tidur siang singkat 10–20 menit justru bermanfaat. Tidak semua hewan tidur seperti manusia. Terlalu banyak tidur juga berisiko. Dan meski kurang tidur jarang membunuh langsung, microsleep akibatnya menewaskan ribuan orang di jalan Indonesia setiap tahun.
  • Gula Darah Tinggi yang Diam-Diam Merusak: Memahami Diabetes Melitus Tipe 2
    Diabetes melitus tipe 2 menyerang diam-diam—hanya satu dari 4-5 penyandang di Indonesia yang menyadari kondisinya. Artikel ini membahas patofisiologi resistansi insulin, kriteria diagnosis PERKENI, peran SGLT2 inhibitor dan GLP-1 receptor agonist dalam terapi terkini, serta kesenjangan akses pembiayaan JKN/BPJS terhadap golongan obat baru tersebut.
  • Empat Pembaruan Kunci Pedoman Malaria WHO 2026: Apa yang Berubah dan Apa Artinya bagi Indonesia
    WHO mengeluarkan pembaruan pedoman malaria pada September 2026, mencakup empat perubahan penting: pencegahan malaria pada ibu hamil dengan HIV, batas penggunaan primakuin dosis tunggal, formulasi baru artemether-lumefantrine untuk bayi <5 kg, serta peninjauan jadwal vaksin. Pembaruan ini relevan untuk Indonesia, khususnya Papua sebagai daerah berisiko tinggi.
  • Vaksin RSV untuk Ibu Hamil: Ketika Antibodi Ibu Jadi Perisai Pertama Bayi
    Vaksin RSV maternal (Abrysvo) terbukti menurunkan risiko penyakit saluran napas bawah berat pada bayi hingga 90% dalam 90 hari pertama bila diberikan pada minggu ke-28–36 kehamilan. WHO baru mengesahkan vial multidosisnya untuk memperluas akses global. Di Indonesia, vaksin ini sudah terdaftar BPOM namun belum masuk program nasional.

Commenting 101: “Be kind, and respect each other” // Bersikaplah baik, dan saling menghormati (Indonesian) // Soyez gentils et respectez-vous les uns les autres (French) // Sean amables y respétense mutuamente (Spanish) // 待人友善,互相尊重 (Chinese) // كونوا لطفاء واحترموا بعضكم البعض (Arabic) // Будьте добры и уважайте друг друга (Russian) // Seid freundlich und respektiert einander (German) // 親切にし、お互いを尊重し合いましょう (Japanese) // दयालु बनें, और एक दूसरे का सम्मान करें (Hindi) // Siate gentili e rispettatevi a vicenda (Italian)

3 tanggapan

  1. Avatar anonim
    anonim

    Suatu usaha 5 tahun yang menakjubkan untuk terus mengembangkan, mungkin aku ini akan menjadi tinjaun ku kedepan untuk racikan ku. Terima kasih , untung postingan ini.

  2. Avatar Layangseta

    ah satu per satu tumbang

    1. Avatar ꦕꦃꦪꦭꦼꦒꦮ

      Sedih memang, tapi mau bagaimana lagi, kadang hobi tidak selalu menguntungkan pengembang.

Tinggalkan Balasan

Eksplorasi konten lain dari Bhyllabus l'énigme

Langganan sekarang agar bisa terus membaca dan mendapatkan akses ke semua arsip.

Lanjutkan membaca